tentu kita selalu berharap bisa bertemu dengan individu yang baik setiap harinya. Namun, satu hal yang tidak bisa dikendalikan adalah berpapasan dengan orang yang penuh kepalsuan.
Umumnya, individu yang penuh kepalsuan menunjukkan sikap yang kurang empati, gemar merendahkan orang lain, dan tidak acuh. Di hadapan khalayak ramai, mereka mungkin saja tersenyum, tetapi pada kenyataannya senyuman itu diliputi kepalsuan.
Orang-orang seperti ini hanya berfokus pada pemenuhan keinginan pribadi. Tidak mengherankan jika sikap mereka membuat banyak orang menjauh.
Nah, agar kamu tidak terperangkap, kamu bisa mengenalinya melalui ucapan mereka sehari-hari. Terdapat beberapa ungkapan yang kerap diutarakan oleh orang yang penuh kepalsuan, mengutip dari YourTango. Mari simak!
“Aku Hanya Jujur”
Mengutarakan kejujuran adalah perbuatan baik. Namun, terdapat perbedaan antara menyampaikan kebenaran dengan penuh empati atau sekadar menjadikannya alasan, “aku hanya jujur”.
Bagi orang yang dipenuhi kepalsuan, mereka akan senantiasa menyatakan hal yang sebenarnya tanpa memedulikan bagaimana perasaan orang lain. Menurut psikolog Jonice Webb, kejujuran yang terlalu kasar justru dapat merugikan. Individu yang berujar jujur tanpa filter berisiko melukai perasaan penerimanya. Orang bisa seketika merasa sakit hati dan menjauh.
“Aku Tidak Pernah Mengatakan Itu”
Ciri khas orang yang penuh kepalsuan adalah kecenderungan untuk memanipulasi orang lain. Mereka kerap mengucapkan, “Aku tidak pernah mengatakan itu”, padahal jelas-jelas telah mengucapkannya.
Tindakan tersebut dilakukan oleh mereka sebagai cara membela diri ketika merasa terancam. Benar, yang mereka pedulikan hanyalah diri sendiri, mereka tidak peduli dengan perasaan atau kondisi orang lain.
Baca juga: Cara Mudah dan Cepat Terlelap di Malam Hari
Selain merugikan, kebiasaan gaslighting ini membuat korban diliputi kebingungan dan meragukan diri sendiri.
“Itu Salahmu”
Cara mengidentifikasi orang yang penuh kepalsuan juga dapat dilihat dari kalimat singkat, “Itu salahmu”. Mereka selalu mencari orang lain untuk disalahkan agar diri mereka selalu tampak benar.
Mereka lebih memilih hubungan pertemanan hancur daripada mengakui kekeliruan. Kemudian, mereka akan dengan mudah melupakannya.
Pakar psikologi Peg Streep menyatakan, pengalihan kesalahan merupakan bentuk pelecehan verbal karena menggunakan pengalihan tersebut untuk melindungi diri sendiri. Menerima kekeliruan dalam setiap interaksi bukanlah hal yang sehat, sehingga individu yang berada dalam situasi ini sebaiknya segera mengakhiri hubungan tersebut.
“Semua Orang Setuju Denganku”
Saat terjadi perdebatan atau perselisihan, memang akan sulit untuk mengetahui siapa yang keliru. Setiap individu akan berpegang teguh pada pendapatnya masing-masing.
Di sinilah orang yang penuh kepalsuan akan bertindak dengan menjadikan pendapatnya sebagai yang paling utama dan paling benar. Mereka akan mengatakan, “Semua orang setuju denganku” sebagai harapan agar lawan bicara merasa bersalah dan menjadi patuh.
Orang seperti ini akan membuat seseorang yang seharusnya tidak bersalah menjadi menyerah dan menganggap dirinya sendiri bodoh.
Demikianlah beberapa ungkapan yang kerap diutarakan oleh orang yang penuh kepalsuan. Bagaimana, apakah kamu pernah menemukannya?
