Saat ini, masyarakat semakin memahami pentingnya penggunaan sunscreen sebagai tameng untuk menjaga kulit dari paparan sinar UV yang berisiko mempercepat penuaan dini serta memicu kanker kulit. Tingginya kesadaran ini memicu lonjakan permintaan pasar, yang juga mendorong persaingan ketat antar-brand dalam menghadirkan inovasi produk.
Namun, di tengah banyaknya variasi sunscreen yang tersedia, tidak sedikit produsen yang berupaya terlalu keras menarik minat pembeli hingga menggunakan klaim promosi yang berlebihan atau bahkan menyesatkan (misleading). Agar tidak mudah terpengaruh strategi pemasaran yang kurang tepat, mari kenali beberapa klaim yang perlu diwaspadai, sekaligus menyimak panduan resmi dalam memilih sunscreen dari BPOM RI!
Klaim Salah dan Misleading dari Produk Sunscreen

Sebelum Anda tergiur oleh rayuan kalimat promosi yang memikat, perhatikan beberapa klaim berikut yang sebaiknya Anda sikapi dengan kritis:
1. Waterproof (Tahan Air Sepenuhnya)
Produk sunscreen dengan label tahan air sering menjadi incaran bagi mereka yang sering beraktivitas di air. Padahal, perlu dipahami bahwa tidak ada produk sunscreen yang benar-benar waterproof. Istilah medis maupun standar FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) yang diakui adalah water-resistant.
Label water-resistant pun memiliki batasan waktu tertentu, misalnya hanya efektif selama 40 atau 80 menit saat digunakan berenang atau berkeringat. Begitu kulit terkena air dan dilap dengan handuk, lapisan pelindung pun akan hilang, sehingga penggunaan kembali (reapply) tetap wajib dilakukan sesuai aturan di kemasan.
2. Proteksi 100% dari Sinar Matahari
Sebagian iklan memberi kesan bahwa produk mereka mampu membentengi kulit secara total tanpa celah dari radiasi UV. Kenyataannya, sunscreen tidak sanggup memblokir radiasi UV hingga 100%. Bahkan, produk dengan kadar SPF tinggi pun tetap membiarkan sebagian kecil sinar UV menembus kulit.
Klaim mengenai perlindungan total adalah bentuk promosi yang keliru dan berlebihan. Sebagai konsumen, pilihlah produk yang menawarkan klaim serta panduan penggunaan yang realistis, serta pastikan takaran pemakaian sesuai anjuran.
3. Sweat-Proof (Tahan Keringat)
Penyebutan klaim sweat-proof pada sunscreen sesungguhnya tidak akurat. Berkeringat merupakan mekanisme alami tubuh untuk menjaga suhu tetap stabil. Menggunakan tabir surya tidak akan menghentikan produksi keringat. Justru, keringatlah yang secara bertahap dapat melunturkan lapisan tabir surya dan menurunkan efektivitasnya jika tidak diaplikasikan ulang.
4. Perlindungan Sepanjang Hari
Tidak ada tabir surya yang mampu melindungi kulit dari radiasi UV seharian penuh hanya dengan sekali pakai. Bahan aktif pelindung UV akan mengalami degradasi akibat paparan sinar matahari, produksi minyak, serta keringat.
Oleh karena itu, sangat disarankan untuk melakukan pengaplikasian ulang setiap 2 jam, atau lebih sering jika Anda baru saja membasuh muka atau berkeringat dalam jumlah banyak. Hindari juga paparan sinar matahari langsung pada jam-jam puncak, yakni pukul 10.00 hingga 14.00.
5. Klaim yang Mengarah ke Ranah Medis
Contoh klaim yang dilarang pada produk sunscreen adalah kemampuan untuk mencegah kanker kulit, menyembuhkan masalah kulit, atau fungsi lainnya yang menyerupai obat.
Berdasarkan regulasi BPOM RI, sunscreen dikategorikan sebagai kosmetik, bukan obat-obatan. Fungsi utamanya adalah sebagai perawatan untuk melindungi kulit dari radiasi UV, bukan untuk tindakan medis seperti mengobati penyakit kulit tertentu.
Jadi, waspadailah iklan yang menjanjikan fungsi penyembuhan medis pada produk kosmetik, termasuk sunscreen.
Panduan Resmi Memilih dan Menggunakan Sunscreen dari BPOM RI

Menanggapi maraknya klaim berlebihan pada iklan tabir surya, Badan POM RI melalui Penjelasan Publik NOMOR HM.01.1.2.08.23.33 mengimbau masyarakat agar menjadi konsumen yang cerdas saat memilih produk.
Langkah yang disarankan adalah menerapkan Cek KLIK (Cek Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa) pada setiap barang yang akan dibeli, serta memastikan legalitasnya melalui situs https://cekbpom.pom.go.id atau aplikasi BPOM Mobile.
Langkah lainnya meliputi:
1. Pilih Produk Sesuai Jenis Kulit (Bukan Berdasarkan Nilai SPF)
Efektivitas tabir surya sangat bergantung pada cara pemakaian dan kecocokan dengan jenis kulit. Bagi pemilik kulit berminyak, gunakanlah tabir surya berbasis air (water-based/gel) yang terasa ringan dan tidak menyumbat pori. Sebaliknya, pemilik kulit kering disarankan memilih tabir surya berbasis minyak (oil-based/cream) untuk memberikan kelembapan tambahan.
2. Simpan Produk Sesuai Petunjuk di Kemasan
Jangan menyimpan tabir surya di area panas, seperti dasbor mobil yang terpapar matahari, dekat jendela, atau di bawah sinar matahari langsung. Suhu panas dapat merusak struktur molekul pelindung UV, sehingga bahan aktifnya akan kehilangan efektivitas sebelum masa kedaluwarsa tiba.
3. Gunakan Produk Sesuai Petunjuk di Kemasan
Oleskan tabir surya 15–30 menit sebelum beraktivitas di luar ruangan agar produk meresap dan membentuk lapisan pelindung secara optimal, atau ikuti instruksi yang tertera pada label. Pastikan jumlah yang digunakan cukup dan ratakan ke seluruh area wajah serta bagian tubuh yang tidak tertutup pakaian.
4. Cerdas Menyikapi Iklan dan Hentikan Pemakaian Jika Terjadi Alergi
Bersikaplah kritis terhadap janji-janji iklan yang terlalu bombastis dan tidak masuk akal. Jika muncul reaksi alergi atau efek samping yang tidak diinginkan, segera hentikan penggunaan dan konsultasikan kondisi kulit Anda kepada tenaga medis atau dokter spesialis kulit.
Bagi Anda yang ingin merekomendasikan produk kepada orang lain melalui media sosial, pastikan terlebih dahulu kebenaran informasi produk, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan mutu.
____
