Apakah Anda tahu salah satu unsur krusial dalam kecerdasan emosional? Benar, yaitu kemampuan untuk mengelola emosi. Pada individu yang memiliki *Emotional Intelligence* (EQ) rendah, mereka cenderung kesulitan dalam memahami dan mengendalikan perasaan mereka.
Perkara sekecil apa pun terkadang dapat memicu kemarahan mereka yang bisa bertahan menit, bahkan berjam-jam. Dalam keseharian, kebiasaan seperti apa yang dapat mengindikasikan seseorang memiliki EQ rendah?
Berikut ini 3 indikator individu dengan EQ rendah yang dapat Anda kenali.
1. Cenderung Menilai Orang Lain
Orang dengan EQ rendah seringkali menunjukkan sifat reaktifnya, terburu-buru dalam bertindak atau mengambil kesimpulan. Mereka cenderung bertindak tanpa pertimbangan matang. Contohnya? Gampang menilai orang lain.
Mereka kurang cakap dalam memahami cara membaca emosi orang lain maupun emosi diri sendiri. Menurut *Inc*, individu yang mudah menghakimi cenderung membentuk persepsi negatif terhadap seseorang sebelum mempertimbangkan konteks situasi dan emosi awal untuk memastikan kebenaran dan akurasi.
2. Takut Dinyatakan Keliru, Selalu Merasa Benar
Salah satu ciri EQ rendah yang dapat teramati dari seseorang adalah bagaimana ia merespons sebuah kritik. Apakah ia terbuka terhadap kritik dan saran yang ada, atau sebaliknya?
Mengutip *Verywell Mind*, individu dengan EQ rendah kerap bersikeras dalam perdebatan dan enggan mendengarkan pandangan orang lain. Bahkan ketika dihadapkan pada bukti kesalahannya, ia akan menyangkal kebenaran fakta tersebut.
Pada prinsipnya, seseorang harus mampu menghadapi kritik. Tidak semua kritik bersifat negatif. Justru, kritik dapat menjadi sarana untuk benar-benar berkembang di masa mendatang.
3. Sering Melontarkan Pernyataan yang Kurang Berempati
Individu dengan EQ rendah cenderung mengucapkan kalimat yang tidak menunjukkan empati, seperti “Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu,” atau “Saya tidak akan berubah. Inilah saya.”
Pernyataan pertama secara terang-terangan mengabaikan perasaan orang lain. Hal ini menunjukkan minimnya empati terhadap sesama, terutama saat mereka sedang menghadapi kesulitan, dan hanya akan memperkeruh sebuah hubungan.
Sementara itu, pernyataan kedua, kecerdasan emosional juga berkaitan dengan kemampuan untuk bertransformasi seiring berjalannya waktu melalui pembelajaran dan perkembangan. Orang dengan EQ rendah seringkali lebih kaku dan menolak upaya untuk berubah dan berkembang, sebagaimana dilaporkan *CNBC Make It*. Keyakinan diri yang kuat memang penting, namun keterbukaan terhadap kemungkinan baru juga krusial. Maka, hentikan kebiasaan mengatakan, âAku tidak akan berubah. Inilah saya.â
Baca juga: MBTI yang Dikenal Paling Analitis dan Berpikir Logis
Demikianlah tiga kebiasaan individu dengan kecerdasan emosional rendah yang kerap kita temui. Teruslah belajar untuk mengelola dan memahami emosi orang lain serta diri sendiri. Banyak hal negatif telah terjadi akibat rendahnya kemampuan EQ.
