Apakah kamu sering mendadak ingin mengonsumsi kudapan manis setelah beraktivitas seharian? Atau mungkin kamu merasa terdorong untuk terus mengunyah sesuatu ketika merasa sedih, cemas, tertekan, atau bosan, padahal perut tidak sedang lapar? Jika kondisi ini familiar, kemungkinan kamu sedang mengalami emotional eating, yaitu pola makan yang didorong oleh kondisi emosional, bukan kebutuhan nutrisi tubuh.
Menikmati makanan favorit sesekali saat suasana hati sedang tidak menentu tentu bukan masalah besar. Namun, jika kebiasaan ini dilakukan secara berulang, emotional eating bisa menyulitkanmu dalam membedakan rasa lapar yang asli dan berisiko berdampak negatif pada kesehatan fisik serta mentalmu.
Berikut ini adalah beberapa kebiasaan yang tanpa disadari dapat memicu emotional eating:
1. Menggunakan Makanan sebagai Pelarian dari Stres
Kenapa-kita-suka-makan-saat-stres-ternyata-ini-sederet-pemicunya-89863.jpg” alt=”” title=”” style=”max-width:100%;height:auto;display:block;margin-left:auto;margin-right:auto;”>
Saat menghadapi banyak beban pikiran, makanan sering kali dianggap sebagai jalan pintas untuk meraih ketenangan. Berdasarkan studi dalam Appetite (2020), stres memicu lonjakan hormon kortisol yang membuat seseorang cenderung menginginkan asupan tinggi gula dan lemak. Akibatnya, makan menjadi metode sementara untuk meredam perasaan negatif yang muncul.
2. Sering Makan sambil Melakukan Aktivitas Lain

Kebiasaan makan sembari menonton tayangan favorit, menjelajahi media sosial, atau bekerja membuatmu kehilangan fokus terhadap sinyal kenyang dari tubuh. Riset yang dimuat dalam American Journal of Clinical Nutrition (2019) mengonfirmasi bahwa mindless eating dapat menambah volume makanan yang disantap karena perhatian terbagi. Tanpa disadari, asupan yang masuk melampaui porsi yang sebenarnya dibutuhkan tubuh.
3. Kurang Tidur Membuat Nafsu Makan Meningkat

Istirahat yang tidak memadai tidak hanya memicu kelelahan fisik, tetapi juga mengacaukan regulasi hormon lapar. Menurut temuan dalam Sleep (2018), kurang tidur dapat meningkatkan hormon ghrelin serta menekan hormon leptin, yang akhirnya memicu keinginan kuat untuk menyantap makanan tinggi kalori. Situasi ini pun membuat seseorang lebih rentan terjerumus ke dalam emotional eating.
4. Menyimpan Terlalu Banyak Camilan

Kondisi lingkungan sekitar punya peran krusial dalam pola makan. Jika camilan selalu tersedia di dekat meja kerja atau area istirahat, kamu akan jauh lebih mudah menjamahnya saat merasa bosan atau tertekan. Penelitian dalam Health Psychology Review (2021) menyatakan bahwa isyarat visual dari lingkungan sangat memengaruhi perilaku makan bawah sadar. Mengatur ulang persediaan makanan dengan opsi yang lebih bergizi dapat membantu meminimalisir kebiasaan ini.
5. Mengabaikan Emosi yang Sebenarnya

Terkadang, dorongan untuk makan bukan berasal dari rasa lapar fisik, melainkan dari emosi yang belum teratasi. Studi dalam Eating Behaviors (2021) menyebutkan bahwa individu yang kurang mampu mengenali dan memproses perasaannya lebih berisiko terjebak dalam emotional eating. Sebelum meraih makanan, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah saya benar-benar lapar, atau sekadar lelah, sedih, maupun cemas? Dengan cara ini, kamu bisa lebih bijak dalam menyikapi keinginan makan tersebut.
