Protein merupakan salah satu makronutrien esensial yang wajib dipenuhi setiap hari. Selain berfungsi untuk membangun serta memperbaiki jaringan tubuh, zat ini juga berperan penting dalam sintesis enzim, hormon, serta mendukung optimalisasi sistem kekebalan tubuh. Tidak mengherankan jika banyak individu sengaja meningkatkan asupan protein guna menurunkan berat badan atau memperbesar massa otot.
Namun, bukan berarti mengonsumsi protein dalam jumlah besar selalu berdampak positif bagi kesehatan. Jika kadarnya berlebihan tanpa disertai konsumsi karbohidrat, lemak sehat, dan makanan berserat yang cukup, tubuh dapat menunjukkan berbagai gejala ketidakseimbangan nutrisi.
Dikutip dari Eating Well, simak beberapa sinyal peringatan bahwa tubuh mengalami kelebihan protein yang perlu diwaspadai!
1. Lebih Sering Buang Air Kecil

Selama proses pencernaan protein, tubuh akan menghasilkan limbah sisa metabolisme berupa urea yang harus dibuang lewat urine. Semakin tinggi jumlah protein yang dikonsumsi, semakin banyak pula urea yang terbentuk, sehingga ginjal memerlukan cadangan air ekstra untuk membuangnya. Dampaknya, frekuensi buang air kecil menjadi lebih sering.
Sejumlah riset juga menunjukkan bahwa asupan protein tinggi, khususnya saat makan malam, dapat memicu peningkatan ekskresi urea dan natrium. Hal ini mengakibatkan seseorang kerap terbangun di tengah malam untuk buang air kecil. Jika kondisi ini terjadi secara berkelanjutan, tubuh berisiko mengalami dehidrasi apabila asupan cairan tidak diimbangi dengan baik.
2. Suasana Hati Mudah Berubah

Protein mengandung asam amino triptofan yang diperlukan tubuh untuk memproduksi serotonin, yakni neurotransmiter di otak yang bertugas mengatur suasana hati. Namun, apabila pola makan terlalu fokus pada protein namun minim karbohidrat, sintesis serotonin bisa terganggu.
Berbagai studi menunjukkan hasil yang beragam terkait kaitan antara konsumsi protein dan depresi. Oleh karena itu, yang terpenting bukan sekadar meningkatkan jumlah protein, melainkan menjaga keseimbangan nutrisi dengan karbohidrat kompleks, lemak sehat, serta variasi sumber protein hewani maupun nabati agar kesehatan fisik dan mental tetap terjaga.
3. Mengalami Sembelit

Seseorang yang menjalani diet tinggi protein biasanya cenderung lebih banyak mengonsumsi daging, telur, atau produk hewani lain, namun sering kali mengabaikan asupan buah, sayur, dan biji-bijian. Padahal, makanan nabati merupakan sumber serat utama yang berperan melancarkan mobilitas usus. Wajar jika asupan protein yang berlebih tanpa diimbangi nutrisi lain dapat memicu konstipasi.
Jika masalah sembelit mulai sering muncul, cobalah menambahkan asupan tinggi serat seperti oatmeal, kacang-kacangan, tempe, serta aneka buah dan sayur ke dalam menu harian. Selain memperlancar pencernaan, serat juga berfungsi menjaga kesehatan usus, menstabilkan kadar gula darah, dan memberikan efek kenyang lebih lama.
4. Berat Badan Kembali Naik

Banyak metode diet tinggi protein yang secara drastis membatasi konsumsi karbohidrat. Meski berat badan bisa turun di awal, pola makan seperti ini sering kali sulit dipertahankan dalam jangka panjang, sehingga memicu keinginan makan berlebih yang akhirnya membuat berat badan kembali naik.
Oleh sebab itu, para pakar menyarankan penerapan pola makan realistis yang berkelanjutan. Penurunan berat badan idealnya dilakukan melalui diet seimbang yang tetap memenuhi kebutuhan protein, karbohidrat kompleks, lemak sehat, serta dukungan aktivitas fisik secara rutin.
5. Tubuh Mudah Lelah

Gejala lain dari kelebihan protein adalah munculnya rasa lelah yang ekstrem. Faktanya, meskipun asupan protein tercukupi, tubuh tetap membutuhkan karbohidrat sebagai bahan bakar utama untuk menunjang aktivitas harian. Ketika asupan karbohidrat terlalu minim, tubuh dapat mengalami penurunan energi yang membuat konsentrasi menurun dan tubuh terasa lemas.
Untuk mengatasinya, pastikan menu harian Anda tetap mencakup sumber karbohidrat sehat, seperti beras merah, gandum utuh, kentang, ubi, serta buah-buahan dan sayuran. Kombinasi nutrisi yang seimbang akan membantu menjaga stabilitas energi tubuh sepanjang hari.
6. Mengalami Bau Mulut

Saat tubuh kekurangan asupan karbohidrat, sistem metabolisme akan beralih membakar lemak sebagai sumber energi utama. Proses ini menghasilkan keton yang salah satunya dapat menyebabkan aroma napas berbau tajam seperti aseton atau pembersih kuteks. Kondisi ini kerap disebut sebagai keto breath.
Jika bau mulut muncul saat Anda sedang menjalankan diet tinggi protein, sebaiknya evaluasi kembali komposisi makanan Anda. Pastikan untuk menambahkan asupan karbohidrat kompleks secukupnya dan meningkatkan porsi protein nabati guna membantu menyeimbangkan metabolisme sekaligus mengatasi masalah bau mulut.
Demikianlah beberapa tanda peringatan tubuh mengalami kelebihan protein. Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut secara berulang, disarankan untuk meninjau kembali pola makan atau berkonsultasi dengan dokter maupun ahli gizi agar pemenuhan nutrisi tetap optimal.
