Skincapedia.com – Ibadah kurban menjadi momen penting saat Iduladha, yang identik dengan hidangan lezat dari daging sapi dan kambing. Aneka olahan seperti sate, gulai, tongseng, hingga rendang selalu dinanti untuk disantap bersama keluarga.
Meskipun kaya akan protein dan nutrisi penting, konsumsi daging kurban tetap memerlukan perhatian khusus. Terutama jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan dalam waktu singkat, daging merah dapat memicu masalah kesehatan pada sebagian orang.
Kandungan lemak jenuh, kolesterol, dan protein yang tinggi dapat membebani tubuh jika tidak disesuaikan dengan kondisi kesehatan individu. Oleh karena itu, ada beberapa kelompok orang yang disarankan untuk membatasi konsumsi daging kurban. Berikut adalah daftar tersebut, merujuk pada Eat This.
Kurban merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan pada hari raya Iduladha. Tak heran, momen ini selalu identik dengan hidangan berbahan dasar daging sapi maupun kambing yang menggugah selera. Mulai dari sate, gulai, tongseng, hingga rendang sering menjadi menu favorit yang disantap bersama keluarga.
Meski kaya protein dan nutrisi penting, konsumsi daging kurban tetap perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan masalah kesehatan, terutama bila dikonsumsi berlebihan dalam waktu singkat. Pada sebagian orang, terlalu banyak makan daging merah dapat memicu gangguan kesehatan tertentu.
Kandungan lemak jenuh, kolesterol, hingga protein yang cukup tinggi bisa menjadi beban bagi tubuh apabila tidak disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing. Karena itu, ada beberapa kelompok orang yang sebaiknya batasi konsumsi daging kurban. Melansir Eat This, simak daftarnya berikut ini!
1. Orang dengan Kolesterol Tinggi

Penderita kolesterol tinggi perlu berhati-hati saat mengonsumsi daging kurban. Daging merah, terutama yang berlemak, dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Konsumsi berlebihan berisiko memperbesar penyumbatan pembuluh darah dan penyakit jantung.
Ahli Gizi, Roxana Ehsani, menjelaskan bahwa daging merah dapat memperburuk kondisi kolesterol yang sudah tinggi. Oleh karena itu, penderita kolesterol tinggi disarankan membatasi konsumsi daging merah hanya satu hingga dua kali sebulan, serta memilih potongan rendah lemak seperti sirloin atau filet mignon.
2. Orang dengan Sindrom Alpha-Gal

Sindrom Alpha-gal adalah alergi terhadap daging merah yang dipicu oleh molekul gula galaktosa-α-1,3-galaktosa. Kondisi ini umumnya muncul setelah gigitan kutu Lone Star dan dapat menimbulkan reaksi serius setelah mengonsumsi daging sapi, kambing, atau mamalia lainnya.
Gejala yang muncul bisa berupa gatal-gatal, mual, muntah, sakit perut hebat, hingga pembengkakan bibir dan tenggorokan. Dalam kasus tertentu, reaksi alergi dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang berbahaya. Penderita Sindrom Alpha-gal sebaiknya benar-benar menghindari daging kurban.
3. Orang dengan Penyakit Jantung

Baca juga: Tempat Tenang di Bandung, Cocok untuk Melepas Penat
Bagi penderita penyakit jantung, konsumsi daging merah berlebihan dapat meningkatkan risiko komplikasi serius. Lemak jenuh dalam daging merah dapat mempercepat penumpukan plak di pembuluh darah, terutama jika pola makan tidak dijaga.
Roxana Ehsani menjelaskan bahwa penderita penyakit jantung umumnya sudah memiliki penyempitan pembuluh darah akibat plak. Peningkatan asupan lemak jenuh dapat memperbesar risiko stroke maupun serangan jantung. Oleh karena itu, mereka disarankan memilih sumber protein rendah lemak dan membatasi konsumsi daging kurban.
4. Penderita Penyakit Ginjal Stadium Lanjut

Ginjal berfungsi menyaring limbah dan zat sisa metabolisme tubuh. Pada penderita penyakit ginjal stadium lanjut, fungsi ini menurun, sehingga asupan protein berlebihan dapat memperberat kerja ginjal.
Diet tinggi protein saat ginjal tidak berfungsi optimal bisa lebih berbahaya daripada bermanfaat. Penderita penyakit ginjal stadium 3 hingga 5 biasanya dianjurkan membatasi konsumsi protein sesuai kondisi tubuh. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi sangat penting untuk memastikan konsumsi daging tetap aman.
5. Orang dengan Faktor Risiko Penyakit Jantung

Individu dengan faktor risiko penyakit jantung seperti hipertensi, diabetes, obesitas, atau gaya hidup sedentari sebaiknya tidak berlebihan mengonsumsi daging kurban. Kelompok ini lebih rentan mengalami gangguan pembuluh darah dan metabolisme jika pola makan tidak terjaga.
Menurut Roxana Ehsani, orang dengan kondisi tersebut lebih baik memperbanyak sumber protein rendah lemak seperti ikan, dada ayam, kacang-kacangan, atau lentil. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan protein tanpa meningkatkan risiko penyakit jantung akibat lemak jenuh berlebihan.
6. Orang dengan Riwayat Keluarga Kanker Tertentu

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi daging merah dan daging olahan dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal atau kanker usus besar. Risiko ini menjadi perhatian khusus bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit serupa.
Roxana Ehsani menyebutkan adanya penelitian yang menemukan kaitan antara daging merah dengan kerusakan genetik yang dapat memicu kanker usus besar. Oleh karena itu, kelompok dengan faktor risiko genetik dianjurkan lebih bijak mengatur pola makan dan tidak mengonsumsi daging merah secara berlebihan, terutama dalam jangka panjang.
Demikianlah beberapa kelompok orang yang sebaiknya membatasi konsumsi daging kurban. Meskipun daging memiliki manfaat sebagai sumber protein dan zat besi, konsumsinya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh. Membatasi porsi, memilih bagian rendah lemak, serta mengimbanginya dengan sayur dan buah dapat membantu menjaga kesehatan selama perayaan Iduladha.
