Dunia sinema kembali bergetar dengan pengumuman proyek ambisius terbaru dari sutradara visioner, Christopher Nolan, yang bertajuk The Odyssey. Film ini merupakan adaptasi modern dari epos klasik karya penyair Yunani kuno, Homer, yang menceritakan perjalanan panjang nan penuh rintangan Odysseus, Raja Ithaca, untuk kembali ke pelukan keluarganya setelah berakhirnya Perang Troya yang menghancurkan.
Dikenal sebagai sineas yang selalu mengedepankan kualitas visual megah serta kedalaman naratif, Nolan diprediksi akan membawa standar baru dalam genre film mitologi. Dengan keterlibatan jajaran bintang papan atas Hollywood, penggunaan ribuan kostum yang dibuat secara manual, hingga proses syuting yang melintasi enam negara, The Odyssey digadang-gadang menjadi salah satu sajian paling dinanti pada tahun 2026. Berikut adalah tujuh fakta menarik di balik layar produksi film epik ini.
1. Deretan Bintang Hollywood yang Fenomenal

Kekuatan utama film ini terletak pada daftar pemeran yang luar biasa. Matt Damon didapuk memerankan sosok Odysseus yang tangguh, sementara Tom Holland akan beradu akting sebagai Telemachus, putra sang raja yang berusaha mencari keberadaan ayahnya. Kehadiran nama-nama besar seperti Anne Hathaway, Zendaya, Lupita Nyong’o, hingga Robert Pattinson, memberikan dimensi emosional yang lebih dalam pada karakter-karakter mitologi yang ikonik.
Tidak berhenti di situ, deretan aktor berbakat lainnya seperti Charlize Theron, Benny Safdie, Jon Bernthal, John Leguizamo, Mia Goth, Samantha Morton, Corey Hawkins, dan Michael Vlamis juga turut meramaikan produksi ini. Kombinasi aktor veteran dan bintang muda berbakat ini menjadikan The Odyssey salah satu proyek dengan ansambel pemain paling impresif dalam dekade ini.
2. Ekspedisi Syuting di Enam Negara

Untuk menangkap esensi dunia kuno yang autentik, Nolan dan tim produksinya melakukan syuting di enam negara berbeda: Maroko, Yunani, Italia, Islandia, Skotlandia, dan Amerika Serikat. Pemilihan lokasi ini dilakukan setelah riset mendalam yang dipimpin oleh perancang produksi Ruth De Jong selama berbulan-bulan.
Tujuannya adalah menemukan bentang alam yang mampu merepresentasikan tempat-tempat mitis dalam puisi Homer. Mulai dari pantai Troya yang legendaris, gua Cyclops, hingga pulau-pulau mistis tempat Calypso dan Circe bertahta, semuanya diupayakan semirip mungkin dengan deskripsi literatur aslinya agar penonton benar-benar terhanyut dalam perjalanan Odysseus.
3. Rekayasa Kostum Skala Masif

Detail visual dalam The Odyssey tidak main-main. Di bawah pengawasan perancang busana ternama Ellen Mirojnick, sebuah tim yang terdiri dari 175 seniman spesialis dikerahkan untuk menciptakan total 5.300 kostum. Tim ini melibatkan para ahli dari berbagai bidang, mulai dari pematung, perajin kulit, hingga pelukis detail.
Setiap baju zirah dan pakaian dirancang dengan ketelitian tinggi untuk mencerminkan estetika zaman kuno. Proses ini memastikan bahwa setiap karakter, dari prajurit hingga rakyat jelata, memiliki identitas visual yang konsisten dengan latar sejarah yang ingin dibangun oleh Nolan.
4. Penggunaan Kapal Asli Bersejarah

Salah satu elemen paling menarik dalam film ini adalah penggunaan kapal longship bernama Draken yang didatangkan langsung dari Norwegia. Kapal ini bukan sekadar properti, melainkan replika yang dibangun dengan spesifikasi teknis kuno dan material yang relevan dengan era Mikenai.
Keunikan dari penggunaan Draken adalah kemampuannya untuk berlayar di laut bebas secara nyata. Kru kapal yang terlibat pun merupakan perpaduan antara aktor dan pelaut profesional, yang memberikan nuansa realistis saat adegan di tengah samudera diambil.
5. Pembangunan Kota Troya di Maroko

Nolan dikenal sebagai sutradara yang lebih menyukai efek praktis dibandingkan CGI, dan hal ini terbukti dari pembangunan set kota Troya di Aït Benhaddou, Maroko. Set megah ini dibangun di area seluas 110.000 kaki persegi, cukup untuk menampung lebih dari 2.000 figuran sekaligus.
Untuk menambah kesan realistis, tim produksi mendirikan lebih dari 60 bangunan besar. Bahkan, mereka melakukan aksi ekstrem dengan memindahkan 15 pohon zaitun dewasa menggunakan derek besar ke lokasi syuting demi menciptakan suasana kota kuno yang benar-benar hidup.
6. Tantangan Logistik di Italia

Proses syuting di pulau Favignana, Italia, menyimpan cerita perjuangan tersendiri. Lokasi syuting yang berada di sebuah benteng abad ke-15, setinggi 1.000 kaki di atas permukaan laut, mengharuskan kru dan pemain mendaki selama 45 menit setiap pagi. Kondisi ini menjadi lebih sulit karena mereka sering kali harus mendaki sambil mengenakan kostum lengkap.
Namun, kendala akses ini akhirnya diatasi dengan inovasi teknis. Tim produksi membangun sistem lift udara dan menggunakan helikopter untuk mengangkut peralatan berat serta personel agar proses syuting tetap berjalan efisien tanpa mengorbankan keamanan.
7. Menghidupkan Sosok Cyclops

Tantangan terbesar Nolan dalam film ini adalah merealisasikan sosok Cyclops tanpa ketergantungan penuh pada efek CGI. Aktor Bill Irwin memerankan Polyphemus menggunakan bantuan prostetik dan riasan tubuh yang detail. Untuk menciptakan kesan raksasa, teknik pengambilan gambar dari sudut rendah (low angle) digunakan secara intensif.
Selain itu, tim produksi menciptakan boneka animatronik setinggi 60 kaki untuk adegan di dalam gua, di mana Irwin mengisi suara secara langsung. Perpaduan antara efek praktis dan sentuhan digital yang minimalis ini diharapkan mampu memberikan kesan horor dan kemegahan mitologis yang tak terlupakan bagi para penonton.
The Odyssey dijanjikan akan menjadi sebuah mahakarya sinematik yang menggabungkan keindahan sastra klasik dengan keahlian teknis modern khas Christopher Nolan.
