Gucci identik dengan kemewahan dan simbol mode kelas atas. Merek fashion ini, yang didirikan oleh Guccio Gucci di Florence pada tahun 1921, bermula dari usaha kecil produk kulit berkualitas tinggi yang terinspirasi dari kemewahan hotel tempat ia bekerja di London.
Di balik citra glamornya, Gucci ternyata menyimpan cerita keluarga yang kelam. Perebutan kekuasaan, skandal hukum, bahkan pembunuhan menjadikan Gucci bukan sekadar merek fashion, melainkan salah satu narasi paling dramatis dalam sejarah industri ini. Kisah ini bahkan diangkat ke layar lebar melalui film House of Gucci yang dibintangi Lady Gaga dan Adam Driver.
Skandal Penggelapan Pajak
Setelah Guccio Gucci berpulang, bisnis Gucci dilanjutkan oleh putranya, Aldo Gucci. Menjabat sebagai ketua sejak tahun 1950-an, Aldo sukses membawa Gucci menjadi lambang kemewahan internasional dengan memperkuat identitas monogram “GG” dan memperluas pasarnya ke kalangan jetsetter dunia. Salah satu pelanggan paling ikonik adalah Jacqueline Kennedy Onassis, yang bahkan menginspirasi lahirnya Jackie Bag pada 1961.
Namun, di balik kesuksesan tersebut, terdapat keretakan dalam keluarga asal Italia ini. Pada tahun 1986, Aldo terjerat kasus penggelapan pajak di Amerika Serikat yang membuatnya mendekam di balik jeruji besi selama satu tahun.
Baca juga: Aktris Lee Ho Jung Dikabarkan Bakal Muncul Lagi di Drakor Moving Season 2
[Gambas:Instagram]
Perebutan Kekuasaan di Dalam Keluarga
Penangkapan Aldo Gucci kabarnya dilaporkan oleh anaknya sendiri, Paolo. Hal ini diawali dari pertengkaran Paolo dengan pamannya, Rodolfo Gucci, yang membuatnya keluar dan mendirikan bisnis fashion sendiri. Tindakan ini membuat ayahnya mengambil langkah hukum dan juga mengancam para pemasok agar tidak bekerja sama dengan Paolo.
Perebutan kekuasaan dimenangkan oleh Maurizio Gucci, putra Rodolfo Gucci. Kemenangan ini terjadi setelah Maurizio menempuh jalur hukum untuk merebut kendali Aldo dari perusahaan milik kakeknya tersebut.
Hilangnya Kendali Keluarga
Maurizio Gucci berhasil mengambil alih kendali perusahaan setelah melalui berbagai perselisihan hukum. Ia kemudian berupaya mengukuhkan kekuasaannya dengan menyingkirkan anggota keluarga lain dari bisnis tersebut.
Namun, kepemimpinannya dinilai kurang efektif. Keputusan finansial yang tidak tepat membuat kondisi perusahaan memburuk hingga akhirnya ia menjual saham Gucci kepada investor asal Bahrain, Investcorp. Langkah ini menjadi titik balik besar karena untuk pertama kalinya Gucci sepenuhnya lepas dari genggaman keluarga pendirinya.
Gucci kini telah menjadi bagian dari grup mewah global Kering. Di bawah kepemilikan Kering, merek fashion ini justru mengalami kebangkitan signifikan dan berkembang menjadi salah satu merek paling berpengaruh di dunia mode modern.
Tragedi Pembunuhan Maurizio Gucci
Puncak dari kisah kelam ini terjadi pada tahun 1995, ketika Maurizio Gucci tewas ditembak di Milan. Kasus ini mengejutkan dunia, terutama setelah terungkap bahwa otak di balik pembunuhan tersebut adalah mantan istrinya sendiri, Patrizia Reggiani.
Dalam wawancara dengan The Guardian, Patrizia mengungkapkan, “Saya sangat marah pada Maurizio karena banyak hal. Tapi di atas itu, kehilangan bisnis keluarganya. Benar-benar bodoh dan keliru. Aku jadi dipenuhi amarah,” ujarnya. Selain itu, kehadiran orang ketiga dalam kehidupan Maurizio juga disebut menjadi salah satu pemicu kuat di balik keputusan tragis tersebut.
Peristiwa ini tidak hanya menjadi tragedi pribadi, tetapi juga memperkuat citra kelam keluarga Gucci di mata publik. Kisah dramatis ini pula yang kemudian menjadi inspirasi utama dalam film House of Gucci.
[Gambas:Instagram]
