Individu yang memiliki rasa insecure kerap mengalami gejolak batin yang membuat mereka meragukan kemampuan diri sendiri. Kondisi ini sering kali tercermin dari pola Kebiasaan yang terasa sulit untuk dihilangkan.
Sebagaimana diulas dalam situs Cottonwood Psychology, seseorang yang merasa insecure cenderung mengalami krisis kepercayaan diri. Pikirannya sering kali mengulang-ulang kejadian tertentu dan sibuk mencari-cari kesalahan yang mungkin telah diperbuat, padahal situasi sebenarnya baik-baik saja. Selain itu, mereka seolah selalu bersiap menghadapi penolakan bahkan sebelum hal tersebut benar-benar terjadi. Berikut adalah beberapa kebiasaan lain yang sulit ditinggalkan oleh orang yang insecure.
1. Selalu Minta Kepastian

Karena kurangnya keyakinan terhadap diri sendiri, mereka yang insecure cenderung sering menuntut validasi atau kepastian dari orang lain. Cottonwood Psychology menjelaskan bahwa meski telah mendapatkan jawaban yang menenangkan, rasa cemas tersebut biasanya akan kembali muncul dalam waktu singkat. Memang, jawaban yang menenangkan dapat memberikan rasa lega sesaat, namun perasaan itu akan segera menguap ketika bisikan batin kembali meyakinkan mereka bahwa ada sesuatu yang keliru dengan dirinya, atau muncul ketakutan bahwa orang lain akan menjauh saat melihat sosok mereka yang sebenarnya.
2. Membandingkan Kehidupan Diri Sendiri dengan Orang Lain

Kebiasaan lain yang melekat pada orang yang insecure adalah terus-menerus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Seperti ungkapan “rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”, mereka merasa bahwa kehidupan orang lain jauh lebih baik daripada miliknya. Pola pikir yang meyakini bahwa dirinya selalu tertinggal dari orang lain ini dapat berdampak buruk bagi harga diri mereka.
3. Membiarkan Kesalahan jadi Identitas Diri

Setiap orang pasti pernah melakukan kekeliruan. Perbedaannya, orang yang memiliki rasa percaya diri (secure) tidak akan membiarkan satu kesalahan mendefinisikan siapa diri mereka, karena mereka memandangnya sebagai bagian dari proses belajar.
Sebaliknya, mereka yang insecure justru membiarkan kesalahan tersebut menjadi label bagi identitasnya. Saat berbuat salah, mereka cenderung menghakimi diri sendiri dengan berkata, “Aku memang tipe orang yang selalu gagal,” alih-alih berupaya memperbaiki diri agar kesalahan yang sama tidak terulang. Kebiasaan semacam ini justru akan menghambat perkembangan potensi diri mereka.
