Home » Jenis Teh Terpopuler di Dunia yang Wajib Anda Coba

Jenis Teh Terpopuler di Dunia yang Wajib Anda Coba

Teh menempati posisi sebagai salah satu minuman yang paling digemari di seluruh dunia, tepat setelah air putih. Hal menariknya, beragam varian teh yang ada di pasaran sebenarnya bersumber dari satu jenis tanaman yang sama, yakni Camellia sinensis. Meski demikian, setiap jenisnya menawarkan aroma, rona, serta karakteristik yang unik.

Perbedaan tersebut dipicu oleh metode pengolahan, tingkatan oksidasi, hingga teknik penyajiannya. Tidak mengherankan jika tiap ragam teh memiliki profil rasa khas yang memiliki penggemar setianya masing-masing.

Lalu, apa saja varian teh yang banyak diminati di dunia?

1. Teh Hijau (Green Tea)

Teh hijau merupakan salah satu Jenis Teh yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Minuman ini diolah dari daun Camellia sinensis yang diproses melalui pengukusan atau pemanggangan segera setelah panen guna mencegah oksidasi. Metode tersebut berfungsi menjaga warna hijau alami daun sekaligus melindungi kandungan antioksidannya, sehingga menghasilkan cita rasa yang ringan, segar, dengan sedikit sentuhan pahit.

Menurut Tea Association of the U.S.A, teh hijau kaya akan katekin, khususnya epigallocatechin gallate (EGCG), yakni antioksidan yang berperan melindungi sel tubuh dari dampak buruk radikal bebas. Di sisi lain, proses produksi tanpa oksidasi penuh memastikan warna dan karakter asli teh hijau tetap terjaga.

2. Teh Hitam (Black Tea)

Teh hitam adalah varian teh yang mengalami proses oksidasi paling maksimal dibandingkan jenis lainnya. Tahapan ini menciptakan warna air seduhan yang lebih pekat, rasa yang lebih kuat, serta aroma yang sangat khas. Tingkat kafeinnya yang cenderung lebih tinggi membuat teh hitam sering menjadi pilihan untuk meningkatkan energi serta kewaspadaan.

Oksidasi secara menyeluruh menjadi ciri utama teh hitam sekaligus pembentuk warna dan profil rasanya yang pekat. Sementara itu, Harvard T.H. Chan School of Public Health mencatat bahwa teh hitam tetap menyimpan polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan.

3. Teh Oolong (Oolong Tea)

Teh oolong merupakan jenis teh semioksidasi yang posisinya berada di antara teh hijau dan teh hitam. Tingkat oksidasinya berkisar antara 10–80%, yang memberikan spektrum rasa sangat luas, mulai dari yang ringan dan floral hingga yang lebih kaya, beraroma roasted, serta sedikit manis. Karakteristik ini menjadikan oolong sebagai salah satu jenis teh yang populer di kawasan China dan Taiwan.

Variasi tingkat oksidasi adalah faktor kunci yang membedakan rasa serta aroma teh oolong. Oolong juga mengandung polifenol sebagai antioksidan, meskipun kadarnya bisa berbeda-beda bergantung pada metode pengolahannya.

4. Teh Putih (White Tea)

Teh putih dihasilkan dari pucuk daun serta kuncup teh muda yang dipetik sebelum daunnya mekar sempurna. Pasca panen, daun hanya melalui tahapan pelayuan dan pengeringan, sehingga proses oksidasinya sangat minim. Prosedur sederhana ini menciptakan rasa yang lembut, ringan, serta manis alami.

Menurut Tea Association of the U.S.A., teh putih merupakan jenis yang melalui proses pengolahan paling minimal dibandingkan varian lainnya. Di sisi lain, Harvard T.H. Chan School of Public Health menjelaskan bahwa teh putih tetap memiliki kandungan polifenol dan antioksidan yang berasal dari daun Camellia sinensis.

5. Matcha

Matcha adalah teh hijau berbentuk serbuk yang berasal dari daun teh yang sengaja dinaungi selama kurang lebih 20–30 hari sebelum dipanen. Proses peneduhan ini meningkatkan kadar klorofil serta asam amino L-theanine, sehingga menghasilkan rona hijau yang cerah dan cita rasa umami yang khas. Berbeda dengan teh seduh pada umumnya, matcha dikonsumsi dengan cara meminum seluruh serbuk daun tehnya.

Menurut Japanese Tea Association, teknik budidaya dan penggilingan menggunakan batu menjadi ciri khas produksi matcha. Selain itu, karena seluruh bagian daun dikonsumsi, matcha umumnya memiliki kadar katekin, L-theanine, dan kafein yang lebih tinggi dibandingkan teh hijau seduh biasa.

6. Teh Pu-erh (Pu-erh Tea)

Pu-erh adalah teh khas dari Provinsi Yunnan, China, yang diproses lewat fermentasi serta pematangan. Tidak seperti jenis teh lainnya, pu-erh bisa disimpan dalam jangka waktu bertahun-tahun sehingga cita rasanya berkembang menjadi lebih kompleks. Teh ini memiliki karakter earthy atau aroma tanah yang menjadi ciri uniknya.

Menurut Tea Association of the U.S.A., pu-erh tergolong dalam kategori post-fermented tea, yakni teh yang menjalani proses fermentasi setelah pengolahan awal. Sementara itu, penelitian yang dimuat dalam jurnal Foods menyebutkan bahwa proses fermentasi menyebabkan perubahan pada senyawa bioaktif yang memengaruhi rasa, aroma, serta karakteristik pu-erh.

7. Teh Herbal (Herbal Tea)

Berbeda dengan keenam jenis teh sebelumnya, teh herbal sebenarnya tidak berasal dari tanaman Camellia sinensis. Minuman ini diracik dari seduhan berbagai bahan alami, seperti bunga, daun, buah, akar, biji-bijian, maupun rempah-rempah. Beberapa contoh teh herbal yang populer antara lain chamomile, peppermint, rooibos, hibiscus, dan jahe.

Menurut National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), tiap teh herbal menawarkan kandungan serta khasiat yang bervariasi, bergantung pada bahan penyusunnya. Selain itu, mayoritas teh herbal secara alami bebas kafein, sehingga sering menjadi pilihan minuman untuk dinikmati di malam hari atau bagi mereka yang ingin membatasi konsumsi kafein.

Artikel menarik Lainnya