Membahas peristiwa traumatis bukanlah perkara yang sederhana. Perasaan jengkel, amarah, hingga isak tangis sering kali muncul secara spontan.
Akan tetapi, terdapat pula individu yang justru tersenyum atau tertawa ketika mengisahkan pengalaman pahit mereka. Perbedaan antara isi cerita yang kelam dengan ekspresi wajah yang tampak “ceria” tersebut ternyata memiliki signifikansi tersendiri dalam kacamata psikologi.
Dikutip dari Psychology Today, seorang psikoterapis bernama Lisa Ferentz LCSW-C, DAPA memaparkan beberapa alasan Mengapa seseorang mungkin tersenyum atau tertawa saat menceritakan trauma mereka. Mari kita simak!
1. Cara Meminimalkan Pengalaman Trauma

Tindakan tersenyum atau tertawa saat mengulas trauma mengisyaratkan bahwa peristiwa tersebut tidaklah separah yang dibayangkan. Hal ini menjadi upaya mereka untuk tetap menjaga relasi dengan sosok yang telah memberikan luka tersebut.
Dengan cara mengecilkan dampak buruk dari perlakuan yang diterima, mereka dapat mempertahankan ikatan dengan orang-orang yang dianggap berarti dalam hidupnya.
2. Mekanisme Pertahanan yang Melindungi Penyintas Trauma
Banyak penyintas trauma meyakini bahwa jika mereka tidak menertawakan penderitaan tersebut, mereka akan terus terbelenggu dalam amarah, keputusasaan, kekecewaan, atau kesedihan yang amat dalam. Mereka merasa takut untuk menghadapi emosi tersebut, terutama jika sampai kehilangan kendali atas diri sendiri.
Oleh sebab itu, mereka memilih untuk tersenyum dan tertawa sebagai bentuk perlindungan diri. Tawa berfungsi menjaga agar rasa sakit tidak terasa terlalu hebat.
3. Cara Mengatakan Rasa Malunya

Diperlukan keberanian yang luar biasa untuk bersikap terbuka mengenai pengalaman yang menyakitkan sekaligus memalukan. Sebagian penyintas trauma cenderung memendam rasa malu dan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.
Melalui tawa, mereka sebenarnya sedang mengomunikasikan rasa malu tersebut, sekaligus menjadikannya sebagai sarana pengalihan dari narasi trauma yang mereka sampaikan.
4. Pola dari Keluarga
Terakhir, perilaku tersenyum atau tertawa saat bercerita tentang trauma sering kali berakar dari pola asuh masa kecil. Sejak dini, emosi mereka sering kali tidak digubris atau dianggap sepele, sehingga mereka tidak terbiasa untuk mengutarakan apa yang sebenarnya dirasakan.
Alhasil, anak tumbuh tanpa dibekali kemampuan untuk mengekspresikan kemarahan atau kesedihan secara sehat dan aman. Akhirnya, mereka menggunakan tawa sebagai kedok untuk menutupi perasaan tersebut.
Demikianlah beberapa alasan mengapa seseorang bisa tersenyum dan tertawa saat menceritakan traumanya menurut psikoterapis. Apakah Anda pernah menjumpai seseorang yang juga menertawakan rasa sakitnya sendiri?
