Kemerosotan semangat hidup tidak selalu bermanifestasi sebagai kesedihan yang kentara. Sering kali, kondisi ini terselubung di balik pernyataan-pernyataan sederhana yang kita lontarkan setiap hari. Perubahan ini mungkin luput dari kesadaran, namun secara psikologis dapat mengindikasikan penurunan energi emosional yang substansial.
Memahami kondisi ini krusial untuk mengenali keadaan orang di sekitar maupun diri sendiri. Berdasarkan tinjauan pakar psikologi dari Bolde, The Healthy, dan Parade, berikut adalah ungkapan yang kerap dilontarkan oleh seseorang yang sedang mengalami kemerosotan semangat hidup.
1. “Mungkin Nanti”
Indikasi awal seseorang mulai kehilangan semangat hidup kerap terlihat saat mereka sering melontarkan “mungkin nanti” untuk aktivitas yang sebelumnya rutin dan mereka nikmati.
Profesor psikologi di James Madison University, Greg Henriques, menguraikan adanya “lingkaran setan” antara penghindaran dan motivasi. Semakin jarang seseorang terlibat dalam kegiatan yang menyenangkan, semakin sedikit pula energi dan ketertarikan yang mereka miliki untuk melakukannya kembali.
Baca juga: Perkara yang Sering Mengganjal Pikiran Generasi Z
Penarikan diri yang bertahap ini dapat semakin mengikis motivasi, hingga akhirnya kata “nanti” berubah menjadi “tidak pernah”. Sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Ramsey, seorang psikolog, ungkapan tersebut juga mencerminkan keyakinan bahwa mereka sudah terlambat untuk memulai kembali, yang secara implisit membatasi kemajuan diri. Setiap penolakan kecil yang dilakukan akan membuat mereka semakin sulit untuk kembali terlibat dalam kehidupan sehari-hari.
2. “Aku Lelah”
Individu yang sedang kehilangan semangat hidup mulai memiliki kebiasaan membatalkan rencana di saat-saat terakhir dengan dalih “aku lelah”. Meskipun terdengar wajar, pembatalan yang terlalu sering mengisyaratkan bahwa interaksi sosial mulai terasa membebani.
Padahal, menurut Greater Good Science Center di UC Berkeley, hubungan sosial yang erat merupakan faktor utama yang berkontribusi pada kepuasan hidup jangka panjang. Ketika seseorang semakin sedikit mengikuti berbagai pengalaman, semakin kecil pula peluang mereka untuk terhubung kembali dengan energi yang timbul dari kebersamaan dengan orang lain.
Psikolog, Deborah Serani, yang juga penulis buku Living with Depression, menambahkan bahwa kelelahan yang dialami baik secara fisik maupun emosional berhubungan dengan peradangan yang memengaruhi jalur saraf. Akibatnya, aktivitas sehari-hari yang sederhana seperti bangkit dari tempat tidur bisa terasa membutuhkan usaha yang luar biasa besar.
3. “Bagus” atau “Keren”
Kemerosotan semangat hidup juga tercermin dari reaksi mereka yang cenderung datar atau netral terhadap kabar baik. Saat mendengar berita menggembirakan, mereka hanya akan merespons dengan ungkapan singkat seperti “bagus” atau “keren” tanpa rasa ingin tahu atau antusiasme.
Psikolog, Dr. Dixon, menjelaskan bahwa ungkapan ketidakpedulian ini sering kali berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri. Dengan bersikap datar, seseorang berupaya melindungi diri dari potensi kekecewaan, meskipun hal ini dapat memicu rasa apati yang semakin menjauhkan mereka dari antusiasme hidup. Keterlibatan emosional mulai dianggap sebagai hal yang tidak lagi relevan atau terlalu menguras energi mental.
4. “Terserah”
Mereka juga mulai memperlakukan hal-hal yang dulunya penting menjadi seolah-olah tidak lagi memiliki arti. Musik, perayaan, atau gagasan yang dulunya membangkitkan semangat, kini hanya disambut dengan respons ketidakpedulian seperti “terserah”.
Sebagaimana disampaikan Dr. Slavens, seorang psikolog yang ahli dalam pengasuhan anak dan pascapersalinan, ketika investasi emosional menghilang, pilihan-pilihan kecil sehari-hari yang seharusnya membentuk arah hidup menjadi sia-sia. Akibatnya, hubungan seseorang dengan lingkungannya pun semakin melemah. Reaksi terhadap nilai-nilai, minat, dan keyakinan pribadi mereka menjadi datar dan tidak lagi mampu membangkitkan sesuatu dalam diri mereka.
5. “Aku Tidak Ingin Melakukannya”
Munculnya ucapan ini terhadap aktivitas yang dulunya sangat disukai merupakan ciri khas penarikan diri secara emosional. Psikolog Deborah Serani menggambarkan kondisi ini sebagai situasi yang menguras energi dan aspek positif dalam diri seseorang.
Secara biologis, perasaan mati rasa ini berkaitan dengan disfungsi pada sistem reward di otak yang menghambat pelepasan zat kimia yang menimbulkan perasaan senang. Kondisi inilah yang membuat segala sesuatu terasa hambar.
