Hasrat untuk memiliki postur tubuh impian kerap membuat banyak orang menjalani pola makan sehat atau rutin berolahraga demi menjaga berat badan. Namun, tidak jarang ada yang melakukan diet secara berlebihan hingga akhirnya terjerumus ke dalam Anoreksia.
Berdasarkan informasi dari Cleveland Clinic, anoreksia adalah gangguan pola makan yang ditandai dengan pembatasan asupan makanan akibat ketakutan berlebih terhadap kenaikan berat badan serta obsesi untuk terus terlihat kurus. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pola makan, tetapi juga mengganggu kesehatan fisik dan mental. Jika dibiarkan tanpa penanganan, anoreksia berisiko memicu malnutrisi, kerusakan organ, bahkan kematian.
Sayangnya, anoreksia sering kali muncul tanpa disadari dan telah menjadi isu kesehatan global. Mari kita pelajari lebih dalam mengenai apa itu anoreksia dan langkah pencegahannya!
Mengenal Anoreksia

Anoreksia atau anoreksia nervosa merupakan gangguan makan di mana penderitanya membatasi asupan kalori karena rasa takut yang sangat hebat terhadap penambahan berat badan. Meskipun tubuhnya sudah terlihat sangat kurus, pengidapnya sering kali masih merasa dirinya gemuk atau belum mencapai bentuk tubuh yang diinginkan.
Dikutip dari Mayo Clinic, anoreksia bukanlah sekadar pilihan diet atau cara menurunkan berat badan biasa. Gangguan ini berkaitan erat dengan persepsi seseorang terhadap bentuk tubuhnya (body image) serta memengaruhi cara berpikir dan perilakunya terhadap makanan. Oleh karena itu, anoreksia digolongkan sebagai masalah kesehatan mental yang memerlukan bantuan tenaga profesional.
Penting untuk dipahami bahwa anoreksia tidak hanya menyerang remaja perempuan. Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja, baik pria maupun wanita dari segala rentang usia dan latar belakang.
Perbedaan Diet Sehat dengan Anoreksia

Jika dilihat sepintas, diet sehat dan anoreksia memang tampak serupa karena sama-sama bertujuan menurunkan berat badan. Namun, keduanya memiliki perbedaan yang sangat kontras. Dalam diet sehat, seseorang tetap mencukupi kebutuhan nutrisi harian, menetapkan target yang realistis, serta tidak merasa cemas berlebihan saat berat badan sedikit berfluktuasi. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesehatan secara menyeluruh.
Sebaliknya, pada penderita anoreksia, keinginan untuk langsing telah berubah menjadi obsesi. Mereka cenderung melewatkan waktu makan, memangkas kalori secara drastis, berolahraga secara kompulsif, atau menempuh berbagai cara ekstrem demi menghalangi kenaikan berat badan.
Ketakutan tersebut tetap ada sekalipun berat badan mereka sudah berada di bawah ambang batas normal. Sebagaimana dijelaskan oleh Cleveland Clinic, anoreksia berpangkal dari pikiran dan emosi negatif terhadap makanan, berat badan, serta citra diri yang pada akhirnya mendominasi keseharian penderitanya.
Tanda-Tanda Anoreksia

Gejala anoreksia tidak hanya tampak dari penurunan berat badan yang signifikan. Gangguan ini juga memengaruhi kondisi emosional dan perilaku penderitanya. Berikut adalah beberapa indikasi yang mungkin muncul:
Gejala Fisik
- Berat badan turun drastis dengan postur yang tampak sangat kurus
- Mudah merasa lelah, lemas, dan sering kedinginan
- Sering mengalami pusing atau pingsan
- Rambut menjadi tipis atau mengalami kerontokan
- Kulit terasa kering
- Denyut jantung melambat
- Siklus menstruasi tidak teratur atau berhenti total pada perempuan
Perubahan Perilaku
- Terobsesi menghitung kalori dalam makanan secara terus-menerus
- Ketakutan yang tidak rasional terhadap kenaikan berat badan
- Menghindari situasi makan bersama orang lain
- Berbohong mengenai konsumsi makanan
- Melakukan aktivitas fisik secara berlebihan
- Sering menimbang berat badan atau bercermin secara kompulsif
- Merasa dirinya gemuk meskipun kenyataannya sudah sangat kurus
Rasa cemas berlebihan terhadap berat badan mendorong penderita melakukan tindakan yang tidak lazim, yang pada akhirnya berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan kehidupan sosial. Jika Anda menemukan tanda-tanda tersebut, penanganan medis harus segera dilakukan.
Penyebab Anoreksia

