Home » Kebiasaan Buruk Pemicu Kolesterol Tinggi yang Sering Diabaikan

Kebiasaan Buruk Pemicu Kolesterol Tinggi yang Sering Diabaikan

Lonjakan kolesterol sering kali dianggap hanya dipicu oleh asupan makanan berlemak. Faktanya, kondisi ini tidak melulu disebabkan oleh apa yang dikonsumsi, melainkan juga dipengaruhi oleh berbagai rutinitas harian yang sering kali disepelekan. Jika dibiarkan terus-menerus, Kebiasaan tersebut dapat memicu naiknya kadar kolesterol jahat (LDL) yang membahayakan kesehatan jantung.

Kabar baiknya, sebagian besar faktor pemicu tersebut dapat diantisipasi dengan menerapkan perubahan gaya hidup yang sederhana. Semakin dini perilaku buruk ini diidentifikasi, semakin terbuka lebar kesempatan untuk menjaga kadar kolesterol tetap stabil.

Lantas, kebiasaan apa saja yang secara terselubung bisa menyebabkan kolesterol melonjak?

1. Kurang Gerak (Mager)

Pola hidup yang minim gerak, seperti duduk terlalu lama saat bekerja, menonton televisi, atau menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling media sosial, dapat berdampak pada kadar kolesterol. Minimnya aktivitas fisik membuat pembakaran lemak dalam tubuh menjadi tidak optimal, sehingga kadar kolesterol LDL (jahat) berisiko meningkat, sementara kadar kolesterol HDL (baik) cenderung menurun.

Oleh karena itu, orang dewasa diimbau untuk tetap aktif, misalnya dengan menyempatkan diri berjalan kaki atau sekadar berdiri di sela-sela waktu bekerja. Berdasarkan keterangan American Heart Association (AHA), rutin bergerak dapat membantu menekan kadar LDL serta meningkatkan HDL, sehingga risiko penyakit jantung pun dapat diminimalisir.

2. Sering Begadang

Kurang tidur, atau kurang dari 7–8 jam dalam semalam, tidak hanya memicu rasa lelah, tetapi juga mengacaukan metabolisme lemak dan gula dalam tubuh.

Dalam jangka panjang, kebiasaan terjaga hingga larut malam dapat mengganggu regulasi hormon yang mengatur metabolisme, sehingga meningkatkan potensi kolesterol tinggi. Selain itu, mereka yang kurang istirahat biasanya cenderung mengonsumsi makanan tinggi kalori sebagai kompensasi energi.

3. Stres yang Menumpuk

Tekanan mental yang berkepanjangan dapat memicu lonjakan hormon kortisol dan adrenalin. Kadar kortisol yang tinggi dapat mengacaukan metabolisme lemak dan memicu hati untuk memproduksi kolesterol lebih banyak. Di sisi lain, saat tertekan, banyak orang cenderung melampiaskannya dengan makan berlebihan, memilih asupan tinggi gula dan lemak, atau menjadi malas berolahraga, yang semuanya memperburuk profil kolesterol.

Johns Hopkins Medicine menyatakan bahwa stres kronis dapat mengancam kesehatan jantung melalui perubahan hormonal serta perilaku hidup kurang sehat, termasuk pola makan buruk dan minimnya aktivitas fisik.

4. Mengonsumsi Makanan Tinggi Lemak Jenuh dan Lemak Trans

Lemak jenuh dan lemak trans adalah jenis lemak yang paling dominan dalam menaikkan kadar kolesterol LDL. Jenis lemak ini kerap ditemukan pada gorengan, makanan cepat saji, kulit ayam, daging berlemak, mentega, produk pastry, hingga makanan yang diproses menggunakan minyak terhidrogenasi.

Membatasi asupan makanan tersebut dan menggantinya dengan lemak sehat yang bersumber dari ikan, alpukat, atau kacang-kacangan dapat membantu menjaga kestabilan kadar kolesterol.

5. Sering Mengonsumsi Makanan Olahan dan Minuman Manis

Produk olahan seperti sosis, nugget, mi instan, dan camilan instan umumnya mengandung tambahan gula, garam, serta lemak tidak sehat. Jika dikonsumsi terlalu sering, makanan ini dapat memicu kenaikan trigliserida dan berkontribusi terhadap tingginya kolesterol.

Hal serupa berlaku bagi minuman manis seperti soda, teh kemasan, atau kopi kekinian dengan tambahan gula berlebih, yang dapat merusak metabolisme lemak jika menjadi kebiasaan rutin.

Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health, konsumsi gula tambahan yang berlebihan berkaitan erat dengan meningkatnya kadar trigliserida serta risiko penyakit kardiovaskular.

6. Merokok dan Minum Alkohol

Kebiasaan merokok dapat menurunkan kadar kolesterol HDL yang berfungsi membersihkan sisa kolesterol di pembuluh darah. Di sisi lain, konsumsi alkohol berlebih dapat meningkatkan kadar trigliserida serta mengganggu metabolisme lemak. Kombinasi dari kedua perilaku ini memperbesar risiko penumpukan plak di pembuluh darah, yang pada akhirnya meningkatkan peluang terkena penyakit jantung dan stroke.

Berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), merokok merusak pembuluh darah dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit jantung, sementara konsumsi alkohol berlebih berkaitan dengan lonjakan trigliserida serta berbagai komplikasi kardiovaskular lainnya.

Artikel menarik Lainnya