Skincapedia.com – Perdebatan mengenai kaitan antara konsumsi telur dengan munculnya bisul kembali menjadi sorotan publik. Isu ini mencuat setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, membagikan pengalaman masa kecilnya yang sering mengonsumsi telur di kampung halamannya, Grobogan, Jawa Tengah, dan mengaitkannya dengan masalah bisulan yang pernah ia alami.
Dalam sebuah kesempatan, Sudaryono bercerita bahwa keluarganya terbiasa memelihara ayam, sehingga telur menjadi sumber protein utama baginya karena akses terhadap ikan yang sulit di daerah pedesaan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa ia sering mengonsumsi telur dalam jumlah banyak dan merasa hal itu berkontribusi pada tumbuh kembangnya, meski ia juga sempat mengalami bisulan di berbagai bagian tubuhnya saat itu.
Pernyataan tersebut memicu diskusi luas di media sosial, di mana banyak warganet kembali mempertanyakan kebenaran medis dari anggapan turun-temurun bahwa telur adalah penyebab utama bisul. Untuk menjawab keresahan ini, mari kita bedah fakta medis di balik mitos kesehatan yang telah lama beredar di masyarakat Indonesia tersebut.
Penjelasan Medis: Mengapa Bisul Terjadi?

Sejumlah ahli kesehatan, termasuk dokter dan ahli gizi, telah memberikan klarifikasi tegas bahwa anggapan makan telur menyebabkan bisulan adalah sebuah mitos. Ahli gizi dr. Tan Shot Yen, melalui akun Instagram pribadinya @drtanshotyen, menegaskan bahwa tidak ada korelasi langsung antara konsumsi telur—bahkan dalam jumlah banyak—dengan pembentukan bisul pada kulit.
Pakar kesehatan lainnya, dr. Ayman Alatas, juga turut memberikan edukasi melalui utas di media sosialnya. Ia menjelaskan bahwa bisul secara medis disebabkan oleh infeksi bakteri, bukan oleh jenis makanan tertentu. Bakteri yang paling umum menjadi penyebab bisul adalah Staphylococcus aureus, yang menginfeksi folikel rambut atau kelenjar minyak.
“Bisul dan jerawat itu disebabkan oleh infeksi bakteri. Kalau seseorang punya alergi atau sensitivitas terhadap telur, reaksi inflamasi sistemis memang bisa memperburuk kondisi kulit yang sudah ada, tapi bukan berarti telur itu sendiri yang menjadi penyebab utama munculnya bisul,” jelas dr. Ayman.
Kandungan Nutrisi Telur dan Manfaatnya bagi Tubuh
Telur dikenal sebagai salah satu bahan makanan paling padat nutrisi di dunia. Ahli gizi Siti Sora menjelaskan bahwa telur mengandung protein berkualitas tinggi dengan asam amino esensial yang lengkap, serta kaya akan vitamin A, vitamin B12, dan kolin. Nutrisi ini justru sangat dibutuhkan tubuh untuk memperbaiki jaringan dan meningkatkan fungsi sistem imun.
Alih-alih memicu infeksi, protein dari telur justru berperan penting dalam proses penyembuhan jaringan tubuh. Oleh karena itu, para ahli sangat menyarankan agar masyarakat, terutama ibu-ibu, tidak perlu merasa takut atau ragu untuk memberikan telur sebagai sumber protein utama bagi anak-anak demi mendukung tumbuh kembang mereka.

Membedakan Alergi dengan Infeksi
Meskipun telur aman bagi sebagian besar orang, tetap ada kelompok masyarakat yang memiliki alergi telur. Namun, penting untuk membedakan antara reaksi alergi dengan infeksi kulit seperti bisul. Reaksi alergi biasanya dipicu oleh sistem imun yang salah mengenali protein dalam telur sebagai ancaman.
Gejala alergi telur umumnya muncul dalam waktu singkat, mulai dari beberapa menit hingga dua jam setelah dikonsumsi. Gejala tersebut biasanya berupa ruam kemerahan, gatal-gatal, atau pembengkakan ringan pada kulit. Kondisi ini sangat berbeda dengan bisul yang merupakan infeksi bakteri yang membutuhkan waktu lebih lama untuk berkembang dan memiliki mekanisme penanganan yang berbeda.
Sebagai kesimpulan, edukasi dari para ahli menegaskan bahwa kita tidak perlu khawatir mengonsumsi telur selama tubuh tidak memiliki riwayat alergi spesifik. Kunci utama dalam menjaga kesehatan kulit adalah dengan menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan, serta memastikan asupan gizi yang seimbang. Jadi, jangan biarkan mitos lama menghalangi Anda untuk mendapatkan manfaat luar biasa dari telur.
