Home » Makanan Mewah yang Dulu Dinikmati Kaum Rendah

Makanan Mewah yang Dulu Dinikmati Kaum Rendah

Skincapedia.com – Makanan bukan hanya soal pemenuhan gizi, namun juga cerminan status sosial. Ada hidangan yang identik dengan kalangan atas, menengah, hingga bawah. Makanan mewah, seperti caviar, truffle, dan escargot, sering kali disajikan di restoran eksklusif dengan harga selangit. Namun, siapa sangka, ketiga hidangan tersebut dulunya dianggap makanan orang miskin karena dianggap kurang menarik atau bahkan menjijikan.

Berikut adalah 10 makanan mewah yang memiliki sejarah unik, dari makanan rakyat jelata menjadi hidangan premium.

1. Caviar

Telur ikan Sturgeon, atau caviar, yang kini identik dengan kemewahan, dulunya adalah makanan pokok para nelayan karena ketersediaannya yang melimpah. Konsumsi caviar kemudian meluas ke kalangan elit Rusia dan Eropa, menjadikannya simbol status sosial.

Lonjakan permintaan yang tak sebanding dengan populasi ikan Sturgeon dan kerumitan proses panen manual menjadikan caviar memiliki harga yang fantastis. Almas Caviar, misalnya, yang berasal dari ikan Sturgeon Beluga Albino, bisa mencapai lebih dari USD34.000 per kilogram. Beluga Caviar sendiri berkisar antara USD7.000 hingga USD22.000 per kilogram.

2. Truffle

Jamur truffle, yang terkenal dengan rasa dan aromanya yang khas, dulunya dianggap tidak berharga dan hanya dikonsumsi oleh rakyat jelata atau bahkan menjadi pakan babi. Jamur ini tumbuh liar di bawah tanah, berdekatan dengan akar pohon seperti oak dan hazelnut.

Para koki di Prancis dan Italia kemudian mengenali potensi rasa dan aroma earthy yang mampu meningkatkan cita rasa hidangan. Namun, karena sulit dibudidayakan secara massal, truffle menjadi barang langka dengan harga selangit. Alba White Truffle bisa mencapai lebih dari Rp31 juta – Rp50 juta per 450 gram, sementara Black Truffle berkisar Rp5,6 juta – Rp13,5 juta per 450 gram.

3. Lobster

Antara abad ke-17 hingga ke-19, lobster di Amerika Utara dianggap sebagai “protein orang miskin” karena kelimpahannya di pinggir pantai. Saking mudahnya didapat, lobster bahkan dijadikan makanan narapidana, budak, atau digunakan sebagai pupuk dan umpan ikan.

Perubahan status terjadi pada akhir abad ke-19 berkat perkembangan kereta api yang membawa wisatawan ke daerah pesisir. Mereka mulai mencicipi lobster sebagai kuliner unik dan menyukainya. Peningkatan permintaan dan teknik pengalengan yang berkembang memperluas distribusinya, namun juga mengurangi stok alam secara drastis.

Menjelang tahun 1950-an, lobster mencapai puncak popularitasnya sebagai hidangan mewah di restoran-restoran elit. Harganya bervariasi, dengan Lobster Laut berkisar Rp100.000 – Rp1 juta per kilogram, sementara Lobster Mutiara bisa melebihi Rp5 juta per kilogram.

Baca juga: Rekomendasi Kuliner Populer di Jakarta

4. Fondue

Fondue, yang kini menjadi hidangan ikonik Swiss, dulunya adalah makanan orang miskin. Penduduk desa pegunungan mengolah bahan sisa seperti keju keras dan roti kering untuk bertahan hidup saat musim dingin. Keju dilelehkan dalam panci (caquelon) dan dicocol dengan roti kering.

Minimnya alat makan membuat fondue dinikmati bersama dari satu panci besar. Seiring waktu, teknik dan rasa fondue disempurnakan, termasuk penambahan anggur putih. Kini, fondue menjadi hidangan populer di restoran Swiss dengan biaya rata-rata CHF50 hingga CHF70 per orang.

5. Escargot

Sebelum menjadi hidangan mahal, escargot atau siput, dianggap sebagai “makanan orang miskin” karena mudah didapat dan gratis. Hewan yang sering dianggap hama ini kemudian dimanfaatkan sebagai sumber protein.

