Home » Dua Lipa Luncurkan Perpustakaan untuk Buku Terlarang

Dua Lipa Luncurkan Perpustakaan untuk Buku Terlarang

Skincapedia.com – Kecintaan mendalam popstar global Dua Lipa terhadap dunia literasi kini terwujud dalam sebuah inisiatif yang lebih ambisius. Setelah dikenal aktif melalui *book club*-nya, Service95 Book Club, Dua Lipa kini melangkah lebih jauh dengan meresmikan sebuah perpustakaan unik bernama Manifesto Library di Porto, Portugal.

Berbeda dari perpustakaan pada umumnya, Manifesto Library didedikasikan untuk menampung dan memamerkan buku-buku yang pernah mengalami pelarangan atau sensor. Pendirian perpustakaan ini bukan sekadar tentang koleksi bacaan, melainkan sebuah pernyataan kuat tentang pentingnya kebebasan berpikir dan menjaga ruang agar suara-suara yang dibungkam tetap dapat didengar.

Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa minat Dua Lipa terhadap literasi melampaui sekadar hobi. Melalui Manifesto Library, ia ingin menciptakan sebuah wadah yang menantang narasi dominan dan mendorong diskusi kritis tentang kekuasaan, kontrol, suara, dan memori.

Manifesto Library Hadir di Jantung Kota Porto

Pembukaan Manifesto Library ini dilangsungkan di Livraria Lello, sebuah toko buku bersejarah yang menjadi ikon kota Porto, Portugal. Keberadaan perpustakaan ini menandai langkah signifikan bagi Service95 Book Club, mengubah platform digitalnya menjadi sebuah ruang fisik yang dapat diakses publik.

Livraria Lello sendiri merupakan destinasi budaya yang terkenal dengan arsitektur megahnya, menjadikannya latar yang sempurna untuk memamerkan koleksi buku yang memiliki cerita penting di baliknya. Ini adalah manifestasi fisik dari misi Dua Lipa untuk memberikan kesempatan yang lebih luas bagi para pembaca dan penulis, terlepas dari lokasi geografis mereka.

Koleksi Berani: Buku-Buku yang Menentang Dominasi

Keunikan Manifesto Library terletak pada koleksinya yang terdiri dari sekitar 100 judul buku kontemporer yang pernah menghadapi pembredelan atau sensor. Menurut laporan dari People Magazine, koleksi ini dikategorikan ke dalam empat tema utama yang saling berkaitan: power (kekuatan), control (kontrol), voice (suara), dan memory (memori).

Pemilihan tema-tema ini menegaskan bahwa buku-buku yang ada di perpustakaan ini dipilih karena dianggap mampu menantang narasi yang berlaku. Di antara karya-karya yang dipamerkan adalah “The Handmaid’s Tale” karya Margaret Atwood, yang popularitasnya kian meroket berkat adaptasi serial televisi.

Selain itu, hadir pula “Felon” karya Reginald Dwayne Betts, serta karya-karya signifikan dari penulis ternama seperti Salman Rushdie dan Olga Tokarczuk. Dalam sebuah pernyataan, Dua Lipa menekankan bahwa buku-buku ini dipilih karena keberanian mereka dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting, bahkan ketika keberadaan karya-karya tersebut sempat dipertanyakan.

Evolusi Alami dari Komunitas Pembaca

Bagi para penggemar musik dan budaya pop, kiprah Dua Lipa dalam dunia literasi bukanlah hal baru. Melalui Service95 Book Club, ia secara konsisten membagikan rekomendasi buku, mewawancarai para penulis, dan memperkenalkan audiensnya pada berbagai kisah dari penjuru dunia. Platform ini telah menjadi sarana efektif untuk mempromosikan literasi dan dialog antarbudaya.

Oleh karena itu, hadirnya Manifesto Library dapat dilihat sebagai kelanjutan yang logis dan organik dari aktivitas Service95 Book Club. Ini bukan sekadar proyek dadakan yang didorong oleh status selebritas, melainkan sebuah ekspresi tulus dari kecintaannya pada literasi dan komitmennya terhadap kebebasan berekspresi.

Membaca sebagai Bentuk Perlawanan dan Eksplorasi

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Euronews, Dua Lipa menggambarkan Manifesto Library sebagai sebuah “shrine” atau tempat suci bagi buku-buku yang telah dihilangkan dari peredaran. Konsep ini menekankan penghargaan dan perlindungan terhadap karya-karya yang mungkin terancam punah.

Dengan demikian, Dua Lipa berharap perpustakaan ini dapat menjadi tempat yang aman bagi para penulis yang berani mengkritisi kekuasaan, sekaligus menjadi ruang bagi pembaca yang menolak dibatasi dalam pilihan literatur mereka. Ia percaya bahwa ketika sebuah buku dilarang atau disensor, yang hilang bukan hanya cerita, tetapi juga kesempatan untuk bertanya, berimajinasi, dan memahami dunia dengan lebih baik.

Manifesto Library menjadi bukti nyata bahwa keterlibatan Dua Lipa dalam dunia literasi adalah sebuah perjalanan yang serius dan terencana. Dari klub buku, wawancara penulis, hingga pendirian perpustakaan yang mengangkat isu sensitif, ia menunjukkan bagaimana figur publik dapat berkontribusi lebih dari sekadar karya hiburan. Inisiatif ini secara aktif mendorong literasi, kebebasan berpikir, dan memandang buku sebagai bagian integral dari percakapan yang lebih luas mengenai kebebasan, identitas, dan hak fundamental untuk membaca.

Artikel menarik Lainnya