Sayangnya, penyebab pasti anoreksia belum diketahui secara mutlak. Para pakar meyakini bahwa kondisi ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor. Menurut Mayo Clinic, faktor genetik dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap anoreksia. Selain itu, sifat perfeksionis, gangguan kecemasan, serta kecenderungan obsesif juga berkontribusi dalam perkembangan gangguan ini.
Di sisi lain, Cleveland Clinic mengungkapkan bahwa perubahan fungsi otak, terutama yang terkait dengan neurotransmitter serotonin dan dopamin, diduga memengaruhi nafsu makan, suasana hati, serta kontrol impuls. Selain itu, tekanan lingkungan, standar kecantikan yang tidak realistis, serta paparan media sosial yang mendewakan tubuh kurus dapat menjadi pemicu utama bagi sebagian orang.
Sebuah jurnal yang diterbitkan di Pubmed Central bahkan menunjukkan bahwa kasus gangguan makan, termasuk anoreksia, meningkat seiring dengan tingginya penggunaan internet, karena akses yang mudah terhadap informasi dan tren standar kecantikan yang tidak sehat.
Mayo Clinic juga memaparkan kelompok-kelompok yang berisiko lebih tinggi mengalami anoreksia, di antaranya:
- Remaja yang sedang mengalami fase perubahan fisik dan emosional
- Memiliki riwayat keluarga dengan gangguan makan
- Sering melakukan diet ketat
- Pernah menjadi korban perundungan karena bentuk tubuh atau berat badan
- Memiliki gangguan kecemasan atau kepribadian perfeksionis
- Berprofesi di bidang yang menuntut tubuh langsing, seperti atlet, model, atau penari
Diagnosis anoreksia tidak hanya ditentukan dari berat badan semata. Dokter akan melakukan wawancara mendalam terkait pola makan, riwayat kesehatan, kondisi psikologis, serta perubahan berat badan. Selain pemeriksaan fisik, tes laboratorium atau pemeriksaan penunjang lain mungkin diperlukan untuk mendeteksi komplikasi akibat malnutrisi.
Dampak yang Perlu Diwaspadai

Banyak orang menganggap dampak anoreksia hanya sebatas perubahan fisik menjadi kurus. Padahal, kekurangan nutrisi kronis dapat merusak hampir seluruh fungsi organ di dalam tubuh.
Menurut Mayo Clinic, anoreksia dapat memicu anemia, gangguan irama jantung, gagal jantung, osteoporosis, penyusutan massa otot, gangguan fungsi ginjal, hingga masalah sistem reproduksi. Kondisi ini juga memperbesar risiko depresi, kecemasan, keinginan untuk menyakiti diri sendiri, bahkan upaya bunuh diri. Dalam kasus yang parah, anoreksia dapat berujung pada kematian.
Bagaimana Cara Mengatasinya?

Kabar baiknya, anoreksia bisa disembuhkan, terutama jika terdeteksi sejak dini. Berdasarkan Cleveland Clinic, proses pemulihan biasanya melibatkan kolaborasi tenaga medis profesional, seperti dokter umum, psikolog atau psikiater, serta ahli gizi. Bentuk terapinya meliputi psikoterapi, konseling nutrisi, pemulihan berat badan bertahap, hingga penggunaan obat-obatan untuk mengatasi masalah psikologis yang menyertainya jika diperlukan. Pada kondisi yang mengancam nyawa, perawatan intensif di rumah sakit mungkin akan diambil.
Dukungan dari keluarga dan kerabat dekat sangat krusial selama masa pemulihan, mengingat penderita sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang berjuang melawan gangguan makan.
Jangan menunggu kondisi semakin parah. Segeralah mencari bantuan ahli jika seseorang menunjukkan gejala seperti penurunan berat badan drastis, penolakan terhadap makanan, ketakutan berlebih terhadap berat badan, atau mulai mengalami gangguan kesehatan akibat kurang gizi.
Anoreksia bukan sekadar ambisi untuk tampil langsing, melainkan gangguan serius yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Dengan mengenali gejalanya sejak awal dan segera mencari bantuan profesional, peluang untuk pulih dan menjalani hidup sehat akan jauh lebih terbuka.
