Skincapedia.com – Dalam interaksi sosial, terdapat tiga ungkapan penting yang sering disebut sebagai “kata ajaib”: “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”. Mengucapkan terima kasih merupakan wujud apresiasi dan rasa syukur atas bantuan atau kebaikan yang diberikan orang lain, sekaligus cara untuk menghargai usaha mereka.
Namun, bagaimana dengan individu yang cenderung tidak menunjukkan rasa terima kasih? Bahkan untuk ucapan sesederhana “terima kasih”, mereka merasa enggan. Perilaku ini sering kali muncul dari rasa superioritas, di mana mereka merasa tidak membutuhkan bantuan orang lain dan menganggap diri mereka paling hebat.
Orang yang tidak tahu berterima kasih kerap melontarkan serangkaian kalimat tertentu dalam percakapan sehari-hari. Mengutip dari Your Tango, mari kita telaah lebih dalam mengenai ungkapan-ungkapan tersebut.
“Mengapa Kamu Selalu Membuatku Merasa Begini?”

Salah satu kalimat yang sering diucapkan oleh orang yang tidak tahu berterima kasih adalah, “Mengapa kamu selalu membuatku merasa begini?”. Ungkapan ini menunjukkan kecenderungan mereka untuk menolak tanggung jawab atas tindakan pribadi mereka. Mereka kerap mengharapkan orang lain untuk selalu berkorban dan memberikan dukungan penuh dalam berbagai situasi.
Di sisi lain, mereka sangat jarang menunjukkan apresiasi atau rasa terima kasih atas segala kebaikan yang telah diterima dari orang terdekat, baik itu pasangan, keluarga, maupun teman.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One menemukan bahwa individu yang tidak menunjukkan rasa terima kasih sering kali menggunakan strategi ini untuk “menyelamatkan muka” ketika dihadapkan pada konsekuensi dari perbuatan mereka. Dengan mengalihkan fokus pada faktor eksternal, seperti perilaku pasangan, mereka dapat memposisikan diri sebagai korban dan memanipulasi orang-orang di sekitar mereka.
“Tidak Ada Seorang pun yang Berterima Kasih saat Aku Menolong Mereka”

Orang yang tidak tahu berterima kasih juga gemar melontarkan kalimat seperti, “Tidak ada seorang pun yang berterima kasih saat aku menolong mereka.” Perilaku ini sering kali mengindikasikan bahwa tindakan menolong mereka tidak sepenuhnya tulus, melainkan didorong oleh harapan akan adanya imbalan.
Terdapat alasan psikologis di balik pola perilaku ini. Sebuah studi tahun 2023 yang dipublikasikan di PubMed Central mengenai rasa syukur menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang menekankan pentingnya rasa syukur cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih baik dan keseimbangan emosional yang lebih stabil dibandingkan teman sebaya mereka yang kurang bersyukur.
Meskipun banyak orang tua menyadari pengaruh pola asuh terhadap kesejahteraan anak hingga dewasa, contoh ini menggambarkan kecenderungan hubungan yang bersifat “transaksional” sejak dini. Jika orang tua mengharapkan rasa syukur sebagai balasan atas setiap tindakan pengasuhan, seperti menyediakan berbagai fasilitas, anak-anak yang tumbuh dewasa kemungkinan akan membawa pola pikir ini ke dalam hubungan romantis mereka.
Dalam konteks hubungan asmara, mereka mungkin memanipulasi pasangan agar percaya bahwa kesetiaan, kejujuran, atau cinta hanya layak diberikan ketika ada respons dan ungkapan rasa syukur yang aktif, alih-alih membiarkannya mengalir dari cinta tanpa syarat.
“Aku Lupa Kamu Hanya Datang saat Butuh Sesuatu”

Mereka juga berusaha memanipulasi orang lain dengan kalimat, “Aku lupa kamu hanya datang saat butuh sesuatu.” Padahal, dalam hati mereka sadar bahwa dirinyalah yang selama ini sering memanfaatkan orang lain. Namun, karena merasa malu dan enggan mengakui kesalahan, mereka cenderung memproyeksikan perilaku tersebut kepada orang lain.
Menurut studi dari American Psychologist, individu yang secara rutin mempraktikkan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari cenderung mengalami lebih sedikit emosi negatif. Sebaliknya, orang yang tidak tahu berterima kasih, karena kurang terbiasa bersyukur, sering kali dihantui oleh berbagai gejolak emosi yang belum terselesaikan, termasuk rasa bersalah, malu, dan perasaan berhak atas segalanya.
Dengan membebani orang lain dengan emosi-emosi ini, mereka mencari cara untuk melepaskan diri dari rasa bersalah dan mengalihkannya kepada orang lain, terutama ketika mereka merasa tidak didukung atau tidak didengarkan sepenuhnya.
“Mengapa Aku Selalu Merasa Tidak Bahagia?”

Penelitian yang dilakukan oleh Harvard Health Publishing menemukan bahwa orang yang lebih sering mengungkapkan rasa syukur dalam hidup mereka cenderung memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak bersyukur.
Individu yang tidak bersyukur kerap merasa tidak puas, baik dalam hal pengembangan diri maupun dalam hubungan interpersonal. Hal ini disebabkan oleh kesulitan mereka dalam mengekspresikan rasa terima kasih kepada orang-orang di sekitar mereka.
Selain manipulasi yang sering mereka andalkan dan sifat transaksional dalam hubungan, interaksi mereka sering kali diwarnai oleh kecemasan dan harapan yang secara keliru membebani diri mereka sendiri.
“Kamu Berutang Padaku”

Sebuah studi dari jurnal Personality and Social Psychology berpendapat bahwa orang yang tidak tahu berterima kasih memiliki kecenderungan untuk terlalu fokus pada apa yang “hilang” dari kehidupan mereka, alih-alih mensyukuri apa yang sudah mereka miliki, seperti hubungan yang sehat, dukungan, atau stabilitas finansial.
Ketidakpuasan yang terus-menerus ini dapat memberikan dampak negatif pada hubungan. Seseorang yang tidak tahu berterima kasih cenderung menetapkan standar yang mustahil bagi orang lain, mulai dari anggota keluarga hingga pasangan.
Dengan kehilangan kesempatan untuk berempati, menghargai, dan mengungkapkan rasa terima kasih kepada orang-orang terdekat, mereka juga kehilangan kesempatan untuk berkembang dalam hubungan. Hal ini menghambat tumbuhnya kepercayaan, keintiman, dan rasa kesetiaan.
Baca juga: 4 Alasan Mengapa My Royal Nemesis Harus Kamu Tonton
Demikianlah beberapa kalimat yang sering diucapkan oleh orang yang tidak tahu berterima kasih dalam kehidupan sehari-hari. Apakah ada kalimat-kalimat tersebut yang sering Anda dengar dari orang di sekitar Anda?
