Home » Avoidance Coping: Alasan Ilmiah Mengapa Kita Suka Lari dari Masalah

Avoidance Coping: Alasan Ilmiah Mengapa Kita Suka Lari dari Masalah

Terkadang, muncul keinginan untuk memperbaiki hubungan dengan teman dekat atau pasangan, namun kamu terus menunda niat tersebut. Hal ini terjadi bukan karena padatnya jadwal, melainkan karena rasa takut dan cemas akan hasil akhirnya.

Alih-alih menghadapi risiko atau hasil yang tidak sesuai ekspektasi, kamu pun memilih untuk tidak menyelesaikan persoalan tersebut. Dalam dunia psikologi, perilaku ini dikenal dengan istilah Avoidance Coping.

Sayangnya, semakin sering kamu mengabaikan masalah, tumpukan persoalan tersebut justru akan semakin besar. Terdapat beberapa fakta penting mengenai avoidance coping yang dirangkum dari riset psikologi oleh pakar coping management dan psikologi positif, Elizabeth Scott, serta situs Verywellmind yang perlu kamu pahami. Mari simak penjelasannya!

Apa Itu Avoidance Coping?

Saat merasa khawatir dengan konsekuensi dari sebuah masalah, kamu cenderung berupaya menghindari perasaan negatif yang muncul. Akibatnya, kamu mengalihkan perhatian ke aktivitas yang lebih menyenangkan, seperti berselancar di media sosial, berkumpul dengan teman, atau menonton serial favorit selama berjam-jam. Padahal, tindakan ini tidak benar-benar menuntaskan akar permasalahannya.

Pada awalnya, kamu mungkin merasa masalah telah selesai, padahal itu hanyalah pelarian sesaat guna meredam rasa sakit atau ketidaknyamanan. Semakin kamu menghindar, masalah akan terus menumpuk dan memicu stres jangka panjang. Kondisi ini disebut avoidance coping, di mana seseorang hanya menghindar tanpa pernah mencari solusi nyata.

Penyebab Avoidance Coping

Respon setiap individu terhadap masalah sangat bergantung pada pengalaman hidup masing-masing. Seseorang yang pernah mengalami kejadian kurang menyenangkan di kantor atau kampus, misalnya, mungkin memilih untuk menghindar dengan cara bolos atau tidak hadir sama sekali.

Rasa takut tersebut seringkali muncul karena adanya perasaan tidak mampu dalam menangani masalah dengan baik. Contoh lainnya adalah kebiasaan menunda atau menghindari pertemuan dengan orang tertentu karena adanya memori buruk di masa lalu.

Bahaya Sering Menghindari Masalah

Kebiasaan menghindari masalah hanya akan membuat persoalan kian menumpuk dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Lambat laun, kamu mungkin akan berpikir bahwa setiap tantangan mustahil untuk diselesaikan karena terjebak dalam pola pikir yang sama secara terus-menerus.

Pola ini bisa terbawa hingga ke lingkungan kerja. Ketika kamu kesulitan mengerjakan tugas dan takut untuk berdiskusi, maka pekerjaan tersebut tidak akan pernah rampung.

Pada akhirnya, kamu bisa dianggap tidak profesional dan kurang produktif. Bayangkan dampaknya jika hal ini terjadi dalam hubungan dengan sahabat atau keluarga; saat muncul konflik, kamu memilih bungkam dan mengalihkan perhatian, sehingga masalah justru kian rumit. Kesehatan mental pun bisa terganggu karena kamu akan terus merasa gagal dalam menghadapi setiap tantangan hidup.

Cara Mengatasinya

Untuk menghentikan kebiasaan lari dari masalah, langkah pertama adalah mengenali apa sebenarnya masalah yang sedang kamu hadapi. Jangan ragu untuk mengakui emosi negatif yang muncul; kamu berhak merasakannya dan meluapkannya dengan cara yang sehat, misalnya melalui journaling atau menuliskannya.

Setelah memahami inti permasalahannya, cobalah untuk membedah setiap detail masalah tersebut, lalu berlatihlah menyelesaikannya berdasarkan aspek-aspek yang bisa kamu kendalikan atau kelola.

Agar lebih percaya diri, jangan ragu untuk mencari dukungan dari orang terpercaya sebagai teman diskusi. Hal ini akan memotivasimu untuk menuntaskan masalah secara tuntas, bukan sekadar pelarian sementara. Selamat mencoba!

Artikel menarik Lainnya