Anda tentu sudah tidak asing dengan ragam nail art memikat, seperti gaya glazed donut ala Hailey Bieber, atau desain kuku yang dihiasi motif buah, bintang, glitter, hingga kristal. Namun, manikur rumit yang memakan waktu lama untuk dikerjakan kini mulai ditinggalkan.
Belakangan ini, tampilan kuku natural yang simpel tanpa cat, atau sering disebut bare nails, kian populer. Meski demikian, tren ini tidak melunturkan kebiasaan kaum perempuan untuk tetap menjaga kuku agar terlihat rapi dan terawat walau tanpa pulasan warna.
Ada anggapan bahwa bare nails merupakan representasi dari quiet luxury atau kemewahan yang bersahaja. Di sisi lain, sebagian pihak melihat tren ini sebagai indikator resesi, di mana masyarakat mulai memangkas anggaran untuk perawatan kecantikan.
Sebagaimana dilaporkan oleh PBL Magazine, kedua perspektif tersebut bisa jadi sama-sama benar. Tren ini mencerminkan dinamika gaya hidup dan kondisi ekonomi individu, sekaligus melampaui sekadar tren kecantikan biasa.
Tampilan Kuku Bare Nails

Merujuk pada laporan PBL Magazine, tampilan bare nails umumnya melibatkan kuku yang dipotong pendek dengan bentuk soft square atau almond. Kuku kemudian diberi lapisan warna transparan bernuansa merah muda, milky white, atau nude, bahkan ada yang hanya dipoles hingga berkilau tanpa tambahan kuteks berwarna.
Gaya bare nails tidak menggunakan ekstensi kuku, lapisan chrome, ataupun desain nail art rumit yang sempat mendominasi tren manikur sebelumnya.
Walau begitu, Tren Kuku maksimalis dengan motif dekoratif belum sepenuhnya sirna. Hingga saat ini, nail art masih diminati banyak orang. Kehadiran tren bare nails menandakan bahwa pasar kecantikan kini tidak hanya mengacu pada satu gaya, melainkan terbagi menjadi dua arus: minimalis dan nail art yang lebih ekspresif.
Tren Bare Nails Sebagai Simbol Quiet Luxury

Saat ini, bare nails dipandang sebagai simbol quiet luxury, yakni kemewahan yang tampil tidak mencolok. Mengutip dari Glossy, sebuah video dari kreator konten Instagram Miranda Shanahan menanggapi keputusan influencer Valeria Lipovetsky yang berhenti menjalani rutinitas manikur rutin.
Menurut Shanahan, banyak perempuan sukses merasa tidak lagi memiliki waktu luang untuk menghabiskan berjam-jam di salon setiap beberapa minggu sekali.
Di sisi lain, fenomena ini berkaitan dengan konsep counter-signaling. Berdasarkan laporan PLB Magazine, counter-signaling terjadi ketika sebuah simbol status telah menjadi terlalu umum dan mudah diakses semua kalangan, sehingga kelompok kelas atas justru menghindarinya untuk tetap menunjukkan eksklusivitas.
Kuku natural dianggap sebagai simbol kemewahan baru karena lebih menantang untuk diwujudkan; dibutuhkan perawatan intensif agar kuku tetap sehat dan tampak prima.
Berbeda dengan kuku yang dipenuhi nail art, di mana gel manicure bisa menyembunyikan kekurangan pada kuku, bare nails hanya akan terlihat menarik jika kuku tersebut benar-benar sehat dan terawat dengan baik.
Tren Bare Nails Justru Menuai Kritik

Ternyata, tidak semua orang sepakat bahwa bare nails adalah bentuk quiet luxury. Melalui Glossy, kreator konten sekaligus mantan Beauty Director Women’s Wealth, Kristina Rodulfo, mengkritik anggapan bahwa tren bare nails secara otomatis mencerminkan selera yang lebih baik atau status sosial yang lebih tinggi.
Menurutnya, pandangan tersebut berisiko mempertegas standar kecantikan yang tidak inklusif serta mengabaikan keberagaman budaya. Nail art memiliki sejarah panjang sebagai sarana ekspresi diri, khususnya bagi komunitas kulit hitam, Latino, dan Asia-Amerika.
Dikutip dari PLB Magazine, perempuan kulit hitam dan Latino sering kali distigmatisasi; kuku akrilik panjang atau nail art berwarna cerah sering dianggap tidak profesional atau bahkan dicap negatif.
Namun, ketika gaya yang sama diterapkan oleh perempuan kulit putih, hal tersebut justru dipuji dan dianggap trendi. Oleh karena itu, tren bare nails berisiko menjadi bentuk diskriminasi terselubung atau quiet discrimination.
Tren Bare Nails Dianggap Sebagai Tanda-tanda Resesi

Selain dianggap sebagai simbol kemewahan, popularitas bare nails juga dinilai sebagai sinyal resesi atau kondisi ekonomi yang sedang sulit. Mengingat biaya perawatan kuku, terutama gel manicure dengan teknik khusus atau nail art yang rumit, tergolong cukup mahal.
Kuku pendek tanpa dekorasi jauh lebih efisien dari segi biaya, tidak mengharuskan kunjungan rutin ke salon, serta tidak memerlukan banyak produk perawatan tambahan. Singkatnya, Anda tetap bisa tampil rapi dan bersih sekaligus menekan pengeluaran untuk nail art.
Itulah pro dan kontra mengenai tren bare nails yang sedang naik daun. Apakah Anda mendukung tren ini atau justru merasa kurang setuju?
