Home » Mengenal Sara Berkai, Sosok di Balik Mainan Edukatif Anak Pengungsi

Mengenal Sara Berkai, Sosok di Balik Mainan Edukatif Anak Pengungsi

Menuntut ilmu dalam kegelapan tanpa aliran listrik serta minimnya fasilitas pendidikan yang layak merupakan realitas pahit yang dialami ribuan anak di kamp pengungsi. Situasi tersebut menggugah Sara Berkai, seorang perempuan muda lulusan magister Universitas Oxford, untuk memberikan solusi melalui penyediaan mainan edukatif berkonsep DIY. Gebrakan sosialnya ini bahkan mengantarkannya meraih penghargaan bergengsi Forbes 30 Under 30 Europe 2024 untuk kategori Social Impact.

Dihimpun dari laman Forbes, EnSpire Oxford, serta profil resmi Sara Berkai, berikut adalah kisah inspiratifnya dalam mengintegrasikan empati, kewirausahaan, dan teknologi untuk menciptakan perubahan nyata. Mari simak perjalanannya!

Dari Panggung Teknologi Korporat ke Kamp Pengungsi

Karier Sara tidak langsung bermula di ranah kewirausahaan sosial. Sebelumnya, ia sempat bekerja di perusahaan teknologi besar seperti Cisco dan Amazon. Meski begitu, puncak kebahagiaan dalam hidupnya justru ia temukan saat mendedikasikan diri sebagai sukarelawan pengajar coding bagi anak-anak.

Titik balik kariernya terjadi pada 2019 ketika ia mengajar di kamp pengungsi wilayah Ethiopia dan Eritrea. Kala itu, anak-anak di sana melontarkan pertanyaan yang sederhana namun sarat makna: apakah ia mampu membantu mereka menciptakan sesuatu yang bermanfaat, seperti senter, agar mereka mendapatkan penerangan?

Meskipun memiliki latar belakang di bidang rekayasa perangkat lunak, Sara memberanikan diri mempelajari aspek perangkat keras dari nol. Ia memanfaatkan fasilitas printer 3D di perpustakaan Universitas Oxford guna merancang purwarupa pertama untuk kit mainan edukasi tersebut.

Belajar Lewat Merakit dan Model Bisnis Berkelanjutan

Berangkat dari keberanian tersebut, Ambessa Play berdiri pada tahun 2020. Nama Ambessa sendiri diambil dari bahasa Ethiopia dan Eritrea yang berarti singa, sebuah julukan yang kerap digunakan untuk memuji anak-anak yang cerdas dan hebat.

Sesuai dengan maknanya, startup ini hadir untuk menggali potensi anak-anak melalui produk andalannya, yaitu kit senter rakitan (DIY Flashlight). Lewat mainan ini, anak-anak diajak mempelajari sains sembari merakit senter yang memiliki fungsi nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Sara memilih untuk menjalankan perusahaan sosial yang berorientasi laba agar dampak yang dihasilkan dapat berkelanjutan serta mandiri secara finansial. Ia juga menerapkan model 1-for-1, di mana setiap satu kit yang dibeli pelanggan, satu kit lainnya akan disumbangkan kepada anak pengungsi.

Saat ini, produknya telah menjangkau ribuan anak di berbagai belahan dunia. Sepanjang tahun 2024 saja, dengan perolehan pendapatan melebihi 1 juta USD, Sara telah mendonasikan lebih dari 5.000 kit mainan. Ia juga memperluas ekosistem ini dengan meluncurkan platform digital TAVI sebagai wadah bagi anak-anak untuk memamerkan eksperimen mereka, serta program dana hibah First Venture guna mendukung siswa di London memulai usaha sosial.

Kegigihan Menghadapi Bias Modal bagi Female Founder

Perjalanan Sara dalam membangun bisnis tidak selalu mulus. Ia harus menghadapi tantangan ketimpangan gender di industri startup, di mana pendanaan untuk pendiri perempuan masih di bawah 2 persen. Selain itu, proses seleksi hibah yang diikutinya pada awal karier sangatlah ketat, dengan peluang keberhasilan hanya sekitar 3 persen.

Namun, berbagai penolakan yang datang tidak membuat langkahnya terhenti. Kunci keberhasilannya terletak pada ketangguhan mental serta fokus pada tujuan bisnis sosial yang memiliki nilai komersial tinggi. Pengalamannya membuktikan bahwa kesuksesan seorang wirausahawan perempuan tidak ditentukan oleh ketiadaan rintangan, melainkan oleh keberanian untuk terus bangkit dan membangun jaringan pendukung yang kuat.

Semangat inilah yang terus menjadi landasan gerakannya. Melalui Ambessa Play, Sara berharap dapat memberikan lebih dari sekadar penerangan bagi anak-anak di kamp pengungsi, tetapi juga menyalakan harapan serta rasa percaya diri bagi generasi muda untuk terus berinovasi.

Artikel menarik Lainnya