Home » Mengenal Lazy Ambitious: Definisi dan Alasan Mengapa Tren Ini Viral

Mengenal Lazy Ambitious: Definisi dan Alasan Mengapa Tren Ini Viral

Istilah lazy ambitious belakangan ini menjadi topik hangat di media sosial, terutama setelah dibahas oleh kreator konten sekaligus pemenang ajang kecantikan Indonesia, Sabrina Anggraini.

Banyak anak muda yang ternyata merasakan fenomena ini. Mereka telah memiliki target yang ingin diraih serta rencana yang tersusun rapi. Namun, saat tiba waktunya untuk eksekusi, rasa bimbang dan takut gagal justru membuat segalanya terhenti hanya pada tahap wacana.

Jika kamu merasa mengalami hal serupa, mari simak ulasan lengkapnya di bawah ini!

Apa Itu Lazy Ambitious?

Melalui podcast #BossMama 46 di kanal YouTube Sabrina Anggraini, dijelaskan bahwa lazy ambitious tidak berarti seseorang benar-benar pemalas. Sebaliknya, mereka memiliki dorongan besar untuk mencapai kesuksesan, tetapi sering terperangkap dalam pola pikir yang menghambat tindakan nyata.

Menurut Sabrina, kondisi ini umumnya dipicu oleh beberapa faktor, seperti:

  • Terlalu banyak berpikir atau overthinking.
  • Keinginan agar segalanya tampak sempurna.
  • Menanti datangnya motivasi sebelum mulai bekerja.

Mereka cenderung lebih menikmati proses merancang rencana daripada merealisasikannya. Akibatnya, seseorang merasa sudah sibuk mempersiapkan diri, padahal belum ada langkah konkret menuju target yang diinginkan.

Kenapa Seseorang Bisa Mengalami Lazy Ambitious?

Merujuk pada artikel “Psychology Of People Who Are Lazy But Ambitious” yang dimuat oleh PsychoMental, terdapat penjelasan dari sudut pandang neuroscience mengenai fenomena ini.

Saat seseorang berimajinasi tentang keberhasilan di masa depan, otak mengaktifkan area yang dikenal sebagai ‘Default Mode Network’. Aktivitas ini melepaskan dopamin sehingga seseorang merasa puas hanya dengan membayangkan pencapaian tersebut. Hasilnya, otak merasa sudah mendapatkan “imbalan”, padahal pekerjaan sesungguhnya belum dimulai.

Di sisi lain, saat harus menghadapi tugas yang menantang, otak cenderung menganggapnya sebagai beban yang melelahkan dan penuh ketidakpastian. Hal inilah yang memicu rasa enggan, takut, atau keinginan untuk menunda pekerjaan.

Masih dalam artikel tersebut, perfeksionisme juga menjadi akar masalah. Banyak orang cenderung menunggu waktu yang dianggap ideal atau rencana yang sempurna sebelum akhirnya mulai bertindak.

Padahal, momen yang sempurna jarang sekali terjadi. Hasrat untuk menghasilkan sesuatu yang sempurna justru menjadi dalih untuk terus menunda-nunda.

Cara Keluar dari Pola Lazy Ambitious

Sabrina Anggraini menekankan bahwa motivasi tidak selalu datang sebelum kita bertindak. Sebaliknya, motivasi sering kali justru muncul setelah seseorang mulai melakukan langkah kecil.

Sementara itu, PsychoMental merekomendasikan beberapa langkah praktis untuk memutus siklus tersebut, di antaranya:

  • Memulai dari langkah yang paling sederhana.
  • Menetapkan waktu dan tempat khusus untuk menyelesaikan pekerjaan.
  • Meminimalisir gangguan, misalnya dengan menaruh ponsel di ruangan lain.
  • Berfokus pada kemajuan kecil daripada menuntut hasil yang sempurna.
  • Membangun kebiasaan secara konsisten alih-alih mengandalkan motivasi.

Dengan cara ini, otak akan lebih mudah membentuk rutinitas baru serta meredam rasa cemas saat memulai sesuatu.

Jadi, mengalami lazy ambitious bukan berarti kamu pemalas atau tidak punya kemampuan. Kondisi ini lebih menggambarkan adanya jurang antara mimpi besar dan tindakan nyata yang sering kali terhalang oleh overthinking, perfeksionisme, hingga ketakutan akan kegagalan.

Kabar baiknya, pola pikir ini bisa diubah secara bertahap. Oleh karena itu, jika belakangan ini kamu merasa terjebak dalam lazy ambitious, mungkin yang kamu perlukan bukanlah tambahan motivasi, melainkan keberanian untuk mulai melangkah hari ini!

Artikel menarik Lainnya