Perilaku sering lupa menempatkan barang, mulai dari kunci yang tiba-tiba muncul di tumpukan baju kering atau ponsel yang berpindah dari meja televisi ke meja makan tanpa kamu sadari kronologinya, mungkin terdengar ringan, namun cukup lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini tentu kerap menimbulkan rasa jengkel, bingung, bahkan panik, terutama saat sedang tergesa-gesa. Banyak orang yang mengalaminya mungkin menganggap diri mereka ceroboh atau kurang teliti, padahal kebiasaan membiarkan barang berserakan di berbagai tempat ini tidak selalu sesederhana itu.
Dalam banyak situasi, terdapat penjelasan psikologis yang mendasari kebiasaan meninggalkan barang di sembarang tempat. Maka dari itu, alih-alih terus menyalahkan diri sendiri, ada baiknya untuk mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik kebiasaan ini, sebagaimana diulas dari Your Tango berikut.
Terlalu Empatik
![]() Barang tercecer sering dikaitkan dengan persepsi kurang peduli dan kecenderungan neurotik/Foto: Freepik |
Berdasarkan penelitian dari University of Michigan, individu dengan meja kerja yang berantakan kerap dipandang sebagai orang yang kurang peduli dan cenderung neurotik. Pandangan ini akan mendorong Anda—yang cenderung membiarkan barang berserakan di mana saja—untuk menunjukkan bahwa Anda tetap memiliki empati dan kepedulian terhadap orang lain.
Anda akan menunjukkan sikap yang juga umum dimiliki oleh sebagian besar orang, yaitu memperhatikan penilaian orang lain terhadap diri Anda. Hanya saja, perbedaannya, Anda tidak hanya ingin terlihat baik di permukaan atau sekadar pencitraan, melainkan benar-benar berupaya menampilkan kepedulian Anda secara nyata.
Terlahir Kreatif
Meja yang berantakan sering kali mendukung dan memicu pemikiran kreatif, setidaknya menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science. Lingkungan yang kaya akan rangsangan visual dari berbagai benda justru mendorong Anda untuk menjadi lebih inovatif dan imajinatif dibandingkan suasana yang terlalu tertata rapi.
Oleh karena itu, kebiasaan meninggalkan sedikit kekacauan sering kali bukan tanpa alasan. Hal ini bisa jadi merupakan bagian dari cara Anda memicu ide sekaligus cerminan dari keunikan kepribadian yang Anda miliki.
Baca juga: Ramuan Alami Peningkat Kualitas Tidur
Memiliki Keterikatan Emosional yang Tinggi Terhadap Barang-Barang Miliknya
Anda yang memiliki hubungan emosional kuat dengan barang-barang pribadi akan merasa kesulitan untuk membuang atau merapikannya, bahkan jika barang tersebut sudah tidak terpakai dan justru menambah keruwetan. Keterikatan ini sendiri bukan semata-mata soal kebiasaan, tetapi bisa berhubungan dengan identitas diri.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Behavioral Addictions pada tahun 2019 menunjukkan bahwa benda-benda material sering kali merepresentasikan jati diri seseorang, sehingga melepaskannya terasa seperti kehilangan sebagian dari diri. Contohnya terlihat dari kebiasaan menyimpan banyak pakaian yang sudah tidak muat, namun tetap dipertahankan karena masih terkait dengan ekspresi atau gambaran diri yang belum siap untuk dilepaskan.
Sering Berbicara dengan Diri Sendiri
Anda yang sering melakukan self-talk atau berbicara pada diri sendiri cenderung mudah teralih perhatiannya oleh alur pikiran Anda sendiri. Fokus Anda sering terganggu ketika muncul pemikiran atau hal lain yang dianggap lebih penting, termasuk saat sedang mengerjakan tugas sederhana seperti merapikan.
Studi dari Frontiers in Psychology juga menjelaskan bahwa tingkat intensitas self-talk berkaitan dengan fungsi eksekutif seseorang. Jadi, jika Anda dipenuhi banyak pikiran internal dan otak Anda terbebani oleh berbagai masukan tersebut, kemungkinan besar menyelesaikan tugas kecil seperti membersihkan rumah akan terasa sulit untuk dilakukan pada saat itu juga.
Memiliki Kecenderungan Perfeksionis Tersembunyi
Menurut sebuah studi yang dibagikan oleh American Psychological Association, Anda yang perfeksionis sering kali berisiko mengalami depresi dan kecemasan akibat tekanan internal yang Anda berikan pada diri sendiri. Anda menetapkan standar tinggi dan sering membebani diri sendiri sehingga rentan merasa cemas atau kecewa ketika ekspektasi tidak terpenuhi.
Karena perhatian Anda terserap pada pencapaian yang dianggap krusial, seperti performa di sekolah atau tempat kerja, hal-hal remeh seperti kerapian lingkungan sering kali terabaikan dan tidak menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, Anda akan kerap meninggalkan kekacauan kecil di berbagai tempat.

