Home » Sering Lega Saat Janji Dibatalkan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Sering Lega Saat Janji Dibatalkan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Coba bayangkan kamu telah menyepakati janji untuk bertemu teman yang sudah dijadwalkan sejak seminggu lalu. Mendadak, rencana tersebut dibatalkan oleh temanmu karena alasan tertentu. Apa reaksi pertama yang muncul? Apakah kamu merasa kesal dan marah? Atau justru merasa lega dan bahagia?

Pada umumnya, seseorang mungkin akan merasa jengkel, marah, atau kecewa saat agenda pertemuan dibatalkan, terutama jika terjadi di saat-saat terakhir. Namun sebaliknya, ada juga sekelompok orang yang justru merasa jauh lebih senang dan tenang saat janji temu tersebut batal.

Sebenarnya, terdapat banyak alasan mengapa kita merasa gembira ketika batal bertemu dengan seseorang atau rekan. Bisa jadi kita memang sedang tidak siap, tidak terlalu bersemangat untuk pergi, atau mungkin sedang merasa lelah dan membutuhkan waktu untuk diri sendiri.

Ternyata, fenomena ini berkaitan dengan cara kita memandang waktu yang kita miliki. Mari kita simak penjelasan dari penelitian berikut ini!

Alasan Orang Merasa Senang Ketika Janji Bertemu Dibatalkan di Menit Terakhir

Umumnya, orang mungkin akan merasa kesal, marah, dan kecewa ketika pertemuan dibatalkan, terlebih di menit-menit terakhir. Tapi sebaliknya, ada juga, lho, kelompok orang yang merasa jauh lebih lega dan senang ketika janji bertemu dibatalkan.Ternyata, fenomena ini berkaitan dengan bagaimana kita memandang waktu yang kita miliki, yaitu contrast effect.

Orang-orang yang menyukai pembatalan rencana di menit-menit terakhir biasanya merasa memiliki “waktu tambahan” yang terasa lebih panjang dibandingkan durasi waktu luang pada umumnya. Melansir Your Tango dari StudyFinds, waktu tambahan ini merupakan waktu senggang yang muncul secara tiba-tiba. Waktu tambahan ini cenderung terasa lebih lama daripada waktu luang yang memang sudah direncanakan sebelumnya, walaupun durasi sebenarnya tetap sama.

Para peneliti telah melakukan sejumlah eksperimen untuk membuktikan hal ini. Dalam salah satu percobaan, sekelompok mahasiswa diminta berada di laboratorium untuk menjalani sesi kuliah dan diberi tahu bahwa sesi akan berakhir 10 menit lebih awal. Sementara itu, kelompok mahasiswa lainnya diinformasikan bahwa sesi mereka berjalan selama 30 menit, namun ternyata disudahi lebih cepat pada menit ke-20.

Perbedaan di antara kedua kelompok ini adalah kelompok pertama memang mengantisipasi adanya waktu luang, sedangkan kelompok kedua tidak menduga akan mendapatkan waktu senggang.

Kedua kelompok mahasiswa tersebut sejatinya memiliki sisa waktu yang persis sama, yaitu 10 menit. Namun, kelompok kedua yang menerima “bonus waktu” secara mendadak merasa seolah-olah mereka memiliki waktu yang jauh lebih banyak.

Hal ini membuktikan bahwa persepsi kita terhadap waktu sebenarnya dipengaruhi oleh ekspektasi, bukan sekadar durasi waktu yang nyata kita miliki.

Fenomena Contrast Effect

Umumnya, orang mungkin akan merasa kesal, marah, dan kecewa ketika pertemuan dibatalkan, terlebih di menit-menit terakhir. Tapi sebaliknya, ada juga, lho, kelompok orang yang merasa jauh lebih lega dan senang ketika janji bertemu dibatalkan.Ternyata, fenomena ini berkaitan dengan bagaimana kita memandang waktu yang kita miliki, yaitu contrast effect.

Perasaan tersebut muncul akibat fenomena yang dikenal sebagai contrast effect atau efek kontras. Menurut Asosiasi Psikologi Amerika, efek kontras adalah persepsi perbedaan yang lebih tajam atau intens antara dua stimulus atau sensasi ketika keduanya diletakkan berdampingan atau terjadi secara berurutan.

Artinya, otak kita menilai sesuatu berdasarkan perbandingan. Sebagai contoh, awalnya kamu punya janji temu, entah itu bertemu teman atau menghadiri rapat, sehingga kamu tidak memiliki waktu luang. Kemudian, rencana tersebut batal atau selesai lebih cepat, sehingga kamu mendadak memiliki waktu luang.

Otak akan membandingkan kedua kondisi tersebut, yakni dari semula tidak punya waktu sama sekali menjadi memiliki 10 menit waktu bebas. Selisih antara 0 menit menjadi 10 menit membuat durasi 10 menit itu terasa sangat kontras, berharga, dan tampak jauh lebih lama dibandingkan 10 menit dalam situasi normal.

Hal menarik lainnya yang perlu dicatat adalah bahwa persepsi waktu ini tidak berubah tergantung apakah seseorang memang menginginkan rencana tersebut batal atau tidak. Mengetahui bahwa janji ke dokter gigi dibatalkan mungkin terasa lebih melegakan daripada saat acara kumpul bersama teman batal, namun persepsi waktu yang terasa lebih panjang tersebut tetap sama, terlepas dari apakah kita merasa kecewa atau tidak.

Mantan profesor psikologi klinis, Michael Wiederman, PhD, menjelaskan bahwa waktu adalah entitas unik karena setiap orang selalu ingin memiliki lebih banyak waktu. Namun secara teknis, setiap individu memiliki jatah 24 jam sehari, meskipun mereka menghabiskan waktu tersebut untuk aktivitas yang berbeda-beda.

Hal ini memberikan tantangan mengenai bagaimana penelitian tersebut dapat diterapkan dalam keseharian. Eksperimen dengan mahasiswa menunjukkan bahwa mereka tidak hanya merasa memiliki lebih banyak waktu, tetapi juga bertindak seolah-olah demikian. Pembatalan rencana di menit terakhir bisa jadi merupakan hal positif karena mampu mendorong kita untuk bergerak lebih santai di tengah ritme kehidupan yang serba cepat.

Bagaimana pendapatmu mengenai hal ini?

Artikel menarik Lainnya