Setiap individu pasti pernah melewati masa di mana beban emosi terasa begitu menyesakkan. Perasaan seperti duka, amarah, rasa kecewa, hingga kecemasan bisa datang secara bersamaan, yang terkadang menghambat kemampuan untuk berpikir jernih.
Namun, mereka yang tampak stabil secara emosional mampu mengendalikan perasaannya dengan baik. Salah satu caranya adalah dengan melontarkan Kalimat-kalimat sederhana kepada diri sendiri. Ucapan tersebut dapat membantu mereka dalam menaklukkan tekanan. Dilansir dari Your Tango, berikut adalah 5 ungkapan yang kerap digunakan oleh mereka yang menjaga ketenangan mental dan emosional. Simak pembahasannya,
1. “Tarik napas dulu”

Kala emosi meluap, banyak orang tanpa sadar menahan napas mereka. Oleh sebab itu, dengan membisikkan kalimat “tarik napas dulu”, seseorang dapat membantu menstabilkan gejolak emosi yang dirasakan.
Mengatur napas merupakan langkah awal yang krusial saat sedang emosional. Manfaat dari tindakan ini adalah mampu menekan respons stres tubuh, menjernihkan pikiran, serta mencegah terjadinya tindakan impulsif yang mungkin akan disesali nantinya.
2. “Sebenarnya, emosi apa yang lagi aku rasakan?”

Alih-alih sekadar berkata “aku marah”, orang yang memiliki ketenangan jiwa biasanya berusaha mengidentifikasi emosi secara lebih spesifik. Contohnya, apakah mereka sesungguhnya merasa kecewa, iri, takut, bersedih, atau merasa tidak dihargai. Memberi label pada emosi memudahkan kita untuk memprosesnya dengan lebih baik dibandingkan hanya terjebak dalam perasaan bahwa “emosiku sedang kacau”.
3. “Biarkan aku merasakan ini sebentar aja”

Ketika dilanda emosi, kita sering kali mencoba mengalihkan perhatian dengan melakukan aktivitas lain, makan berlebihan, atau menyibukkan diri agar tidak perlu merasakan perasaan tersebut. Padahal, emosi tidak seharusnya ditekan atau dihindari. Kalimat menenangkan seperti “biarkan aku merasakan ini sebentar aja” justru membantu emosi tersebut untuk berlalu dengan cara yang lebih sehat.
4. “Aku tidak harus langsung menyelesaikan semuanya sekarang”

Setelah berhasil mengenali emosi, langkah berikutnya adalah memahami pemicunya tanpa harus terburu-buru mencari solusi instan. Saat diri sedang dikuasai oleh emosi, keputusan yang diambil sering kali bukan yang terbaik. Memahami akar masalah akan membuat kita lebih mampu mencari jalan keluar dengan pikiran tenang, alih-alih sekadar bereaksi terhadap situasi yang ada.
5. “Aku tidak perlu membawa beban ini terus”

Setelah mengenali dan memahami penyebab emosi, tibalah waktunya untuk melepaskan beban perasaan tersebut. Menyimpan perasaan negatif dalam waktu lama dapat memicu rasa pahit, mengganggu kesehatan mental, hingga berdampak buruk pada kesehatan fisik serta hubungan sosial. Karena itu, setelah emosi berhasil dipahami, sangat penting untuk belajar mengikhlaskannya.
