Home » Ini yang Terjadi pada Pakaian dan Barang Bekas Keluarga Kerajaan Inggris

Ini yang Terjadi pada Pakaian dan Barang Bekas Keluarga Kerajaan Inggris

Skincapedia.com – Menumpuknya pakaian atau barang yang sudah tidak terpakai di rumah bisa menjadi masalah tersendiri. Kebiasaan umum yang dilakukan banyak orang adalah mendonasikan barang layak pakai, mendaur ulang, atau mengolahnya menjadi produk baru untuk mengurangi limbah.

Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana nasib barang-barang yang tidak lagi digunakan oleh keluarga kerajaan Inggris? Apakah mereka memiliki aturan khusus untuk barang-barang tersebut, atau justru menyimpannya karena memiliki nilai sejarah monarki? Apakah barang-barang tersebut didonasikan atau diwariskan?

Untuk menjawab rasa penasaran tersebut, Bethan Holt, seorang pakar mode kerajaan dan penulis beberapa buku tentang gaya busana kerajaan, telah membagikan informasi mengenai kebiasaan pengelolaan dan daur ulang barang di kalangan keluarga kerajaan Inggris. Informasi ini dirangkum dari Reader’s Digest.

Mari kita telusuri lebih lanjut mengenai apa saja yang dilakukan keluarga kerajaan Inggris terhadap barang-barang yang sudah tidak lagi mereka gunakan.

Apa yang Dilakukan Keluarga Kerajaan Inggris dengan Barang yang Tidak Lagi Dipakai?

Ratu Elizabeth II/Foto: Instagram/theroyalfamily

Keluarga kerajaan Inggris tampaknya memiliki panduan tersendiri untuk setiap aspek kehidupan mereka, termasuk dalam mengelola barang-barang yang sudah tidak terpakai. Menurut Bethan Holt, barang-barang tersebut dikelola berdasarkan sifat dan pemiliknya.

Meskipun beberapa barang memiliki nilai historis dan harus disimpan untuk generasi mendatang, Holt menggambarkan anggota keluarga kerajaan sebagai individu yang cenderung praktis. Mereka berusaha agar barang-barang yang tidak lagi dipakai tetap dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Berikut adalah beberapa cara yang dilakukan keluarga kerajaan Inggris dalam menangani barang-barang yang tidak lagi mereka gunakan.

Upcycle

Menurut Holt, mendiang Ratu Elizabeth II memiliki prinsip untuk tidak membuang pakaian yang masih layak pakai hanya karena ia sudah tidak menyukainya lagi. Holt menjelaskan bahwa Ratu Elizabeth II sangat berhati-hati dengan pakaiannya dan memiliki pola pikir seperti di masa perang, yang mendorongnya untuk memanfaatkan kembali kain menjadi pakaian baru.

Baca juga: Drama Korea Bertema Fashion yang Wajib Ditonton Penggemar Mode

Kebiasaan ini terutama berlaku untuk pakaian di luar tugas resmi. Sang Ratu sering mengubah pakaian yang sudah usang atau tidak lagi diinginkan menjadi busana baru yang kemudian ia kenakan kembali di lingkungan istana. Jika pakaian tersebut sudah tidak dapat diperbaiki, Ratu Elizabeth II akan mengubahnya menjadi kain lap.

Tetap Dipakai

Raja Charles III didiagnosis menderita kanker pada bulan Februari lalu (Raja Charles III/Foto: instagram.com/theroyalfamily)

Anggota keluarga kerajaan seperti Pangeran Philip, Raja Charles, dan Putri Anne memiliki kebiasaan serupa dengan Ratu Elizabeth II. Mereka cenderung menggunakan kembali barang-barang yang sama, bahkan dari dekade ke dekade.

Sebagai contoh, Raja Charles sering terlihat mengenakan mantel yang dulunya milik ayahnya. Putri Anne pernah mengenakan mantel berusia 57 tahun ke sebuah Perjamuan Kenegaraan. Pangeran Philip bahkan diketahui menggunakan sepatu pernikahannya selama 70 tahun setelah acara tersebut.

Mendiang Putri Diana juga termasuk anggota keluarga kerajaan yang gemar mendaur ulang pakaiannya. Salah satu contohnya adalah gaun biru muda lengan panjang yang ia kenakan saat kunjungan ke Portugal pada tahun 1987. Gaun tersebut kemudian dimodifikasi menjadi tanpa lengan dengan garis leher berbentuk hati dan dikenakan kembali di sebuah pesta amal dua tahun kemudian.

