Home » Obsesi Menjadi Versi Terbaik: Apakah Selalu Sehat bagi Mental?

Obsesi Menjadi Versi Terbaik: Apakah Selalu Sehat bagi Mental?

Beberapa tahun belakangan, istilah self-improvement kian populer di jagat media sosial. Mulai dari kebiasaan menyusun rutinitas pagi, melahap buku, berolahraga, hingga mendaftarkan diri ke berbagai kursus untuk mengasah keterampilan.

Tentu saja hal tersebut merupakan langkah positif karena menunjukkan keinginan untuk terus bertumbuh. Namun, pernahkah kamu merasa jenuh karena tuntutan untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya? Jika iya, bisa jadi ambisi untuk berkembang justru berubah menjadi beban. Mari kita bahas lebih lanjut.

Apa Sebenarnya Tujuan dari Self-improvement?

Obsesi-menjadi-versi-terbaik-diri-sendiri-apakah-selalu-sehat-55938.jpg” alt=”” title=”” style=”max-width:100%;height:auto;display:block;margin-left:auto;margin-right:auto;”>

Pada dasarnya, self-improvement hadir sebagai sarana untuk membantu kita menggali serta mengembangkan potensi diri, baik dalam ranah profesional, pendidikan, maupun kehidupan pribadi. Meski demikian, menurut BBC News dan Truity, budaya yang menuntut untuk terus mengoptimalkan diri terkadang membuat seseorang merasa apa yang telah dilakukan tidak pernah cukup.

Dorongan untuk terus produktif, kecenderungan membandingkan pencapaian dengan orang lain, hingga munculnya rasa bersalah saat rehat sejenak menjadi dampak yang sering terjadi. Alhasil, proses tersebut bukannya mendatangkan semangat, melainkan memicu stres, kelelahan, bahkan membuat seseorang sulit mengapresiasi keberhasilan yang telah diraihnya sendiri.

Berikan Diri Kita Ruang untuk Beristirahat

Keinginan untuk menjadi lebih baik adalah hal yang wajar, namun bukan berarti kita wajib mengejar kesempurnaan. Menjadi versi terbaik diri sendiri semestinya dibarengi dengan sikap menerima segala keterbatasan yang ada pada diri kita.

Hal ini selaras dengan studi berjudul “Exploring the Longitudinal Dynamics of Self-Criticism, Self-Compassion, Psychological Flexibility, and Mental Health in a Three-Wave Study” karya Ming Yu Claudia Wong, Hong Wang Fung, dan Stanley Kam Ki Lam yang dirilis di jurnal Scientific Reports tahun 2025.

Penelitian tersebut mengungkap bahwa self-compassion atau sikap berwelas asih terhadap diri sendiri sangat krusial dalam menjaga kesehatan mental sekaligus meredam dampak negatif dari kebiasaan mengkritik diri sendiri secara berlebihan. Dengan kata lain, pengembangan diri tidak selalu menuntut kita menjadi sosok sempurna; berilah ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, memetik pelajaran dari kegagalan, dan menyadari bahwa setiap individu menempuh perjalanan yang berbeda.

Sebagai pengingat bagi kita semua, berusaha menjadi versi terbaik diri sendiri adalah niat mulia yang mencerminkan rasa peduli pada diri sendiri. Namun, jangan sampai proses ini membuatmu merasa harus terus-menerus menambal celah yang dirasa kurang.

Pertumbuhan adalah perjalanan panjang, di mana kita belajar untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik sambil tetap menghargai diri sendiri di setiap langkahnya.

Artikel menarik Lainnya