Skincapedia.com – Menjadi pusat perhatian atau merasa dihargai oleh lingkungan sekitar sebenarnya adalah kebutuhan manusia yang sangat mendasar. Secara psikologis, mendapatkan pengakuan yang sehat dapat menjadi bahan bakar untuk meningkatkan rasa percaya diri, menekan tingkat stres, hingga mempererat jalinan relasi dengan orang terkasih.
Namun, garis antara kebutuhan emosional yang wajar dan perilaku yang berlebihan sering kali menjadi kabur. Ketika seseorang mulai bertindak secara self-centered atau haus akan validasi secara konstan, interaksi sosial justru berubah menjadi sesuatu yang melelahkan bagi orang di sekitarnya. Alih-alih mendapatkan respek, perilaku ini justru sering membuat mereka dijauhi.
Melansir dari YourTango, ada pola perilaku tertentu yang menjadi ciri khas seseorang yang sedang “lapar” akan perhatian. Memahami pola ini bukan untuk menghakimi, melainkan agar kita lebih bijak dalam bersikap. Berikut adalah empat tanda utama yang sering muncul dalam interaksi sosial sehari-hari.
1. Kebutuhan Berlebih untuk Dipuji

Salah satu sinyal paling kentara adalah keinginan untuk terus-menerus mendapatkan validasi melalui pujian. Profesor psikologi Joachim I. Krueger menjelaskan bahwa perilaku ini sering berakar dari rasa tidak percaya diri yang mendalam, yang kemudian dibungkus oleh ego untuk menutupi kerentanan tersebut.
Ironisnya, dalam upaya keras untuk terlihat mengesankan di depan publik, mereka sering kali terjebak dalam kepalsuan. Mereka cenderung membangun persona yang bukan diri mereka sebenarnya hanya demi mendapatkan “tepuk tangan” dari orang lain. Bahkan, mereka yang memiliki kecerdasan sosial tinggi pun kadang melakukan ini dengan cara yang lebih halus, yakni melalui pamer terselubung yang bertujuan untuk memancing pujian tanpa terlihat kentara.
2. Menjadikan Diri Sendiri sebagai “Korban”

Pernahkah Anda bertemu seseorang yang selalu memiliki cerita tragis dalam setiap pencapaiannya? Sering kali, orang yang haus validasi akan memposisikan dirinya sebagai korban atau victim playing. Strategi ini digunakan untuk dua tujuan: menghindari tanggung jawab atas kesalahan pribadi sekaligus memanen simpati dari orang di sekitar.
Dengan membungkus kesuksesan atau kegagalan mereka dalam narasi “perjuangan yang paling berat,” mereka berharap mendapatkan pengakuan ekstra. Padahal, perilaku ini justru memberikan dampak sebaliknya. Alih-alih mendapatkan empati, orang di sekitar justru merasa tidak nyaman karena drama yang terus-menerus diciptakan, yang pada akhirnya merusak reputasi mereka sendiri.
3. Percakapan yang Selalu Berputar pada Diri Sendiri

Komunikasi yang sehat adalah jalan dua arah di mana setiap pihak merasa didengar. Namun, bagi mereka yang haus validasi, percakapan hanyalah panggung bagi diri mereka sendiri. Mereka cenderung mendominasi obrolan, mengabaikan lawan bicara, dan menarik setiap topik kembali ke arah hidup mereka.
Sikap self-centered ini membuat orang lain merasa tidak dianggap. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini menciptakan jarak sosial karena orang lain merasa lelah harus terus menjadi pendengar tanpa pernah mendapatkan ruang untuk berbagi cerita mereka sendiri.
4. Kebiasaan Berbohong untuk Hal-Hal Sepele

Keinginan untuk terlihat lebih hebat dari kenyataan sering kali memicu kebiasaan berbohong, bahkan untuk hal-hal yang sangat kecil. Karena merasa diri mereka “kurang,” mereka merasa perlu melakukan fabrikasi informasi demi memuaskan ego dan mendapatkan impresi positif dari orang lain.
Penting untuk diingat bahwa kebohongan kecil yang diulang-ulang merupakan red flag atau tanda bahaya dalam hubungan. Kebiasaan ini tidak hanya merusak kepercayaan orang lain, tetapi juga menunjukkan bahwa individu tersebut belum mampu menerima dirinya sendiri apa adanya. Pada akhirnya, kejujuran adalah kunci utama untuk mendapatkan validasi yang tulus, bukan sekadar perhatian sementara yang semu.
Mengetahui tanda-tanda ini tentu bukan berarti kita harus memusuhi mereka. Namun, dengan memahami pola tersebut, kita bisa lebih menjaga kesehatan mental kita sendiri dalam bergaul dan tetap menetapkan batasan yang sehat. Pernahkah Anda menjumpai perilaku serupa di lingkungan pergaulan Anda?