Diwariskan kepada Anggota Keluarga Kerajaan Lainnya

Barang-barang yang tidak lagi terpakai dapat diwariskan kepada anggota keluarga kerajaan lainnya, terutama untuk perhiasan. Meskipun perhiasan mahkota dianggap sebagai amanah negara dan bukan milik pribadi keluarga kerajaan, perhiasan pribadi berada di luar klasifikasi ini.

Holt menyebutkan bahwa terdapat koleksi besar perlengkapan upacara bersejarah dan perhiasan tak ternilai yang telah dikumpulkan dan diwariskan selama beberapa generasi. Meskipun tidak ada larangan tegas bagi anggota keluarga kerajaan untuk menyingkirkan barang-barang ini, mereka cenderung melihat diri mereka sebagai penjaga barang-barang tersebut, bukan sekadar pemiliknya.

Salah satu perhiasan paling ikonik yang telah diwariskan selama lebih dari satu abad adalah Tiara Simpul Kekasih Ratu Mary. Hiasan kepala ini, yang menampilkan deretan mutiara tegak, dirancang untuk Ratu Mary pada tahun 1913 dan telah dikenakan oleh Ratu Elizabeth II, Putri Diana, dan Putri Kate.

Disimpan di Arsip

Kecantikan Putri Diana selalu menjadi buah bibir di setiap generasi (Putri Diana/Foto: instagram.com/princesssdianaa)

Mengingat nilai sejarah pakaian Ratu Elizabeth II, banyak di antaranya disimpan dengan cermat di arsip khusus di Windsor yang menampung lebih dari 4.000 item. Arsip ini berlokasi di Menara Bundar Kastil Windsor dan tidak terbuka untuk umum.

Namun, pada tahun ini, para penggemar berkesempatan melihat sekilas beberapa pakaian langka dalam rangka ulang tahun ke-100 mendiang Ratu Elizabeth II. Galeri Raja di Istana Buckingham menyelenggarakan pameran khusus bertajuk “Ratu Elizabeth II: Kehidupannya dalam Gaya”. Pameran ini menampilkan 200 item, termasuk gaun pengiring pengantin yang dikenakan Ratu pada usia delapan tahun untuk pernikahan pamannya, Adipati Kent, dengan Putri Marina dari Yunani pada tahun 1934, serta gaun pernikahan, penobatan, dan pilihan gaun malam dari era 1970-an.

Untuk urusan furnitur, barang-barang yang tidak lagi dibutuhkan atau dianggap ketinggalan zaman biasanya masuk ke arsip Royal Trust. Barang-barang tersebut kemudian dipindahkan ke istana atau perkebunan lain. Jika rusak, kemungkinan besar akan dibuang.

Dilelang

Putri Diana pernah melelang 79 gaunnya pada Juni 1997, menghasilkan lebih dari 3 juta USD. Dana tersebut kemudian disalurkan untuk penelitian kanker dan AIDS.

Sementara anggota keluarga kerajaan lainnya cenderung menyimpan barang-barang mereka, kerabat mereka terkadang melelangnya setelah mereka meninggal. Holt mencontohkan kasus Putri Margaret, di mana Tiara Poltimore miliknya terjual hampir 1 juta poundsterling di Rumah Lelang Christie’s pada tahun 2006. Barang-barang milik saudara perempuan Ratu Elizabeth lainnya juga turut dijual di rumah lelang yang sama.

Dalam kasus lelang barang-barang milik Putri Margaret, hasil penjualan tidak disalurkan ke badan amal, melainkan langsung digunakan untuk membayar pajak warisan. Holt menjelaskan bahwa anak-anak Putri Margaret perlu menjual barang-barang ibunya untuk memenuhi kewajiban pajak tersebut.

“[Anak-anak Margaret] perlu menjual barang-barangnya untuk membayar pajak warisan, yang menunjukkan bahwa keluarga kerajaan sering menghadapi kenyataan yang sama seperti kita semua, meskipun dalam skala yang lebih rumit,” tutur Holt.

Demikianlah cara keluarga kerajaan Inggris mengelola barang-barang yang tidak lagi mereka pakai atau inginkan. Praktik memakai ulang dan mendaur ulang pakaian telah lama menjadi bagian dari tradisi kerajaan. Mendiang Ratu Elizabeth II dan suaminya turut berperan dalam menjadikan kebiasaan ini sebagai sebuah standar.

“Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip adalah generasi dari masa penjatahan perang dan filosofi ‘memanfaatkan dan memperbaiki’,” kata Holt. “Terlepas dari kekayaan dan kemegahan mereka, mereka selalu mempertahankan sikap realistis.”

Bagaimana menurut Anda mengenai kebiasaan ini?

Artikel menarik Lainnya