Siapa kalangan Gen Z yang belum pernah mencicipi seblak? Hampir semua orang pasti pernah merasakannya, bahkan mungkin menjadikannya menu harian. Hidangan khas Jawa Barat ini memang populer karena cita rasanya yang gurih, pedas, serta aroma kencur yang sangat kuat.
Seblak umumnya diracik dari kerupuk basah yang dimasak bersama bumbu rempah dan cabai, ditambah berbagai pelengkap seperti mi instan, makaroni, telur, aneka daging olahan, ceker, atau sayuran.
Namun, di balik kelezatannya, ada sejumlah fakta nutrisi yang perlu diperhatikan demi menjaga kesehatan tubuh jangka panjang. Ingin tahu lebih lanjut? Mari simak penjelasan dari para pakar kesehatan berikut ini.
Pedasnya Seblak Bisa Mengganggu Lambung

Hal ini ditegaskan oleh dosen kebidanan dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Hesti Widowati, sebagaimana dikutip dari laman resmi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi Umsida.
“Seblak yang identik dengan rasa pedas dapat memicu respons tubuh, seperti peradangan pada lambung atau masalah pencernaan lainnya,” ungkap Hesti Widowati.
Sensasi pedas pada seblak berasal dari kandungan capsaicin dalam cabai. Senyawa capsaicin inilah yang memberikan rasa pedas sekaligus berisiko menyebabkan iritasi pada lapisan dinding lambung.
Ketika mengonsumsi makanan pedas, capsaicin mampu memicu produksi asam lambung secara berlebih, yang berujung pada ketidakseimbangan dan kerusakan pada lapisan pelindung lambung.
“Bagi mereka yang sering merasakan nyeri ulu hati (heartburn) atau memiliki riwayat gastritis, sebaiknya lebih berhati-hati dengan frekuensi dan porsi makanan pedas karena berisiko menimbulkan iritasi,” saran Zariel Grullon, RDN., CDN, seperti dilansir oleh EatingWell.
Selain Pedas, Seblak Tinggi Natrium, Kalori, dan Lemak

Di luar rasa pedasnya, seblak cenderung mengandung kalori, lemak, dan natrium yang tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, hal ini dapat mengganggu keseimbangan hormon serta memicu kenaikan berat badan.
Menurut ahli gizi dr. Tan Shot Yen melalui detikHealth, risiko utama seblak terletak pada bahan dasarnya, yakni kerupuk. Kerupuk bukan hanya minim nutrisi karena terbuat dari tepung, tetapi juga memiliki kadar garam yang tinggi.
Risiko tersebut diperparah oleh pemilihan topping yang tinggi natrium dan lemak jenuh, tambahan garam dapur serta monosodium glutamat (MSG), ditambah penggunaan minyak goreng yang cukup banyak saat menumis bumbu.
Perpaduan antara kerupuk aci, makaroni, mi, dan kuah berminyak menjadikan seblak sebagai makanan yang tinggi kalori namun rendah serat. Tanpa diimbangi aktivitas fisik yang memadai, konsumsi berlebih akan berdampak langsung pada berat badan.
Lebih lanjut, tingginya kandungan natrium dalam kuah dan bahan pelengkap seblak dapat meningkatkan tekanan darah dan memperbesar risiko penyakit kardiovaskular dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, sangat disarankan untuk membatasi konsumsi seblak agar terhindar dari berbagai masalah kesehatan yang tidak diinginkan.
Jadi, Berapa Kali Kita Bisa Mengonsumsi Seblak dalam Seminggu?

Dokter gizi klinik, Yohanes Chandrawinata, menggolongkan seblak sebagai makanan yang sebaiknya hanya dikonsumsi sesekali. Artinya, memakannya satu kali dalam seminggu masih dianggap wajar, seperti yang disampaikan melalui YouTube CNN Indonesia.
Saat ingin menyantap seblak, disarankan untuk membatasi penggunaan minyak, garam, serta cabai, dan lebih selektif dalam memilih topping. Ada baiknya memperbanyak asupan sayuran dan protein alami seperti telur, daging tanpa lemak, atau ikan, serta mengurangi porsi karbohidrat olahan dan daging prosesan yang tinggi natrium.
