Fenomena hustle culture atau gaya hidup yang menuntut seseorang untuk terus bekerja tanpa jeda telah menjadi tren di tengah masyarakat modern yang serba cepat. Pola pikir ini menciptakan anggapan keliru bahwa kualitas diri seseorang ditentukan oleh tingkat kesibukan dan produktivitasnya.
Dampaknya, banyak orang menganggap bahwa beristirahat atau mengambil waktu rehat merupakan tanda kemalasan. Padahal, keberhasilan tidak bisa dinilai hanya dari seberapa sibuk atau lelahnya kita saat hari berakhir.
Menurut seorang psikolog dan terapis relasi, Dr. Mindy DeSeta, Ph.D., tidak semua perilaku yang tampak malas sebenarnya berakar dari kurangnya motivasi. Sering kali, seseorang justru sedang menjaga kesehatan mental, energi, dan waktu mereka dengan membuat batasan-batasan yang sehat, termasuk dengan mengambil jeda atau melakukan kegiatan yang sekilas terlihat “malas”.
Berdasarkan penjelasan Dr. DeSeta, ada beberapa kebiasaan yang dianggap “malas” namun justru mencerminkan kecerdasan emosional yang mumpuni. Mari simak ulasan selengkapnya yang dilansir dari Parade berikut ini!
Membutuhkan Waktu Sendiri

Pernahkah kamu merasa sangat butuh waktu untuk menyendiri? Lalu, muncul perasaan bersalah karena menganggap diri sendiri “malas” hanya karena enggan menghadiri sebuah acara sosial.
Jangan terburu-buru menghakimi diri sendiri. Menurut Dr. DeSeta, kemampuan untuk menyadari kebutuhan akan waktu menyendiri justru merupakan indikator kecerdasan emosional yang baik.
“Individu yang cerdas secara emosional paham kapan mereka harus mengisi ulang tenaga daripada memaksakan diri untuk menyelesaikan semua hal,” jelasnya.
“Menolak ajakan bukan berarti seseorang tidak peduli. Sering kali, itu adalah bentuk penghormatan terhadap batasan pribadi. Waktu sendiri mampu memperbaiki suasana hati, meredakan stres, dan membuat seseorang lebih fokus saat berinteraksi dengan orang lain,” tambahnya.
Mungkin orang di sekitar menganggapmu sebagai sosok yang malas, padahal mereka tidak memahami apa yang sedang kamu kelola. Menetapkan batasan yang sehat adalah wujud kesadaran diri, bukan tanda kemalasan.
Istirahat Teratur Selama Jam Kerja

Terdapat perbedaan mendasar antara perilaku yang didasari kecerdasan emosional dengan sekadar bermalas-malasan. Mengambil jeda 30 menit untuk makan siang atau sekadar berjalan santai di sekitar area kerja untuk melemaskan otot bukanlah bentuk kemalasan.
“Seseorang yang sering beranjak dari meja kerjanya mungkin terlihat seperti sedang menghindari tanggung jawab,” ujar Dr. DeSeta. “Padahal kenyataannya, istirahat singkat membantu seseorang untuk menyegarkan pikiran, menjaga konsentrasi, dan mengambil keputusan dengan lebih baik daripada harus memaksakan diri bekerja hingga kelelahan mental.”
Tidak Langsung Membalas Pesan

Di era yang serba digital ini, muncul ekspektasi tinggi bahwa setiap pesan harus segera dibalas. Padahal, hidup tidak seharusnya hanya dihabiskan dengan menatap layar ponsel saja, bukan?
Orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi menyadari bahwa mereka bukanlah mesin yang harus siap sedia kapan pun. Mereka juga memiliki kehidupan pribadi yang perlu dihormati.
“Beberapa orang beranggapan bahwa pesan teks atau email yang tidak segera dibalas adalah tanda kurang motivasi atau ketidakpedulian,” ungkap Dr. DeSeta. “Sering kali, itu adalah batasan sehat yang memungkinkan seseorang tetap fokus pada pekerjaan, keluarga, atau waktu pribadi daripada merasa terikat untuk selalu tersedia setiap saat.”
Pulang Kerja Tepat Waktu

Akibat budaya hustle culture, mereka yang pulang kerja tepat waktu sering dianggap kurang berdedikasi atau pemalas. Padahal, pulang tepat waktu adalah bentuk apresiasi terhadap diri sendiri. Mereka paham bahwa produktivitas dan nilai diri tidak diukur dari berapa banyak jam lembur yang dihabiskan.
“Mereka yang secara konsisten pulang tepat waktu sering kali dinilai secara tidak adil sebagai sosok yang minim dedikasi,” papar Dr. DeSeta. “Padahal, dalam banyak kasus, mereka sekadar menjaga waktu pribadi dan sadar bahwa bekerja lembur secara terus-menerus tidak menjamin produktivitas yang lebih baik.”
Meluangkan Waktu untuk Tidak Melakukan Apa-Apa

Individu dengan kecerdasan emosional tinggi biasanya sengaja mengosongkan jadwal untuk sekadar bersantai tanpa melakukan aktivitas apa pun. Hal ini membantu mereka menjernihkan pikiran yang pada akhirnya mendukung kecerdasan emosional.
Menurut Dr. DeSeta, menyediakan waktu luang untuk diri sendiri sangat bermanfaat untuk meredakan stres, memulihkan energi mental, serta mencegah kelelahan berlebih sebelum terjadi.
Ingin bergabung dengan komunitas tempat kamu bisa mengikuti berbagai acara daring dan luring yang menarik? Komunitas ini terbuka bagi siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki, dan kami juga memiliki wadah khusus bagi kamu yang masih berstatus mahasiswa atau mahasiswi. Yuk, bergabung dengan Community sekarang. Caranya DAFTAR DI SINI!
