Home » Perbedaan AHA, BHA, dan PHA: Panduan Memilih untuk Pemula

Perbedaan AHA, BHA, dan PHA: Panduan Memilih untuk Pemula

Photo by halodoc.com - Perbedaan AHA, BHA, dan PHA: Panduan Memilih untuk Pemula

Skincapedia.com – AHA, BHA, dan PHA merupakan kelompok asam eksfoliasi yang bekerja dengan cara melarutkan sel kulit mati di permukaan atau di dalam pori-pori. Memahami Perbedaan ketiganya menjadi kunci untuk menentukan produk yang efektif tanpa harus berisiko mengalami iritasi berlebih, terutama bagi mereka yang baru memulai rutinitas perawatan kulit dengan bahan aktif.

AHA (Alpha Hydroxy Acid): Eksfoliator Permukaan Kulit

AHA adalah kelompok asam yang larut dalam air. Karena sifatnya ini, AHA bekerja terutama pada lapisan terluar kulit (epidermis). Fungsi utamanya adalah memecah ikatan antara sel-sel kulit mati sehingga proses regenerasi kulit menjadi lebih cepat. Penggunaan rutin AHA umumnya membantu memperbaiki tekstur kulit yang kasar, memudarkan noda hitam ringan, dan memberikan tampilan wajah yang lebih cerah.

Beberapa jenis AHA yang umum ditemukan meliputi asam glikolat (glycolic acid) dan asam laktat (lactic acid). Asam glikolat memiliki molekul yang sangat kecil sehingga penetrasinya cukup dalam, sementara asam laktat dikenal lebih lembut karena molekulnya lebih besar, sehingga sering menjadi pilihan bagi pemilik kulit sensitif.

BHA (Beta Hydroxy Acid): Pembersih Pori-Pori

Berbeda dengan AHA, BHA bersifat larut dalam minyak. Karakteristik ini memungkinkan BHA masuk ke dalam kelenjar minyak dan membersihkan pori-pori dari tumpukan sebum serta kotoran yang tersumbat. Inilah alasan mengapa BHA, dengan kandungan utamanya berupa asam salisilat (salicylic acid), sangat disarankan bagi pemilik kulit berminyak atau mereka yang memiliki masalah jerawat dan komedo.

BHA juga memiliki sifat menenangkan atau anti-inflamasi, sehingga sering kali lebih nyaman digunakan oleh kulit yang sedang meradang dibandingkan AHA. Jika masalah utama kulit Anda adalah pori-pori tersumbat, komedo hitam, atau jerawat aktif, BHA adalah pilihan yang lebih tepat.

PHA (Poly Hydroxy Acid): Opsi Lembut untuk Kulit Sensitif

PHA sering disebut sebagai generasi baru dari eksfoliator kimia. Secara struktur molekul, PHA memiliki ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan AHA. Ukuran molekul yang besar ini menghambat penetrasi PHA ke lapisan kulit yang lebih dalam, sehingga ia hanya bekerja di permukaan kulit secara sangat perlahan.

Kelebihan utama PHA adalah sifatnya yang minim iritasi. Selain mengeksfoliasi, PHA juga memiliki sifat humektan, artinya ia mampu menarik air dan menjaga kelembapan kulit saat proses eksfoliasi berlangsung. Ini menjadikannya pilihan ideal bagi pemula yang memiliki kulit sangat sensitif, kering, atau mereka yang memiliki kondisi kulit seperti rosacea.

Mana yang Cocok untuk Pemula?

Bagi pemula, menentukan pilihan harus didasarkan pada kondisi kulit saat ini. Jika kulit Anda cenderung berminyak dan berjerawat, BHA dengan konsentrasi rendah (sekitar 1-2%) adalah titik awal yang baik. Fokuskan penggunaan hanya pada area yang bermasalah, seperti T-zone atau area yang sering muncul komedo.

Jika kulit Anda normal, kering, atau kusam, AHA atau PHA bisa menjadi pilihan. PHA adalah pilihan paling aman untuk meminimalisir risiko kemerahan atau sensasi perih. Namun, jika Anda ingin hasil yang lebih terlihat dalam memperbaiki tekstur, asam laktat (AHA) bisa dicoba dengan frekuensi penggunaan yang sangat jarang di awal.

Aturan Penggunaan yang Wajib Diperhatikan

Eksfoliasi bukanlah rutinitas yang harus dilakukan setiap hari. Untuk pemula, gunakan produk eksfoliasi maksimal dua kali dalam seminggu. Perhatikan reaksi kulit; jika muncul tanda-tanda seperti kulit terasa tertarik, perih, atau kemerahan, segera hentikan penggunaan selama beberapa hari.

Jangan pernah menggabungkan produk AHA, BHA, atau PHA dengan bahan aktif lain yang bersifat mengiritasi seperti retinol atau vitamin C konsentrasi tinggi secara bersamaan dalam satu waktu. Hal ini dapat merusak pelindung alami kulit (skin barrier). Selalu gunakan pelembap setelah proses eksfoliasi untuk mengembalikan hidrasi kulit.

Penggunaan tabir surya (sunscreen) pada pagi hari hukumnya wajib bagi siapa pun yang menggunakan bahan eksfoliator. Asam-asam ini membuat kulit menjadi lebih sensitif terhadap paparan sinar matahari. Tanpa perlindungan yang cukup, penggunaan AHA, BHA, atau PHA justru bisa menyebabkan hiperpigmentasi atau iritasi akibat sinar UV.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Kesalahan yang paling sering dilakukan pemula adalah menganggap “semakin sering dipakai, semakin cepat hasilnya”. Padahal, eksfoliasi berlebihan (over-exfoliation) justru akan membuat kulit kehilangan kemampuan alaminya untuk menjaga kelembapan, yang berujung pada kulit yang memerah, mengelupas, dan lebih mudah berjerawat.

Hindari pula penggunaan produk eksfoliasi pada kulit yang sedang mengalami luka terbuka atau jerawat yang meradang hebat. Biarkan kulit sembuh terlebih dahulu sebelum memulai kembali rutinitas eksfoliasi. Terakhir, jangan melakukan eksfoliasi fisik (seperti scrub kasar) bersamaan dengan eksfoliasi kimia, karena ini akan memberikan tekanan ganda yang tidak diperlukan oleh kulit.

Ringkasan Pemilihan

Pemilihan antara AHA, BHA, dan PHA bergantung sepenuhnya pada jenis kulit dan masalah yang ingin diatasi. BHA untuk kulit berjerawat dan pori tersumbat, AHA untuk kulit kusam dan tekstur kasar, sementara PHA untuk kulit sensitif yang membutuhkan eksfoliasi lembut. Kunci keberhasilan penggunaan bahan-bahan ini terletak pada konsistensi, frekuensi yang rendah di awal, dan perlindungan matahari yang disiplin untuk menjaga kesehatan jangka panjang kulit wajah.

📷 Photo by halodoc.com

Artikel menarik Lainnya