Salah satu kekhawatiran banyak warganet saat ini adalah ketika sosok mereka muncul dalam video yang diunggah ke media sosial tanpa persetujuan. Pasalnya, aspek persetujuan atau consent tampak menjadi barang mewah di tengah masifnya penyebaran konten viral.
Kemajuan teknologi kini menghadirkan berbagai perangkat canggih yang mampu mengabadikan momen secara sangat tersamar, salah satunya adalah kacamata Meta. Perangkat pintar Ray-Ban besutan Meta ini dilengkapi kamera terintegrasi yang memudahkan penggunanya mengambil foto maupun video tanpa perlu memegang perangkat, layaknya menggunakan kacamata biasa. Tren pembuatan konten menggunakan perangkat ini pun memicu perdebatan serta kecemasan terkait privasi individu.
Menanggapi fenomena tersebut, Instagram dikabarkan mulai mengambil langkah tegas terhadap video yang direkam secara sembunyi-sembunyi menggunakan kacamata Meta, sebagaimana dilaporkan oleh Business Insider. Instagram berkomitmen untuk menghapus konten yang diambil melalui kacamata Meta tanpa seizin pihak yang terekam.
Melalui sebuah unggahan di Instagram Story, pimpinan Instagram Adam Mosseri menyatakan bahwa konten video semacam itu kini dilarang di platform mereka.
“Jika Anda mengunggah konten yang mengeksploitasi orang lain dan bersifat melecehkan, seperti banyaknya video rayuan yang telah kami temui, maka kami akan menindak tegas dengan menghapus konten tersebut,” ujar Mosseri saat menjawab pertanyaan di Instagram Story-nya pada akhir Juli lalu.
“Kami tidak ingin ada pihak yang merekam orang lain secara diam-diam untuk tujuan pelecehan lalu mempublikasikannya di platform kami. Oleh karena itu, kami berupaya memerangi tindakan tersebut dengan segala cara yang memungkinkan,” imbuhnya.
Kontroversi Kacamata Meta

Beredar luas video di TikTok dan Instagram Reels yang menampilkan pengguna kacamata Meta melakukan konten ‘prank’ terhadap kasir atau staf restoran cepat saji. Sering kali, konten tersebut mengandung unsur pelecehan dan merendahkan martabat orang lain.
Selain itu, terdapat pula konten di mana pengguna kacamata Meta merekam diri mereka saat menghampiri perempuan di pusat kebugaran atau tempat umum, yang tentunya dilakukan tanpa izin dari orang yang bersangkutan.
Pasca pernyataan Adam Mosseri, belum diketahui secara pasti berapa jumlah video yang telah dihapus oleh Instagram terkait kebijakan baru ini. Berdasarkan laporan Business Insider, dua akun besar milik pelaku “pick-up artist” yang kerap merekam diri mereka mendekati perempuan di ruang publik menggunakan kacamata tersebut telah dinonaktifkan. Juru bicara Meta mengonfirmasi kepada Business Insider bahwa akun-akun tersebut ditutup karena melanggar aturan mengenai konten pelecehan yang direkam melalui perangkat itu.
Sebagai informasi, kacamata Meta dilengkapi lampu indikator yang menyala saat proses perekaman berlangsung. Pada versi terdahulu, pengguna sempat mengakali sistem dengan merusak atau menutupi lampu tersebut menggunakan selotip atau cara lain. Namun, pembaruan terkini dari Meta akan otomatis menonaktifkan kamera jika perangkat mendeteksi upaya manipulasi pada lampu indikator tersebut.
Walaupun berfungsi normal, lampu kecil di sudut kacamata tidak selalu disadari oleh orang sekitar sebagai penanda bahwa sedang terjadi perekaman, terutama saat berada di luar ruangan dengan pencahayaan terang.
Kacamata pintar Meta menciptakan tantangan privasi yang berbeda dibandingkan ponsel pintar. Umumnya, orang tidak menyadari bahwa mereka sedang direkam melalui kacamata tersebut. Secara tradisional, seseorang bisa mengetahui jika sedang difoto karena objek lain memegang ponsel atau kamera, namun hal ini tidak berlaku bagi kacamata pintar.
“Dengan kacamata ini, situasinya jauh berbeda,” ungkap Thorin Klosowski, seorang aktivis keamanan dan privasi di kelompok hak digital Electronic Frontier Foundation, kepada Fortune. “Kecuali Anda berada tepat di depan mereka, mustahil untuk mengetahui apakah mereka sedang merekam video atau sekadar mengambil foto.”
