Saat mendengar istilah orang berhati dingin, mungkin asumsi pertama yang muncul adalah sosok yang tidak punya perasaan atau masa bodoh. Padahal, realitanya jauh lebih kompleks dari itu.
Berdasarkan pandangan psikolog Linda Mealey dan Stuart Kinner, individu berhati dingin adalah mereka yang memiliki tingkat empati rendah. Mereka mengalami kesulitan untuk mengerti serta merasakan apa yang dialami orang lain. Itulah mengapa mereka sering kali terkesan memiliki hati yang dingin.
Lebih jauh lagi, karakter ini bisa diidentifikasi melalui pola kebiasaan sehari-hari. Mengenali hal tersebut dapat membantu kita menjaga diri dari relasi yang menguras emosi serta memahami perspektif mereka. Dikutip dari Your Tango, mari simak penjelasannya berikut ini!
Lebih Sering Menutup Diri

Individu yang berhati dingin biasanya jarang membagikan cerita mengenai kehidupan pribadi mereka. Dalam interaksi sosial, mereka cenderung menghindari topik obrolan yang terlalu privat, sehingga membuat mereka tampak tertutup.
Psikolog Leon F. Seltzer menjelaskan bahwa orang dengan karakter ini sering kali tumbuh dalam lingkungan yang kurang memberikan kehangatan emosional. Contohnya, memiliki orang tua yang abai terhadap kebutuhan emosional anak atau tidak pernah mendengarkan mereka. Dampaknya, mereka belajar untuk menjadi sangat mandiri dan enggan bergantung pada orang lain.
Mereka pun lebih memilih menyembunyikan pikiran dan perasaan, enggan mengekspresikan emosi, serta berusaha menjauhi konflik. Mereka meyakini bahwa dengan bersikap tertutup, mereka akan terhindar dari rasa sakit hati.
Sulit Memahami Perasaan Diri Sendiri dan Orang Lain

Tipe orang seperti ini biasanya kesulitan untuk memahami serta menjalin koneksi emosional dengan diri sendiri maupun orang lain. Saat ada sosok terdekat yang mencurahkan isi hati atau menangis di hadapan mereka, respon yang diberikan sering kali datar, seperti mengucapkan “Ya sudah” atau “Jangan berlebihan”.
Menurut psikolog Matthew Boland, perilaku ini dipicu oleh berbagai faktor, seperti riwayat pengkhianatan, hubungan yang traumatik, atau hilangnya kepercayaan terhadap sesama.
Akibatnya, pikiran dan tubuh mereka selalu berada dalam mode bertahan (fight or flight). Mereka menjadi penuh curiga, cenderung menganalisis setiap tutur kata dan tindakan orang lain, hingga sulit menaruh kepercayaan kepada siapapun. Ujung-ujungnya, mereka pun sulit menciptakan hubungan yang hangat dengan orang di sekitarnya.
Bersikap Terlalu Mandiri

Mereka yang berhati dingin merasa wajib menyelesaikan segala hal seorang diri dan menolak untuk bergantung pada pihak lain. Hal ini membuat mereka menjadi pribadi yang sangat mandiri.
Jika ada seseorang yang menawarkan bantuan, mereka biasanya akan menolak dengan mengatakan, “Saya bisa sendiri” atau “Tidak usah repot-repot”.
Kemandirian yang berlebihan ini muncul karena pengalaman masa lalu yang mengajarkan bahwa tidak ada orang yang bisa diandalkan, bahwa meminta tolong hanya akan berujung pada kekecewaan, dan ketergantungan pada orang lain dianggap berisiko. Mereka beranggapan bahwa menerima bantuan berarti akan ada pamrih yang diminta di kemudian hari.
Hasilnya, orang lain sering menilai mereka sebagai pribadi yang dingin, sulit didekati, dan tidak membutuhkan kehadiran siapapun.
