Home » Kuliner Khas Yunani Kuno ala Film The Odyssey yang Wajib Dicoba

Kuliner Khas Yunani Kuno ala Film The Odyssey yang Wajib Dicoba

Berbagai sajian Kuliner Yunani Kuno menjadi aspek menarik yang ditampilkan dalam film The Odyssey. Selain memperkuat narasi cerita, hidangan tersebut juga menggambarkan bagaimana masyarakat zaman itu memaknai tradisi jamuan, etika keramah-tamahan, hingga strata sosial.

Walaupun kisah The Odyssey sarat dengan muatan mitologi, para pakar menilai bahwa jenis-jenis makanan yang muncul memang merefleksikan keseharian masyarakat Yunani Kuno. Dr. Sean Corner, Associate Professor di McMaster University, bersama arkeolog Dr. Shelby Brown memaparkan bahwa meskipun karya Homer merupakan perpaduan antara sejarah dan rekaan, pola konsumsi masyarakat kala itu tetap bisa dipahami melalui temuan arkeologis.

Berikut ini beberapa jenis makanan dan minuman Yunani Kuno sebagaimana dilansir dari Tasting Table!

Roti dan Bubur Jelai

Jika saat ini nasi menjadi sumber karbohidrat utama di Indonesia, penduduk Yunani kuno mengandalkan roti serta bubur yang berbahan dasar jelai atau gandum. Menurut penjelasan Dr. Shelby Brown, gandum jenis einkorn dan emmer merupakan bahan baku utama untuk membuat roti, sementara tepung gandum dengan kualitas unggul hanya dapat dinikmati oleh kalangan elit.

Di sisi lain, Dr. Sean Corner menerangkan bahwa biji-bijian termasuk dalam tiga komponen pokok diet masyarakat Yunani, bersanding dengan sayuran, sumber protein seperti ikan atau daging, serta anggur. Dalam The Odyssey, roti kerap disuguhkan kepada Odysseus sebagai simbol penghormatan dari tuan rumah yang menyambutnya.

Anggur Selalu Dicampur dengan Air

Masyarakat Yunani kuno hampir tidak pernah mengonsumsi anggur secara murni. Mereka selalu mengencerkannya dengan air agar konsentrasi alkoholnya berkurang dan menghindari perilaku yang dianggap tidak terkendali.

Dr. Sean Corner menuturkan bahwa meminum anggur tanpa campuran air dianggap sebagai tindakan yang tidak beradab oleh masyarakat Yunani. Dalam The Odyssey, Odysseus justru sengaja memberikan anggur murni kepada Polyphemus sang Cyclops agar raksasa itu mabuk dan ia dapat meloloskan diri.

Selain sebagai pelengkap santapan, di wilayah tertentu, anggur juga dipandang sebagai lambang prestise bagi kelompok masyarakat tertentu.

Susu dan Keju

Tanpa adanya teknologi pendingin layaknya masa kini, susu segar hanya bisa diakses oleh para peternak atau kalangan kaya yang mampu memperolehnya dengan cepat. Dalam The Odyssey, sosok Cyclops digambarkan memelihara domba dan mengonsumsi susu, yang menurut Sean Corner menjadi metafora bagi kehidupan yang primitif dan belum beradab.

Berbeda dengan susu, keju jauh lebih awet dan praktis untuk disimpan. Dr. Shelby Brown menjelaskan bahwa tradisi pembuatan keju di Yunani sudah ada sejak sekitar 3.000 SM, jauh sebelum era Odysseus. Biasanya, keju dinikmati bersama roti sebagai camilan atau dikombinasikan dengan madu dan buah-buahan sebagai hidangan penutup.

Daging Sapi Menjadi Hidangan Mewah

Saat menyaksikan film The Odyssey, mungkin muncul anggapan bahwa masyarakat Yunani kuno terbiasa berpesta daging sapi. Faktanya, menurut Dr. Sean Corner, daging sapi merupakan santapan langka karena hewan ternak tersebut memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.

Sapi lebih sering difungsikan sebagai tenaga pembajak lahan ketimbang untuk disembelih sebagai konsumsi. Oleh karena itu, kehadiran daging sapi yang berlimpah dalam epik Homer lebih bertujuan untuk menonjolkan kemegahan dunia para pahlawan daripada mencerminkan realitas kehidupan masyarakat umum saat itu.

Daging Domba Lebih Mudah Ditemukan

Dibandingkan sapi, domba dan kambing jauh lebih mudah diternakkan, sehingga lebih sering menjadi pilihan untuk kurban maupun kebutuhan pangan. Dr. Shelby Brown menyebutkan bahwa kedua jenis hewan ini adalah sumber daging yang paling dominan dikonsumsi oleh masyarakat Yunani pada masa tersebut.

Dalam The Odyssey, domba tidak hanya sekadar bahan makanan, tetapi juga menjadi instrumen penting bagi Odysseus untuk melarikan diri dari gua Polyphemus dengan cara bersembunyi di bawah tubuh domba. Kendati daging domba muda dinilai lebih lembut, masyarakat kala itu cenderung menyembelih domba yang sudah tua, mengingat hewan muda masih diperlukan untuk memproduksi susu dan wol.

Setelah memahami ragam makanan dan minuman Yunani Kuno ini, kamu pasti menyadari bahwa setiap hidangan memiliki narasi dan filosofinya sendiri. Jadi, saat menonton film The Odyssey, kamu dapat menikmati alur petualangannya sekaligus mendalami latar belakang budaya kulinernya.

Artikel menarik Lainnya