Home » Mengapa Memberi Penghargaan Diri Sendiri Justru Memicu Pembelian Impulsif pada Generasi Z?

Mengapa Memberi Penghargaan Diri Sendiri Justru Memicu Pembelian Impulsif pada Generasi Z?

Skincapedia.com – Pernahkah muncul keinginan kuat untuk membeli sesuatu setelah melewati hari yang melelahkan? Rasanya seperti kamu pantas mendapatkan barang atau makanan yang kamu inginkan. Tanpa disadari, pola ini sering dikaitkan dengan konsep self-reward.

Self-reward memang sering dianggap sebagai bentuk apresiasi diri. Namun, menurut penelitian, kebiasaan ini juga bisa mendorong keputusan belanja yang impulsif. Pola ini ternyata berkaitan erat dengan cara kerja emosi dan kontrol diri dalam mengambil keputusan. Mari kita simak penjelasannya lebih dalam.

Apa Itu Impulsive Buying?

Menurut Dennis W. Rook, seorang profesor di University of Southern California, dalam jurnalnya yang terbit pada tahun 1987 berjudul The Buying Impulse yang diterbitkan oleh Journal of Consumer Research, impulsive buying adalah dorongan kuat dan tiba-tiba untuk membeli sesuatu secara langsung.

Perilaku ini terjadi secara spontan, tidak direncanakan, dan lebih dipengaruhi emosi dibanding logika. Artinya, setiap keputusan yang diambil sering kali muncul bukan karena kebutuhan mendesak, tetapi hanya sekadar keinginan sesaat.

Self-Control Jadi Faktor Kunci

Penelitian oleh Krisna K. Morits (2025) dalam Journal of Health and Behavioral Science dengan judul Self-Control and Impulsive Buying Behavior in Fashion Models, menunjukkan bahwa self-control memiliki pengaruh signifikan terhadap impulsive buying.

Baca juga: Berapa Lama Telur Rebus Dapat Disimpan di Kulkas?

Sederhananya, semakin tinggi tingkat self-control seseorang, maka semakin rendah kecenderungan mereka untuk melakukan impulsive buying. Sebaliknya, semakin rendah self-control, semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya pembelian impulsif. Bahkan, penelitian tersebut menemukan bahwa sekitar 66,7 persen perilaku impulsive buying dipengaruhi oleh tingkat self-control.

Kenapa Gen Z Lebih Rentan?

Masih dari penelitian Krisna K. Morits, kelompok usia muda, sekitar 18 hingga 22 tahun, cenderung memiliki self-control yang belum sepenuhnya stabil. Mereka juga lebih mudah terpengaruh oleh emosi dan lingkungan digital yang serba cepat.

Selain itu, paparan diskon menarik, promosi gencar, dan tampilan produk yang menggoda di media sosial dapat memicu respons impulsif. Hal ini terutama terjadi ketika tingkat kontrol diri sedang melemah, membuat mereka lebih rentan terhadap godaan belanja.

Self-Reward Bisa Jadi “Pemicu”

Dalam perspektif psikologi, impulsive buying sangat berkaitan erat dengan sistem reward dalam otak manusia.

Menurut penelitian Bas Verplanken dan Ayana Sato, para psikolog dan profesor di University of Bath, dalam jurnal mereka yang berjudul The Psychology of Impulse Buying: An Integrative Self-Regulation Approach yang diterbitkan oleh Journal of Consumer Policy pada tahun 2011, individu dengan kecenderungan impulsif cenderung lebih responsif terhadap hal-hal yang berbau “reward” dan lebih sulit bagi mereka untuk menahan dorongan untuk membeli.

Di sinilah self-reward berperan sebagai pemicu. Ketika seseorang berpikir, “aku pantas kok dapat ini” atau “ini hadiah untuk diri sendiri,” otak akan menganggap pembelian tersebut sebagai bentuk reward. Akibatnya, dorongan impulsif untuk membeli menjadi lebih kuat dan sulit dikendalikan.

Bagaimana Cara Kita Menyikapinya?

Meskipun impulsive buying dapat memberikan kesenangan sesaat, ia juga dapat berkaitan dengan emosi negatif, penurunan self-esteem, hingga masalah finansial. Dalam beberapa kasus, perilaku ini bahkan bisa berkembang menjadi compulsive buying yang jauh lebih sulit dikontrol.

Lantas, bagaimana cara menyikapinya? Latihan sederhana seperti menunda keinginan membeli atau menjadi lebih sadar terhadap pemicu emosional dapat membantu mengurangi dorongan impulsif secara bertahap. Artinya, kebiasaan belanja impulsif ini bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah.

Self-reward memang bisa menjadi bentuk apresiasi diri yang positif. Namun, apabila dikombinasikan dengan rendahnya self-control dan pengaruh emosional yang kuat, niat self-reward tidak akan selamanya berakhir positif dan berpotensi berkembang menjadi kebiasaan yang merugikan.

Dengan memahami pola ini, kamu bisa lebih sadar dalam mengambil keputusan belanja. Jadi, sebelum menekan tombol checkout, cobalah tanyakan pada diri sendiri dulu, apakah ini benar-benar sebuah kebutuhan, atau hanya sekadar dorongan sesaat yang dipicu oleh keinginan untuk memberi penghargaan pada diri sendiri?

Artikel menarik Lainnya