Skincapedia.com – Belakangan ini, dunia mode lokal tengah diguncang perdebatan hangat akibat sebuah brand fashion yang memutuskan merilis koleksi pakaian dengan desain tulisan bermuatan seksual. Langkah tersebut memicu reaksi keras dari publik, karena narasi yang diusung dianggap merendahkan martabat perempuan dan tidak etis untuk dijadikan tren di ruang terbuka.
Namun, di balik riuhnya protes terhadap brand tersebut, muncul sebuah refleksi yang lebih mendalam mengenai budaya kita dalam memandang lelucon. Sering kali, ujaran seksis dan misoginis dibungkus rapi dengan label “candaan” agar terdengar lebih ringan. Padahal, ketika stigma negatif terhadap perempuan terus diproduksi melalui humor, ada Dampak psikologis dan sosial yang tidak boleh kita sepelekan begitu saja.
Menilik Fenomena Misogini dalam Strategi Pemasaran
Di era media sosial yang serba cepat, banyak pelaku usaha merasa perlu menciptakan “kegaduhan” agar produk mereka lebih menonjol di pasaran. Strategi ini sering kali melibatkan penggunaan kalimat-kalimat provokatif, vulgar, atau kontroversial dengan harapan dapat mendulang atensi dan interaksi dari warganet.
Sayangnya, ketika strategi pemasaran ini melintasi batas dengan menggunakan konten seksis atau misoginis, ia tidak lagi sekadar menjadi alat promosi. Hal ini justru turut melanggengkan pandangan bahwa merendahkan perempuan adalah sesuatu yang wajar dan dapat diterima secara sosial. Berdasarkan definisi dari Very Well Mind, misogini adalah bentuk kebencian atau prasangka terhadap perempuan, sementara seksisme berakar pada stereotip gender yang diskriminatif.
Komnas HAM juga menegaskan bahwa baik seksisme maupun misogini sama-sama menempatkan posisi perempuan di bawah pria. Bahayanya, tindakan ini sering kali tidak muncul dalam bentuk kebencian yang terang-terangan, melainkan menyusup lewat komentar tubuh, stereotip gender, hingga slogan pada pakaian yang dianggap “lucu-lucuan” padahal secara substansi merendahkan.
Candaan Seksis dan Batas Tipis Pelecehan Verbal

Penting bagi kita untuk memahami bahwa batas antara humor dan pelecehan bisa menjadi sangat kabur jika kita terus membiarkan ujaran merendahkan beredar tanpa filter. Pelecehan seksual secara verbal, mulai dari komentar bernuansa cabul hingga catcalling, sering kali berlindung di balik kedok “hanya bercanda”.
Psikolog Dr. Meutia Nauly menjelaskan bahwa humor seksis adalah candaan yang bertujuan menstereotipkan atau mengobjektifikasi perempuan. Ia menegaskan bahwa jenis humor ini tidak bisa dianggap sepele karena merupakan bentuk kekerasan simbolik sekaligus pelecehan verbal yang sering kali tidak disadari oleh pelakunya.
Dampaknya, ketika seseorang merasa risih dan mencoba menyampaikan keberatan, mereka justru sering dianggap terlalu sensitif atau “baper”. Hal inilah yang membuat perilaku pelecehan tetap subur, karena lingkungan sosial cenderung menormalisasi candaan tersebut daripada melindungi pihak yang merasa tidak nyaman.
Dampak Jangka Panjang yang Tak Bisa Diabaikan

Mungkin bagi sang pengucap, sebuah lelucon misoginis hanyalah sepintas kata yang akan menguap begitu saja. Namun, bagi perempuan yang menjadi sasaran, dampak yang ditimbulkan bisa jauh lebih dalam dan membekas.
Dr. Meutia Nauly menyoroti bahwa paparan terus-menerus terhadap humor seksis dapat memengaruhi konsep diri dan rasa aman perempuan. Ketika tubuh, kemampuan, atau seksualitas perempuan terus dijadikan bahan tertawaan, hal itu secara perlahan menempatkan perempuan sebagai objek yang sah untuk dikomentari oleh siapa saja.
Proses normalisasi ini adalah musuh yang nyata. Sesuatu yang awalnya terasa janggal dan tidak pantas, lama-kelamaan akan dianggap lumrah karena terlalu sering ditemui. Di ruang digital, fenomena ini bahkan lebih masif karena jangkauan konten yang merendahkan dapat menyebar luas dengan sangat cepat, sehingga pelecehan verbal menjadi hal yang seolah-olah lazim terjadi setiap hari.
Menuju Budaya Humor yang Lebih Berempati

Tentu saja, kita tidak sedang mengajak untuk menghilangkan humor dari kehidupan kita. Tawa tetap menjadi kebutuhan manusia untuk melepas penat dan membangun kedekatan. Namun, menjadi kritis terhadap pilihan kata adalah bentuk kedewasaan yang sangat diperlukan saat ini.
Kita bisa tetap menjadi pribadi yang humoris tanpa harus menjadikan martabat seseorang sebagai bahan lelucon. Memilih untuk tidak menormalisasi candaan yang merendahkan adalah langkah kecil yang sangat berarti untuk menciptakan ruang publik yang lebih aman dan menghargai bagi siapa saja, terlepas dari gendernya.
Mari kita mulai lebih bijak dalam bersikap dan berkomunikasi. Sebab, humor yang baik adalah humor yang mampu menghibur tanpa harus mengorbankan perasaan atau martabat pihak lain.