Escargot bertransformasi menjadi hidangan mewah di Prancis melalui resep haute cuisine, disajikan sebagai makanan pembuka dengan garlic butter. Siput yang dibudidayakan khusus untuk restoran berbintang Michelin bisa memiliki harga fantastis, dengan rata-rata seporsi (sekitar 6 buah) mencapai Rp300 ribuan.

6. Oyster

Oyster atau tiram juga mengalami pergeseran status sosial, dari makanan murah meriah menjadi hidangan spesial di restoran mewah. Pada abad ke-18, panen tiram yang melimpah membuatnya dihargai sangat murah, menjadi makanan pokok pekerja pelabuhan dan orang miskin karena mudah didapat dan bergizi.

Penurunan populasi akibat overfishing dan perusakan habitat menyebabkan stok tiram menurun dan harganya melonjak tajam. Saat ini, tiram dibanderol mulai dari Rp100.000 hingga lebih dari Rp150.000 per porsi (berisi sekitar 6 pcs).

7. Sushi

Sushi awalnya merupakan metode nelayan miskin di Jepang untuk mengawetkan ikan. Ikan mentah dibungkus nasi dan garam, lalu difermentasi selama berbulan-bulan dalam metode nare-sushi, di mana nasi dibuang dan hanya ikan yang dikonsumsi.

Pada abad ke-19, muncul nigiri sushi sebagai jajanan pinggir jalan yang praktis dan murah bagi pekerja pelabuhan. Popularitasnya meningkat seiring dengan teknik pembuatan yang canggih dan penggunaan bahan berkualitas tinggi seperti otoro, uni, ikura, unagi, fugu, dan daging kepiting raja.

Seporsi sushi kualitas tinggi dibanderol mulai dari Rp75.000 (berisi 2-8 pcs). Restoran omakase menawarkan menu sushi dengan bahan musiman sesuai kreativitas chef.

8. Ratatouille

Ratatouille, yang berasal dari bahasa Prancis ‘rata’ (makanan sisa) dan ‘toui’ (mengaduk), awalnya adalah makanan bertahan hidup berupa tumisan sayuran seperti zucchini, terong, tomat, dan paprika yang dimasak dengan minyak zaitun menggunakan teknik slow-cooked.

Kini, ratatouille telah berkembang menjadi hidangan mewah yang mendunia dan menjadi ikon di restoran-restoran Prancis. Harganya dibanderol mulai dari EUR10 hingga EUR20 per porsi.

9. Quinoa

Selama ribuan tahun, quinoa dikonsumsi oleh masyarakat adat di lembah Andes, Amerika Serikat, sebagai sumber energi utama. Tumbuh liar dan mudah dibudidayakan di daerah pegunungan, biji-bijian ini dianggap makanan kelas bawah di wilayah tersebut.

Reputasi quinoa berubah drastis setelah peneliti menemukan kandungan nutrisi luar biasa di dalamnya, termasuk protein nabati lengkap, serat, mineral, dan vitamin. Kini, quinoa populer sebagai pengganti nasi yang lebih sehat, terutama untuk diet.

Meningkatnya permintaan yang tidak diimbangi dengan perluasan area budidaya membuat harganya melonjak, kini dibanderol kisaran Rp150 ribu per kilogram.

10. Brisket

Brisket, bagian sandung lamur sapi, dulunya dianggap sebagai potongan daging yang keras dan alot. Bagian dada bawah yang menopang berat sapi ini sangat dihindari dan dihargai sangat murah.

Para peternak kemudian menemukan teknik memasak dengan pengasapan lambat (low and slow) selama 12-24 jam. Teknik ini mampu mengubah serat daging yang keras menjadi sangat lembut, juicy, dan kaya rasa.

Seiring popularitas BBQ ala Amerika, brisket kini menjadi hidangan premium di restoran steak mewah. Brisket premium dibanderol kisaran Rp110.000 hingga Rp180.000 per 250-500 gram, tergantung merek dan kualitas daging.

Kisah-kisah ini menunjukkan bagaimana persepsi terhadap makanan dapat berubah seiring waktu, mengubah status dari hidangan rakyat menjadi primadona kelas atas.

Artikel menarik Lainnya