Home » Mengapa Kita Lebih Royal Membeli Kado untuk Orang Lain daripada untuk Diri Sendiri? Ini Alasannya

Mengapa Kita Lebih Royal Membeli Kado untuk Orang Lain daripada untuk Diri Sendiri? Ini Alasannya

Skincapedia.com – Pernahkah Anda merasa sangat mudah merogoh kocek dalam untuk membelikan kado spesial bagi sahabat, namun mendadak menjadi sangat selektif dan hemat saat harus membeli barang kebutuhan sendiri? Fenomena ini mungkin terasa sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika mencari hadiah untuk orang terkasih, kita sering kali menghabiskan waktu berhari-hari menelusuri toko daring demi mendapatkan barang kualitas terbaik tanpa terlalu memikirkan harganya. Sebaliknya, saat kita membutuhkan kemeja baru untuk bekerja, kita cenderung menimbang-nimbang berulang kali, bahkan sering kali menunda pembelian tersebut karena merasa “sayang” dengan uang yang dikeluarkan.

Kondisi ini menciptakan sebuah kontradiksi psikologis yang menarik. Mengapa kita merasa begitu loyal saat berbagi, namun justru menjadi pribadi yang sangat pelit terhadap kebutuhan personal? Mari kita bedah alasan ilmiah di balik perilaku unik ini.

Kamu mungkin pernah menyimpan hadiah dari orang lain, meskipun kamu sebenarnya tidak menyukai hadiah itu atau tidak menginginkannya. Namun, daripada menumpuknya di laci atau tempat lainnya, kamu sebaiknya menyingkirkan hadiah tersebut.

Bahagia karena memberi

Secara psikologis, manusia memang dirancang untuk merasa lebih bahagia ketika mengeluarkan uang untuk orang lain dibandingkan untuk diri sendiri. Berbagai riset menunjukkan bahwa tindakan seperti berdonasi, memberikan kado, atau sekadar mentraktir teman mampu meningkatkan level kebahagiaan secara signifikan dibandingkan dengan konsumsi pribadi.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Positive Psychology melibatkan 788 partisipan untuk menguji fenomena ini. Hasilnya cukup mencengangkan: mereka yang memilih untuk menyumbangkan uangnya untuk amal melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang memilih untuk menyimpan uang tersebut untuk kepentingan pribadi.

Menariknya, kebahagiaan ini mencapai titik tertinggi ketika keputusan untuk berbagi tersebut dilakukan tanpa beban mental. Di sinilah konsep decision fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan berperan. Saat kita membeli barang untuk diri sendiri, otak kita dipaksa bekerja keras untuk menimbang pro dan kontra, yang sering kali berujung pada rasa bersalah atau kecemasan akan penyesalan di masa depan.

Decision fatigue adalah kondisi di mana kualitas keputusan seseorang menurun setelah melalui serangkaian proses pengambilan keputusan yang panjang. Dalam belanja, ini sering memicu keraguan yang tidak perlu.

Sedang mencari ide kado tahun baru untuk sahabat yang unik dan berkesan? Simak rekomendasi hadiah tahun baru anti mainstream yang cocok untuk berbagai karakter sahabatmu./ Foto: freepik.com/lookstudio

Kepuasan batin dan altruisme

Meski donasi otomatis atau kewajiban sosial terasa praktis, para peneliti mencatat bahwa tingkat kebahagiaan akan meningkat berkali-kali lipat jika kita secara sadar memilih untuk memberi. Ketika kita mengalihkan uang yang seharusnya untuk diri sendiri menjadi sebuah pemberian bagi orang lain, ada sebuah kepuasan batin yang muncul karena kita telah melakukan tindakan altruistik yang murni.

Hal ini sejalan dengan konsep “altruisme tidak murni”. Manusia secara alami bersedia mengesampingkan keuntungan ekonomi pribadi demi membantu orang lain. Ilmu saraf pun membuktikan bahwa tindakan memberi mengaktifkan pusat penghargaan (reward center) di otak yang sama dengan saat kita menerima hadiah, sehingga memberi orang lain sebenarnya adalah bentuk investasi emosional bagi diri kita sendiri.

Kecerdasan emosional sebagai kunci

Sikap royal saat memberi kado juga erat kaitannya dengan kecerdasan emosional. Profesor pemasaran, Rajani Pillai dan Sukumarakurup Krishnakumar, menemukan bahwa individu dengan pemahaman emosional tinggi cenderung lebih banyak mengeluarkan uang untuk orang terdekat. Mereka memiliki kemampuan untuk memproyeksikan kegembiraan penerima kado, dan bayangan kebahagiaan tersebut sudah memberikan kepuasan tersendiri bagi si pemberi.

Inspirasi kado Valentine 2023 untuk pacar, gebetan, sahabat, hingga keluarga/freepik/benzoix

Kemampuan untuk memprediksi emosi orang lain dan memahami betapa berartinya sebuah pemberian bagi hubungan tersebut menjadi alasan utama mengapa kita tidak keberatan mengeluarkan biaya lebih. Kita tidak sedang membeli “barang”, melainkan membeli “momen” dan “kedekatan”.

Di sisi lain, mengapa kita begitu pelit pada diri sendiri? Profesor Russell Belk dari Universitas York menjelaskan bahwa ketika berbelanja untuk diri sendiri, kita cenderung menggunakan standar ekonomi yang ketat. Kita terobsesi mencari diskon atau menunda keinginan demi alasan efisiensi anggaran. Namun, aturan “hemat” tersebut seketika luntur saat kita membeli kado untuk orang lain karena kita memberikan label “istimewa” pada kado tersebut.

Kesimpulannya, kita menjadi royal kepada orang lain karena kita memandang kado sebagai simbol hubungan yang berharga. Sementara itu, saat belanja untuk diri sendiri, kita sering kali mengabaikan aspek emosional dan hanya fokus pada aspek transaksional. Jadi, tidak perlu merasa bersalah jika sesekali Anda ingin memanjakan diri sendiri, karena menjaga diri sendiri juga merupakan bentuk investasi emosional yang sama pentingnya.

Artikel menarik Lainnya