Home » Sering Mengalah Demi Orang Lain? Waspadai Gejala Echoism Ini

Sering Mengalah Demi Orang Lain? Waspadai Gejala Echoism Ini

Apakah Anda pernah mendengar istilah echoism atau ekoisme? Walaupun belum terlalu populer, perilaku yang berkaitan dengan kondisi ini mungkin kerap terjadi dalam keseharian kita.

Gejala ini sering kali tampak dari tindakan sederhana, misalnya merasa sungkan saat menolak permintaan orang lain atau cenderung selalu mengalah.

Awalnya mungkin terlihat wajar. Namun, jika terus berlanjut hingga Anda sering kali mengabaikan kepentingan pribadi, bisa jadi itu merupakan indikasi echoism.

Artikel ini akan mengulas lebih dalam mengenai apa itu echoism, tanda-tanda yang umum muncul, serta cara mengatasinya dengan merujuk pada laman Verywell Mind dan Healthline.

Apa Itu Echoism?

Tidak semua individu yang Sering Mengalah benar-benar merasa nyaman. Sebagian melakukannya karena khawatir dianggap egois ketika mulai memprioritaskan diri sendiri.

Dalam ranah psikologi, perilaku ini disebut sebagai echoism atau ekoisme. Kondisi ini menyebabkan seseorang terbiasa mendahulukan kebutuhan orang lain dan tanpa sadar menomorduakan dirinya sendiri.

Michelle English, LCSW, seorang pakar kesehatan mental sekaligus salah satu pendiri dan manajer klinis eksekutif di Healthy Life Recovery, menuturkan bahwa penyandang echoism biasanya sangat rendah hati dan gemar menolong. Meski begitu, mereka kerap merasa canggung atau tidak nyaman saat menjadi pusat perhatian atau menerima pujian.

Hal tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental, di mana mereka cenderung memendam hasrat dan emosi pribadinya. Tanpa disadari, mereka pun jarang memberikan perhatian pada kebutuhan diri sendiri.

Penyebab Echoism

Echoism umumnya berkembang secara bertahap. Kebiasaan ini sering kali berakar dari pengalaman yang dialami sejak masa kanak-kanak.

Sebagai contoh, seseorang yang sejak kecil terbiasa menekan keinginannya karena takut membebani orang tua. Situasi seperti ini dapat membentuk seseorang tumbuh dengan kecenderungan lebih mengutamakan orang lain daripada kepentingan pribadinya.

Selain itu, peran lingkungan keluarga sangatlah krusial. Ketika seorang anak jarang diberikan ruang untuk mengutarakan perasaan atau opini, mereka akan terbiasa memendam semuanya seorang diri.

Seiring berjalannya waktu, perilaku tersebut dianggap sebagai sesuatu yang lumrah, hingga akhirnya pola ini terbawa sampai beranjak dewasa.

Tanda Echoism yang Jarang Disadari

Indikasi echoism tidak selalu kentara. Justru, sebagian besar muncul dari kebiasaan yang kerap dilakukan tanpa disadari oleh pelakunya.

Terdapat beragam ciri yang bisa tampak pada seseorang dengan echoism. Meskipun demikian, tidak setiap individu akan menunjukkan seluruh tanda tersebut.

Beberapa ciri echoism antara lain:

  • Merasa sulit mengutarakan keinginan atau kebutuhan pribadi.
  • Selalu memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas segalanya.
  • Merasa canggung saat menerima apresiasi atau perhatian.
  • Khawatir dianggap egois atau dianggap haus perhatian.
  • Kesulitan untuk berkata “tidak” atau membuat batasan diri (boundaries).
  • Lebih sering mengikuti kemauan orang lain.
  • Kerap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.
  • Selalu setuju dengan pandangan orang lain agar tidak terjadi konflik.
  • Memiliki tingkat empati yang sangat tinggi.
  • Enggan meminta pertolongan kepada orang lain.

Memiliki salah satu tanda di atas bukan berarti seseorang pasti mengidap echoism. Namun, jika pola tersebut terus berulang dan dirasa merugikan diri sendiri, mungkin ada hal yang perlu Anda beri perhatian lebih.

Cara Mengatasi Echoism

Walaupun sudah tertanam cukup lama, echoism tetap bisa diperbaiki secara perlahan. Pemulihan bisa dimulai melalui upaya pribadi, dukungan dari orang terdekat, atau bantuan tenaga ahli profesional.

Salah satu langkah awal yang bisa dicoba adalah mulai berani mengungkapkan apa yang sebenarnya Anda inginkan. Misalnya, dengan jujur menyatakan bahwa Anda sedang ingin beristirahat di rumah saat hendak menolak ajakan teman untuk bepergian.

Ungkapan seperti, “Maaf, tapi hari ini aku memilih untuk di rumah saja,” dapat menjadi langkah awal dalam belajar membuat batasan. Dengan sering berlatih, Anda akan semakin percaya diri dalam menyampaikan kehendak Anda.

Jika sebelumnya Anda pernah menjalin hubungan dengan sosok narsistik, proses pemulihannya mungkin memerlukan waktu lebih lama. Psikolog klinis Dr. Avigal Lev menjelaskan bahwa seseorang perlu memahami dampak manipulasi tersebut terhadap dirinya sebelum benar-benar bisa bangkit (move on).

Selanjutnya, fokuslah untuk kembali mengenal diri Anda sendiri. Secara bertahap, Anda dapat menemukan kembali nilai-nilai dan tujuan hidup Anda.

Itulah beberapa poin penting mengenai echoism. Terkadang, kita terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain sampai lalai memperhatikan diri sendiri. Padahal, baik Anda maupun orang lain sama-sama berhak untuk dihargai. Menurut Anda, apakah ada kebiasaan di atas yang pernah Anda alami?

Artikel menarik Lainnya