Saat Harga Premium Menjadi Daya Tarik – Dunia kuliner di tanah air seolah tidak pernah kehabisan inovasi. Setiap harinya, selalu muncul tren makanan baru yang unik dan menggugah selera, menjadikannya ladang bisnis yang sangat menjanjikan. Tidak hanya pelaku usaha konvensional, para influencer TikTok pun kini ramai-ramai terjun ke dunia kuliner, menawarkan produk mulai dari camilan ringan hingga makanan beku.
Namun, ada satu fenomena menarik di balik kesuksesan bisnis para kreator ini. Beberapa di antaranya berani membanderol produk mereka dengan harga yang tergolong fantastis atau “pricey”. Meski sempat menuai perdebatan di kolom komentar, produk-produk tersebut justru laris manis di pasaran. Berikut adalah daftar lima jualan influencer TikTok yang tetap banjir pembeli meski harganya cukup menguras kantong.
1. Brownies Valrhona by @amrazing

Alexander Thian, atau yang lebih dikenal dengan nama Amrazing, pernah membuat jagat media sosial heboh dengan produk brownies buatannya. Berbeda dengan brownies pada umumnya, ia menggunakan standar bahan baku yang sangat tinggi, seperti butter Wisjman, telur omega-3, hingga penggunaan cokelat premium asal Prancis, Valrhona.
Kombinasi jenis cokelat seperti Valrhona Couverture 700%, Ivoire 35%, dan Caramelia 36% menjadikan brownies ini memiliki profil rasa yang sangat kompleks. Dibanderol dengan harga Rp1,2 juta per loyang, produk ini tetap diburu oleh banyak orang. Bahkan, calon pembeli kerap harus masuk ke dalam daftar tunggu alias waiting list demi mencicipi kudapan mewah ini.
2. Asinan Ceri-Ya

Chef Devy Anastasia, yang dikenal melalui ajang MasterChef Indonesia musim ke-9, sukses membawa konsep asinan ke level yang lebih eksklusif. Asinan Ceri-Ya buatannya bukan sekadar asinan biasa, melainkan perpaduan buah-buahan premium seperti anggur Shine Muscat, Moon Drop, leci, hingga buah delima.
Menggunakan kuah yang diracik dari sari buah asli dan madu, asinan ini dijual dengan harga sekitar Rp600.000 per porsi. Meski sempat menuai kritik mengenai harga, angka penjualan pada sesi pre-order pertamanya yang mencapai 1.250 paket membuktikan bahwa kualitas bahan yang digunakan tetap memiliki segmen pasar tersendiri yang loyal.
3. Aneka Jajanan Ci Mehong

Tijoe Nifia atau yang akrab disapa Ci Mehong telah menjadi ikon tersendiri di TikTok. Sesuai dengan julukannya, ia memang tidak ragu mematok harga tinggi untuk dagangannya. Mulai dari buah naga kuning seharga Rp650.000 per kilogram hingga donat pisang dan rujak kweni dengan harga di atas rata-rata pasar.
Ci Mehong sendiri tidak terlalu memusingkan label overprice yang diberikan netizen. Ia secara terbuka menyatakan bahwa harga tersebut menyesuaikan dengan kualitas bahan impor yang ia pilih. Bagi Ci Mehong, produknya memang ditargetkan bagi mereka yang mengutamakan kualitas dan “mau-mau saja” untuk merogoh kocek lebih dalam.
4. Es Cendol by Shely Che

Es cendol yang biasanya menjadi jajanan kaki lima yang terjangkau, disulap oleh influencer Shely Che menjadi produk premium. Dengan harga berkisar Rp49.000 hingga Rp99.000 per porsi, produk ini sempat memancing kehebohan di jagat maya karena dianggap terlalu mahal untuk sebuah minuman tradisional.
Meskipun tampilannya terlihat sederhana dengan komposisi cendol, gula merah, dan santan, para pembelinya menilai bahwa harga tersebut sepadan dengan kualitas bahan serta kemasan unik yang menyerupai ember kecil. Bagi sebagian orang, pengalaman menyantap jajanan dengan kemasan yang estetis dan bahan berkualitas menjadi nilai tambah yang tidak bisa diabaikan.
5. Dimsum Goreng by @itsfridays

Terakhir, ada dimsum goreng dari kreator @itsfridays yang menawarkan sensasi keju lumer di dalamnya. Perpaduan adonan ayam yang padat dengan keju leleh, ditambah saus merah yang asam-pedas, memberikan cita rasa yang berbeda dibandingkan dimsum goreng pada umumnya.
Dengan harga Rp75.000 per kemasan isi 3 buah, atau sekitar Rp25.000 per unit, banyak netizen sempat melayangkan protes. Namun, harga tersebut dianggap masuk akal oleh penggemarnya mengingat ukuran dimsum yang cukup besar dan isian yang melimpah. Pada akhirnya, tren makanan ini membuktikan bahwa konsumen saat ini semakin selektif namun tetap bersedia membayar mahal untuk rasa dan kualitas yang terjamin.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di era ekonomi kreatif, nilai sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh bahan bakunya saja, melainkan juga dari branding, kualitas bahan premium, serta pengalaman unik yang ditawarkan oleh sang kreator kepada konsumennya.