Home » Kuliner Legendaris yang Masih Eksis dan Wajib Dicoba

Kuliner Legendaris yang Masih Eksis dan Wajib Dicoba

Indonesia tidak hanya kaya akan keanekaragaman budaya dan tradisi daerah. Lebih dari itu, tanah air kita menyimpan berbagai macam hidangan tradisional yang diolah dari beragam bahan baku. Sebagian di antaranya mungkin sudah sulit ditemukan saat ini.

Berikut ini adalah lima Kuliner Legendaris yang masih bertahan dan dapat dinikmati hingga sekarang. Tentunya dengan banderol harga yang ramah di dompet.

Penasaran? Mari kita telusuri apa saja makanannya dan di mana lokasi untuk mencicipinya. Beberapa di antaranya bahkan dikabarkan sudah populer sejak era kolonial Belanda, lho.

1. Doclang

Masyarakat Bogor dan sekitarnya pasti sudah tidak asing dengan kuliner autentik yang satu ini. Ya, doclang. Hidangan ini terdiri dari irisan ketupat, tahu, kentang, dan telur rebus, yang kemudian disiram dengan bumbu kacang serta diberi pelengkap kerupuk.

Keunikan dari doclang terletak pada ketupatnya yang dibungkus menggunakan daun patat, bukan janur atau daun kelapa. Konon, tanaman dengan nama ilmiah Phrynium capitatum ini telah lama digunakan oleh warga Bogor sebagai pembungkus makanan tradisional.

Jika ingin mencicipi sepiring doclang, Anda bisa mengunjungi Doclang 405. Lokasinya dapat ditempuh sekitar 5-10 menit dari stasiun Bogor. Doclang 405 memiliki tiga cabang:

  • Doclang 405 Jl. Gunung Batu atau cabang Jembatan Merah. Kedai ini beroperasi selama 24 jam nonstop.
  • Doclang 405 di depan pasar Devris.
  • Doclang 405 di depan toko Terang. Buka mulai pukul 18.00 WIB hingga stok habis.

2. Gudeg

Para pencinta kuliner Nusantara pasti tidak akan melewatkan sajian ini saat bertandang ke Yogyakarta. Apalagi kalau bukan gudeg.

Makanan khas Jogja ini dikenal karena rasa manisnya yang khas, warna cokelat pekat, serta kuah santan yang kental. Sebenarnya, dari bahan apa gudeg dibuat?

Gudeg diolah dari nangka muda yang dimasak bersama santan kental dalam durasi yang cukup lama. Hidangan ini disajikan dengan lauk pendamping seperti ayam, telur, atau tempe yang direbus dengan bumbu tradisional, serta tambahan sambal goreng krecek.

Salah satu penjual gudeg legendaris yang sangat populer adalah Gudeg Yu Djum. Berdasarkan informasi di Instagram @gudegyudjum, mereka memiliki empat cabang. Tiga gerai berada di Yogyakarta, salah satunya di Jl. Mayjen Sutoyo No. 60, sementara satu cabang lainnya berlokasi di Pasar Nusantara, Sarinah Plaza Jakarta.

Sebagai informasi tambahan, merujuk pada laman Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, gudeg diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16 atau 17, jauh sebelum Kesultanan Yogyakarta berdiri, sebagaimana tertulis dalam kisah di Serat Centhini.

Pada masa itu, gudeg disuguhkan sebagai jamuan bagi tamu di pedesaan Jawa dan kerap dijajakan saat pertunjukan wayang.

3. Kerak Telor

Kerak telor merupakan salah satu santapan khas Betawi yang telah eksis sejak zaman penjajahan Belanda, sekitar tahun 1920-an. Makanan ini dibuat dari campuran beras ketan, telur ayam atau bebek, ebi, dan parutan kelapa yang disangrai.

Di era kolonial Belanda, kerak telor dianggap sebagai makanan mewah yang hanya dapat dinikmati oleh kalangan atas. Namun, seiring berjalannya waktu, kuliner ini kini bisa dinikmati oleh siapa saja dengan harga yang terjangkau.

Hanya dengan modal mulai dari Rp20 ribuan, Anda sudah bisa menikmati seporsi kerak telor. Penjualnya mudah ditemukan di sekitar Monumen Nasional, kawasan Kota Tua, hingga Setu Babakan.

4. Kue Pancong

Selanjutnya adalah kue pancong yang berasal dari Betawi. Karena bentuknya yang setengah lingkaran, kue pancong sering kali disamakan dengan kue pukis. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan baik dari bahan dasar maupun cita rasanya.

Kue pancong Betawi umumnya berbahan dasar tepung beras, santan, dan gula, dengan profil rasa yang gurih dan asin. Teksturnya pun cenderung lebih padat dengan bagian luar yang renyah.

Akan tetapi, penyajian kue pancong saat ini telah mengalami perkembangan. Kue pancong modern lebih sering dimasak setengah matang agar teksturnya lebih lembut dan lumer di dalam, serta disajikan dengan berbagai pilihan topping kekinian.

Salah satu tempat rekomendasi untuk menikmati kue pancong modern adalah Pancong Boga Rasa Bulungan yang terletak di lobby utara Blok M Plaza, Jakarta Selatan. Harga per porsi bervariasi tergantung topping yang Anda pilih.

5. Papeda

Kuliner Indonesia yang satu ini, papeda, sangat populer dan melekat erat dengan masyarakat Papua. Papeda memiliki tekstur kental berwarna putih dengan rasa yang tawar. Bentuknya menyerupai bubur, namun dengan konsistensi yang lebih kental dan lengket.

Hidangan khas Papua ini berbahan dasar sagu dan biasanya disantap menggunakan garpu atau sumpit. Papeda terasa lebih nikmat saat disajikan bersama lauk pendamping seperti ikan kuah kuning, sayur ganemo, ikan goreng, dan kuah lalapan.

Beberapa lokasi untuk mencicipi papeda di Jakarta antara lain:

  • Waroeng Papeda khas Papua di Mall Atrium Senen, Jakarta Pusat.
  • Alenia Papua Coffee & Kitchen di Jl. Kemang Raya No. 66B (sebelah Ranch Market Kemang).
  • Sagolicious Cafe & Resto di Kelapa Gading, Jakarta Utara.
  • Yougwa Danau Sentani di Senayan Park dan QBIG BSD City.

Itulah beberapa kuliner tradisional Nusantara yang hingga kini masih terus eksis, meskipun usianya telah mencapai lebih dari seratus tahun.

Artikel menarik Lainnya