Home » Kontroversi Seputar Jeff Bezos dan Amazon

Kontroversi Seputar Jeff Bezos dan Amazon

Kontroversi Jeff Bezos dan Amazon – Sosok pendiri Amazon, Jeff Bezos, kembali menarik perhatian publik baru-baru ini. Perhatian ini semakin membesar setelah terungkapnya perannya sebagai sponsor utama Met Gala 2026 yang diselenggarakan pada hari Senin, 4 Mei 2026.

Menurut laporan dari Fortune, Jeff Bezos dan pasangannya, Lauren Sanchez Bezos, dilaporkan menyumbangkan dana sebesar 10 juta USD, atau setara dengan Rp173 miliar, untuk Met Gala 2026. Di luar relevansi acara mode dan seni tersebut dengan latar belakang bisnis Bezos, sang miliarder ini memang memiliki rekam jejak kontroversi yang kerap memicu perdebatan luas di masyarakat.

Artikel ini akan mengulas beberapa kontroversi yang senantiasa membayangi Jeff Bezos dan perusahaan raksasanya, Amazon.

Isu Kondisi Lingkungan Kerja yang Buruk di Amazon

Pekerja Amazon terpaksa buang air kecil di botol, apalagi saat harus melakukan layanan pengiriman super cepat, dan melewati daerah terpencil. Hal inilah yang menimbulkan aksi protes di Met Gala 2026, di mana terdapat botol yang diduga berisi cairan urine./ Foto: Instagram.com/everyonehateselon_

Sejak tahun 2019, Amazon telah menjadi sorotan terkait metode mereka dalam memenuhi target pengiriman yang sangat cepat. Forbes melaporkan adanya kesaksian dari para pekerja yang mengaku terpaksa buang air kecil ke dalam botol demi menjaga ketepatan waktu kerja mereka.

Menariknya, pada tahun 2021, tim Amazon sempat menanggapi sebuah cuitan dari anggota DPR AS, Mark Pocan, yang membantah tuduhan tersebut. Amazon menyangkal keras klaim tersebut, berargumen bahwa jika tuduhan itu benar, tidak akan ada yang mau bekerja untuk mereka.

Namun, hanya seminggu berselang, Amazon akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi yang berisi permintaan maaf. Mereka mengakui bahwa pernyataan sebelumnya keliru dan menjelaskan bahwa para kurir memang sering menghadapi kesulitan menemukan toilet, terutama saat bertugas di daerah terpencil, apalagi di masa pandemi COVID-19 ketika banyak toilet umum ditutup.

Situasi ini tidak mengherankan jika Met Gala 2026 juga diwarnai protes yang ditujukan kepada Jeff Bezos, pendiri Amazon. Bahkan sebelum acara resmi dimulai, staf Metropolitan Museum of Art menemukan ratusan botol berisi cairan yang diduga urine, tersembunyi di dalam lokasi acara.

Amazon Dinilai Membahayakan Pekerja di Beberapa Gudang

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menemukan bahwa Amazon menempatkan pekerjanya dalam kondisi kerja yang tidak aman. Temuan ini secara khusus mencakup tiga gudang tambahan di Aurora (Colorado), Nampa (Idaho), dan Castleton (New York).

Sebelumnya, pelanggaran serupa juga telah teridentifikasi di gudang Amazon lainnya yang berlokasi di Florida, Illinois, dan New York pada Juli 2022.

Dalam laporan tersebut, di keenam lokasi gudang Amazon yang diperiksa, para penyelidik menemukan bahwa pekerja menghadapi risiko tinggi mengalami cedera. Cedera yang paling umum terjadi adalah pada punggung bawah, serta gangguan pada otot dan tulang.

Risiko ini timbul akibat berbagai faktor, termasuk keharusan pekerja untuk mengangkat paket dalam jumlah besar, berat barang yang diangkat sangat signifikan, posisi tubuh yang tidak ergonomis saat mengangkat, serta jam kerja yang panjang demi memenuhi target produktivitas.

Dugaan Amazon Menaikkan Harga Demi Keuntungan

Amazon pernah dituduh menekan merek-merek besar seperti Levi’s dan Hanes. Tujuannya adalah agar merek-merek tersebut meminta peritel lain untuk menaikkan harga produk mereka. Dugaan ini terungkap setelah dokumen gugatan antimonopoli terkait praktik tersebut dibuka ke publik, sebagaimana dilaporkan oleh Common Dreams.

Implikasinya, jika ada toko lain yang menawarkan produk dengan harga lebih murah, Amazon akan menekan merek terkait untuk menaikkan harga di tempat lain pula.

Praktik semacam ini tentu sangat merugikan, terutama bagi masyarakat Amerika yang saat ini tengah menghadapi kesulitan ekonomi. Upaya untuk mendorong kenaikan harga demi meraup keuntungan berlebih dinilai sebagai tindakan yang sangat tidak etis.

Desain Situs Amazon Dituduh Sengaja ’Menjebak’ Agar Berlangganan Layanan yang Sulit Dibatalkan

Pada tahun 2025, Amazon sepakat untuk membayar denda sebesar 2,5 miliar USD terkait kasus layanan berlangganan Prime. Kesepakatan ini terjadi setelah Pemerintah AS menuduh Amazon sengaja mendesain situs webnya sedemikian rupa untuk menjebak puluhan juta orang agar berlangganan layanan yang kemudian sulit dibatalkan, seperti dilaporkan oleh NPR.

