Home » Lagom: Rahasia Hidup Seimbang ala Skandinavia yang Menenangkan

Lagom: Rahasia Hidup Seimbang ala Skandinavia yang Menenangkan

Setiap bangsa memiliki perspektif yang beragam dalam menjalani kehidupan. Sebagaimana Jepang yang dikenal dengan konsep Ikigai, Swedia memiliki Lagom, sebuah ajaran yang menekankan pentingnya hidup dalam takaran yang pas, yakni tidak berlebihan namun juga tidak kekurangan.

Lantas, seperti apa sebenarnya konsep Lagom yang hingga detik ini masih menjadi bagian integral dari gaya hidup masyarakat Swedia? Mari kita pelajari lebih dalam.

1. Apa Itu Filosofi Lagom?

Dikutip dari Nordic Nest, istilah Lagom berasal dari bahasa Swedia yang berarti “tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit, melainkan secukupnya”. Konsep ini mengajak seseorang untuk meraih keseimbangan dalam berbagai dimensi hidup, mulai dari ranah pekerjaan, relasi sosial, hingga cara mengisi waktu luang.

Lagom lebih mengutamakan pentingnya menemukan porsi yang dirasa pas bagi diri sendiri daripada harus mengejar sesuatu secara berlebihan. Di tengah ritme hidup yang serba cepat, prinsip ini mengingatkan kita akan perlunya menjaga keseimbangan tanpa harus terus-menerus memburu ambisi.

2. Lagom Tidak Sama dengan Hidup Serba Minimalis

Banyak orang keliru memahami konsep Lagom dengan menyamakannya sebagai gaya hidup minimalis. Forbes menyebutkan bahwa keduanya memiliki perbedaan mendasar. Jika minimalisme identik dengan upaya mengurangi kepemilikan barang secara drastis, Lagom justru lebih menitikberatkan pada aspek keseimbangan dan kecukupan.

Kita tetap diperbolehkan menikmati hal-hal yang disukai, selama dilakukan dalam kadar yang wajar dan tidak melampaui batas. Singkatnya, Lagom bukan berarti kita harus hidup serba kekurangan, melainkan memahami kapan segala sesuatu sudah mencapai titik cukup.

3. Filosofi Lagom Bisa Diterapkan dalam Kehidupan Sehari-Hari

Dilansir dari Ducktail, filosofi Lagom tidak hanya relevan di lingkungan kerja, tetapi juga dalam rutinitas harian. Contohnya, menjaga ritme antara waktu produktif dan istirahat, mengonsumsi makanan dalam porsi yang tepat, hingga berbelanja sesuai dengan kebutuhan nyata.

Bagi warga Swedia, keseimbangan ini diyakini mampu menciptakan tatanan hidup yang lebih tenang dan berkelanjutan. Meskipun lahir dari budaya Swedia, prinsip-prinsip Lagom sangat bisa diadaptasi dalam kehidupan modern yang sering kali penuh dengan tekanan dan kesibukan.

4. Mengapa Lagom Masih Relevan hingga Kini?

Islandia menjadi negara terbahagia nomor 2 tahun 2026 dipengaruhi oleh faktor alam, dukungan pemerintah, dan filosofi InnSaei.

Budaya modern sering kali secara tidak langsung menuntut kita untuk bekerja lebih keras atau terus mengejar pencapaian baru. Dalam konteks tersebut, Lagom hadir menawarkan perspektif yang berbeda. Filosofi ini mengingatkan bahwa hidup tidak harus selalu dijalani secara ekstrem. Terkadang, merasa cukup dan mensyukuri apa yang dimiliki merupakan langkah sederhana untuk mencapai ketenangan dan kebermaknaan hidup.

Artikel menarik Lainnya