The Devil Wears Prada kembali hadir dengan sekuel yang lebih relevan dan kompleks. Film ini tidak hanya menampilkan gemerlap dunia fashion, tetapi juga menggambarkan perubahan budaya kerja, dinamika industri media, hingga pergeseran definisi kesuksesan perempuan dari masa ke masa.
Jika film pertama berbicara tentang kerasnya dunia majalah fashion dan ambisi pribadi di era kejayaan media cetak, film terbaru justru menempatkan karakter-karakternya di tengah industri yang mulai berubah akibat digitalisasi.
Dari perubahan karakter Miranda Priestly dan Andy Sachs hingga transformasi dunia fashion modern, mari kita simak perbedaan The Devil Wears Prada dulu dan sekarang.
Ketika Fashion Magazine Masih Menjadi Pusat Dunia

Di film pertama, Runway Magazine digambarkan sebagai pusat kekuasaan budaya pop dan fashion global. Miranda Priestly bukan hanya editor majalah, tetapi juga penentu tren, pembentuk reputasi, sekaligus simbol otoritas industri.
Gambaran ini sesuai dengan keadaan di tahun 2006, di mana majalah fashion seperti Vogue, Elle, dan Harper’s Bazaar menjadi “kitab suci” industri mode. Bekerja di majalah besar dianggap sebagai tiket menuju karier prestisius, bahkan bagi seseorang seperti Andy Sachs yang awalnya tidak tertarik dengan fashion.
Film pertama juga memperlihatkan budaya kerja era 2000-an yang sangat berbeda dengan sekarang. Lembur dianggap normal, atasan toksik sering dimaklumi sebagai bagian dari kesuksesan, dan burnout belum menjadi pembahasan publik seperti saat ini.
Dunia Fashion Tidak Lagi Sama

Di The Devil Wears Prada 2, Runway tidak lagi berada di puncak kejayaan seperti dulu. Dunia media cetak mengalami penurunan dan pengaruh editor majalah tidak sebesar era 2000-an. Miranda Priestly, yang dulu terlihat hampir sulit untuk tersentuh, kini digambarkan menghadapi ancaman perubahan zaman.
Film terbaru juga menunjukkan bagaimana fashion kini lebih dekat dengan strategi bisnis dan kapitalisasi digital dibanding sekadar kreativitas editorial. Jika film pertama berfokus pada dunia redaksi majalah, sekuelnya memperlihatkan relasi antara fashion, teknologi, investor besar, hingga pengaruh miliarder terhadap budaya populer.
Perubahan tema ini terasa sangat relevan dengan kondisi industri fashion modern, di mana algoritma media sosial, influencer marketing, TikTok trends, hingga AI mulai memengaruhi industri yang dulu sangat bergantung pada editor dan rumah mode besar.
Transformasi Andy Sachs

Perbedaan yang paling menarik dari sekuel ini adalah transformasi Andy Sachs. Andy direpresentasikan sebagai perempuan muda yang mencoba membuktikan diri di lingkungan kerja kompetitif pada film 2006. Ia masuk ke Runway dengan idealisme jurnalistik dan perlahan terjebak dalam ritme kerja yang menguras hidup pribadinya. Konflik terbesar Andy saat itu adalah memilih antara ambisi karier atau mempertahankan identitas dirinya.
Namun di film terbaru, Andy hadir sebagai perempuan yang jauh lebih matang. Ia tidak lagi mudah terintimidasi oleh Miranda maupun dunia fashion. Bukan menjadi “korban” sistem kerja toksik, Andy justru memahami bagaimana cara bermain di dalam sistem tanpa kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Perubahan ini terasa mencerminkan perubahan cara generasi modern memandang karier. Jika generasi 2000-an identik dengan hustle culture dan glorifikasi kerja berlebihan, generasi sekarang lebih sadar soal work-life balance, kesehatan mental, dan batas profesional.
Perkembangan Karakter Emily Charlton

Selain Andy, film terbaru ini juga menampilkan perkembangan karakter Emily Charlton. Di film pertama, Emily digambarkan sebagai asisten Miranda yang obsesif, perfeksionis, dan rela melakukan apa pun demi bertahan di dunia fashion elit.
Di sekuel terbaru ini, Emily justru berkembang menjadi figur yang paling berhasil beradaptasi dengan zaman baru. Ia bukan lagi sekadar asisten ambisius, namun menjadi pemain besar dalam industri luxury brand.
Miranda Priestly Tidak Lagi Menjadi “Villain” Utama

Pada 2006, banyak orang menganggap Miranda Priestly adalah bos kejam yang mengintimidasi semua orang di sekitarnya. Namun, dalam beberapa tahun terakhir persepsi publik terhadap karakter Miranda berubah cukup drastis. Banyak penonton modern justru menganggap sistem kerja dan budaya industri bermasalah.
Di sekuelnya, Miranda juga digambarkan lebih manusiawi. Ia tetap tajam, dingin, dan intimidating, tetapi juga terlihat sebagai seseorang yang sedang berusaha bertahan di tengah perubahan industri. Miranda harus menghadapi kenyataan bahwa dunia yang dulu ia kuasai mulai berubah tanpa bisa ia kendalikan sepenuhnya.
Menampilkan Fashion Ikonik dalam Pendekatan yang Berbeda

Film pertama terkenal karena wardrobe yang sangat memorable. Cerulean sweater monologue, makeover Andy Sachs, hingga coat collection Miranda menjadi bagian dari pop culture. Namun, fashion dalam film 2006 masih sangat berakar pada estetika editorial majalah yang polished, formal, luxury-heavy, dan sangat dipengaruhi runway.
Tetapi di film terbarunya, dibuat lebih modern dan realistis terhadap tren fashion hari ini. Styling para karakter terlihat lebih personal, effortless, dan dekat dengan luxury street style yang kini mendominasi fashion global.
Selain itu, film terbaru juga jauh lebih sadar terhadap branding. Rumah mode besar tampil lebih eksplisit, kolaborasi dengan luxury brands terasa lebih nyata, dan dunia fashion kini digambarkan sebagai bagian dari strategi bisnis global.
Dari Film Fashion Menjadi Kritik Sosial

Perbedaan paling besar antara The Devil Wears Prada 2006 dan 2026 sebenarnya bukan terletak pada pakaiannya, tetapi pada isu yang dibahas. Film pertama adalah drama workplace dengan balutan fashion glamor.
Baca juga: Sarapan yang Baik untuk Pencernaan
Berbeda dengan sekuelnya yang berkembang menjadi kritik terhadap perubahan industri media, pengaruh miliarder teknologi, krisis identitas majalah fashion, dan bagaimana kreativitas harus berhadapan langsung dengan kepentingan bisnis digital.