FTC (Federal Trade Commission) menggugat Amazon pada tahun 2023, dengan fokus utama pada layanan Prime. Amazon dituduh menggunakan desain yang dianggap manipulatif, memaksa, atau menyesatkan. Tujuannya adalah agar pengguna secara tidak sadar terdaftar dalam langganan otomatis yang terus diperpanjang.

Selain itu, proses pembatalan langganan sengaja dibuat rumit dan berlapis-lapis. Hal ini dirancang agar pengguna merasa enggan untuk berhenti berlangganan.

Amazon Menolak Proposal untuk Menangani Dampak Perubahan Iklim

Pada rapat tahunan investor Amazon di tahun 2025, perusahaan ini menolak semua usulan yang diajukan oleh pemegang saham eksternal. Termasuk di antaranya adalah tiga proposal yang secara spesifik bertujuan untuk menangani dampak Amazon terhadap perubahan iklim, seperti diberitakan oleh Reuters.

Beberapa usulan yang ditolak mencakup permintaan laporan tambahan mengenai emisi karbon Amazon, evaluasi dampak lingkungan dari pusat data (data center) yang mereka miliki, serta peningkatan transparansi terkait penggunaan bahan kemasan, khususnya plastik.

Amazon beralasan bahwa laporan yang telah mereka miliki sudah memadai dan mereka sedang berupaya untuk mengurangi dampak lingkungan dari operasional mereka.

Isu Tenaga Kerja Amazon

Salah satu tuduhan yang dialamatkan kepada Amazon adalah kasus pemecatan karyawan yang berniat untuk bergabung dengan serikat pekerja. Hal ini dilaporkan oleh Common Dreams.

Dalam penyelesaian kasus tersebut, para pekerja yang telah dipecat selama lebih dari dua tahun hanya menerima kompensasi setara dengan dua minggu gaji. Jumlah ini dianggap sangat kecil oleh banyak pihak.

Lebih lanjut, Yahoo News melaporkan insiden tragis di mana seorang pekerja Amazon meninggal dunia di lantai gudang di Oregon. Menurut kesaksian pekerja lain, aktivitas kerja tetap dilanjutkan sementara jasad korban masih berada di lokasi kejadian.

Menanggapi isu ini, pihak Amazon menyatakan bahwa keselamatan karyawan adalah prioritas utama. Mereka juga menjelaskan bahwa area lain di gedung tidak dievakuasi secara langsung untuk menghindari gangguan terhadap upaya penanganan pekerja yang meninggal tersebut.

Jeff Bezos Memiliki Gaya Hidup yang Mewah

Sementara masalah yang dihadapi oleh para pekerja Amazon tampaknya tak kunjung usai, kekayaan Jeff Bezos justru terus meroket, diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar. Hal ini menjadikannya salah satu orang terkaya di dunia.

Bahkan, ia pernah menggelar pesta pernikahan mewah selama beberapa hari di Italia dengan biaya puluhan juta dolar, yang dihadiri oleh berbagai selebriti dunia.

Bezos juga memiliki koleksi properti mewah di berbagai lokasi strategis, mulai dari Florida, California, Hawaii, hingga Washington. Kemewahan gaya hidup Jeff Bezos ini kerap disorot publik, terutama mengingat masih adanya pertanyaan mengenai kesejahteraan karyawan Amazon.

Dugaan Amazon yang Disebut ‘Mendukung’ Aksi ICE

Pada tahun 2019, para aktivis imigran menggelar aksi protes di delapan kota, termasuk di depan kediaman Jeff Bezos di New York. Mereka membawa sekitar 270.000 petisi yang mendesak Amazon untuk memutus hubungan kerja sama dengan otoritas imigrasi Amerika Serikat, seperti dilansir oleh Al Jazeera.

Amazon diduga terlibat dalam penegakan kebijakan imigrasi AS melalui layanan cloud computing-nya, Amazon Web Services (AWS). AWS memiliki kontrak dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS), yang berwenang mengelola data imigran.

Lebih jauh, pemerintah AS menggunakan perangkat lunak dari Palantir untuk melacak dan mengelola data imigran. AWS berperan sebagai penyimpan database tersebut, sementara Palantir menyediakan sistem pengolahan datanya. Hal ini secara tidak langsung menjadikan Amazon sebagai pendukung operasional ICE (Immigration and Customs Enforcement) dalam proses penahanan dan deportasi.

Aktivis juga melakukan aksi serupa di depan apartemen mewah Jeff Bezos di Manhattan, menyuarakan penolakan terhadap aksi ICE yang mendatangi rumah atau tempat kerja imigran, yang berujung pada pemisahan keluarga imigran tanpa peringatan.

Baca juga: Pilihan Makanan yang Sebaiknya Dihindari di Siang Hari

Tidak hanya itu, Al Jazeera juga melaporkan bahwa Amazon dikabarkan sempat berencana memperluas kerja samanya dengan pemerintah AS, termasuk dalam penyimpanan data biometrik. Rencana ini memicu protes keras karena teknologi pengenalan wajah Amazon dikhawatirkan dapat disalahgunakan untuk tindakan deportasi tanpa proses hukum yang adil.

Artikel menarik Lainnya