Home » Kebiasaan Sebelum Tidur yang Menunjukkan Ketidakbahagiaan

Kebiasaan Sebelum Tidur yang Menunjukkan Ketidakbahagiaan

Skincapedia.com – Malam hari seringkali menjadi waktu yang dinantikan untuk beristirahat setelah seharian beraktivitas. Namun, bagi sebagian orang, malam justru menjadi periode yang penuh tantangan, di mana pikiran-pikiran negatif yang berusaha ditepis sepanjang hari mulai bermunculan.

Perjuangan batin ini seringkali termanifestasi secara tidak sadar melalui rutinitas yang dilakukan sebelum tidur. Berdasarkan rangkuman dari YourTango dan Cottonwood Psychology, terdapat lima kebiasaan menjelang tidur yang dapat mengindikasikan bahwa seseorang sedang mengalami ketidakbahagiaan. Mari kita telaah lebih lanjut.

1. Berolahraga Terlalu Dekat dengan Jam Tidur

Bagi sebagian orang, olahraga di malam hari menjadi cara untuk mengkompensasi rasa kehilangan kendali atas waktu yang mereka alami di siang hari. Mereka memaksakan diri untuk tetap aktif, bahkan jika itu berarti mengorbankan waktu istirahat yang seharusnya.

Namun, aktivitas fisik yang dilakukan terlalu larut ini dapat meningkatkan suhu tubuh dan mengganggu ritme biologis alami tubuh. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Nature Communications menemukan korelasi kuat antara berolahraga dalam rentang waktu empat jam sebelum tidur dengan kesulitan untuk tertidur dan penurunan kualitas istirahat. Padahal, penurunan suhu tubuh yang alami sangat krusial untuk memberikan sinyal kepada otak bahwa sudah waktunya untuk beristirahat.

2. Bekerja hingga Larut

Melanjutkan pekerjaan atau memikirkan tugas-tugas profesional saat berada di tempat tidur seringkali menjadi indikasi adanya tekanan emosional yang mendalam. Individu yang sedang tidak bahagia kerap kali kesulitan untuk menciptakan batasan yang jelas antara kehidupan pribadi dan profesional mereka.

Mereka mungkin menggunakan pekerjaan sebagai mekanisme pelarian dari masalah pribadi yang sedang dihadapi, atau merasa bersalah apabila tidak terus-menerus dalam kondisi produktif. Studi dalam Journal of Sleep Research menunjukkan bahwa aktivitas mental yang intens di malam hari dapat membuat otak tetap dalam kondisi siaga, yang pada gilirannya meningkatkan tingkat stres dan menunda waktu tidur.

3. Melakukan Percakapan Berat yang Memancing Emosi

Memulai diskusi yang serius atau terlibat dalam pertengkaran sesaat sebelum tidur dapat menjadi cerminan dari rasa frustrasi yang terpendam dan akhirnya meledak ketika energi seseorang berada pada titik terendah. Riset yang diterbitkan dalam Journal of Neuroscience mengindikasikan bahwa tidur segera setelah mengalami konflik dapat menyebabkan emosi negatif tersebut bertahan hingga keesokan harinya.

Secara naluriah, tubuh manusia cenderung menolak untuk tertidur dalam situasi yang menegangkan sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri. Akibatnya, konflik yang terjadi di malam hari hanya akan memperburuk kualitas tidur dan membuat proses istirahat terasa tidak nyaman.

4. Membaca Cerita yang Menegangkan

Memilih bacaan bergenre misteri atau thriller sebelum tidur bisa jadi merupakan bentuk penolakan terhadap keheningan malam. Bagi individu yang sedang tidak bahagia, keheningan tersebut mungkin terasa tidak nyaman, sehingga mereka sengaja membuat otak tetap sibuk agar tidak terjerumus dalam pikiran tentang masalah nyata.

Namun, pilihan konten semacam ini justru dapat memicu adrenalin. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Trials memberikan peringatan bahwa stimulasi berlebihan dari bacaan yang menegangkan dapat membuat tubuh mengabaikan rasa kantuk yang sebenarnya sudah mulai dirasakan.

5. Doomscrolling atau Menonton TV hingga Larut Malam

Menatap layar ponsel atau televisi hingga larut malam sering kali menjadi cara untuk melarikan diri dari perasaan hampa atau kesepian. Menurut studi yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychiatry, kebiasaan ini memiliki dampak negatif karena paparan cahaya biru dari layar dapat menekan produksi melatonin, hormon yang berperan penting dalam mengatur siklus tidur.

Lebih lanjut, aktivitas scrolling media sosial secara terus-menerus juga rentan memicu perbandingan sosial yang dapat menimbulkan perasaan tertinggal. Dampaknya, kebiasaan ini seringkali dikombinasikan dengan ngemil di malam hari sebagai bentuk pelampiasan emosional untuk menenangkan perasaan bosan atau tidak nyaman.

Kebiasaan-kebiasaan di atas bisa menjadi sinyal halus bahwa seseorang sedang berjuang untuk menemukan kedamaian batin di penghujung hari. Memperbaiki rutinitas tidur dapat menjadi langkah awal yang penting untuk memulihkan kembali kebahagiaan yang mungkin sempat hilang.

Artikel menarik Lainnya