Dulu, bekerja lembur sampai akhir pekan sering dianggap sebagai tanda kesuksesan dan dedikasi. Namun di era modern, banyak ahli mulai menekankan pentingnya work-life balance demi kesehatan mental, kebahagiaan, dan produktivitas jangka panjang.
Menurut penelitian dari Remote.com melalui Global Life-Work Balance Index 2025, kualitas hidup pekerja dinilai berdasarkan sembilan indikator utama. Indikator ini mencakup jam kerja, cuti tahunan, maternity leave, hingga tingkat kebahagiaan. Data ini dikumpulkan dari 60 negara dengan ekonomi terbesar di dunia untuk mengidentifikasi negara mana yang masih memiliki budaya kerja paling berat.
Penasaran negara mana saja yang masuk daftar work-life balance terburuk tahun ini? Yuk simak rankingnya di bawah ini!
1. Hong Kong yang Punya Budaya Kerja Super Kompetitif

Hong Kong menempati peringkat ke-46 global dengan skor indeks 43,87. Menurut data, banyak pekerja di Hong Kong lebih memprioritaskan stabilitas finansial dibanding keseimbangan hidup. Akibatnya, jam kerja panjang menjadi hal yang dianggap normal di sana.
Budaya kerja di kota ini juga sangat kompetitif, terutama di sektor finansial. Banyak pekerja akhirnya terjebak dalam burnout loop karena tuntutan untuk terus bekerja keras demi mempertahankan gaya hidup mahal dan tekanan sosial yang tinggi.
2. Filipina dengan Jam Kerja Tinggi Setiap Minggu

Filipina berada di posisi ke-41 global dengan skor 46,60. Rata-rata pekerja di Filipina bekerja sekitar 42,25 jam per minggu. Hal ini membuat negara ini masuk kategori work-life balance rendah menurut indeks global tersebut.
Meskipun jam kerjanya tergolong tinggi, tingkat kebahagiaan pekerja Filipina masih cukup baik jika dibandingkan dengan negara lain dalam daftar ini. Hal ini menunjukkan bahwa faktor sosial dan budaya juga berperan penting dalam cara seseorang memandang keseimbangan hidup dan pekerjaan.
3. India yang Masih Kuat dengan Hustle Culture

India menempati posisi ke-52 global dengan skor rendah, yaitu 41,00. Menurut penelitian, pekerja di India rata-rata bekerja hingga 45,7 jam per minggu dengan jatah cuti tahunan yang relatif sedikit.
Selain itu, banyak pekerja tetap merasa harus bekerja lebih lama demi mengejar standar ekonomi global. Budaya hustle culture yang kuat membuat work-life balance sering kali dianggap kurang penting dibandingkan produktivitas dan pendapatan.
Amerika Serikat yang Prioritaskan Produktivitas

Amerika Serikat berada di posisi ke-59 global dengan skor indeks sangat rendah, yaitu 31,17. Negara ini bahkan dikenal sebagai satu-satunya negara maju yang tidak memiliki kewajiban federal terkait cuti berbayar dan maternity leave.
Menurut penelitian, pekerjaan di Amerika Serikat sangat berkaitan dengan akses layanan kesehatan. Akibatnya, banyak orang merasa harus terus bekerja tanpa henti demi mempertahankan stabilitas hidup mereka.
Kazakhstan dengan Lingkungan Kerja Intens dan Berat

Kazakhstan menempati posisi ke-43 global dengan skor 44,57. Meskipun memiliki jatah cuti tahunan yang cukup baik, budaya kerja di negara ini masih didominasi oleh sektor pertambangan dan industri berat.
Banyak pekerja harus menghabiskan waktu lama jauh dari rumah dalam lingkungan kerja yang intens. Situasi ini membuat proses pemulihan menjadi sulit dan work-life balance terasa semakin tidak seimbang.
Baca juga: Perempuan Alpha dengan Standar Hidup Tinggi
Menurut kamu sendiri, work-life balance yang ideal itu lebih soal jam kerja pendek atau lingkungan kerja yang sehat dan suportif?
