Home » Negara dengan Kenaikan BBM Terparah Akibat Konflik AS

Negara dengan Kenaikan BBM Terparah Akibat Konflik AS

Pasar minyak global tengah dilanda ketidakstabilan selama hampir sebulan terakhir pasca pecahnya perseteruan antara Israel – Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Konflik yang terjadi di Timur Tengah ini berpotensi mendongkrak harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, utamanya setelah Iran melakukan penutupan Selat Hormuz di Teluk Persia. Jalur tersebut merupakan urat nadi bagi distribusi energi global dari kawasan Teluk ke berbagai penjuru dunia.

Adapun lonjakan harga yang tercatat paling signifikan terjadi di negara-negara Asia karena sangat bergantung pada impor energi. Lantas, apakah Indonesia termasuk di dalamnya?

Mengutip dari laman detikEdu, berikut adalah daftar 10 negara yang mengalami peningkatan harga BBM paling parah sebagai imbas dari konflik Israel – AS dengan Iran. Mari kita simak!

1. Kamboja

Kamboja

Sejak meletusnya konflik di Timur Tengah, Kamboja merasakan kenaikan harga bensin yang paling tinggi, mencapai 68 persen. Harga solar dilaporkan meroket hingga 7.500 riel (setara Rp30.500) per liter pada April 2026.

Kenaikan ini mengancam berbagai sektor dan memunculkan kekhawatiran di kalangan petani menjelang musim tanam. Pemerintah Kamboja pun berencana menurunkan bea impor dan pajak produksi BBM guna meringankan beban harga bagi warganya.

2. Vietnam

Vietnam

Harga bahan bakar di Vietnam juga mengalami kenaikan tajam sejak akhir Februari 2026. Harga solar dilaporkan melonjak drastis, dari kisaran 19.270 dong menjadi 39.660 dong per liter. Sementara itu, bensin RON 95 melonjak hampir 68 persen.

Situasi ini memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar dan menimbulkan kekhawatiran akan menipisnya pasokan akibat banyak warga yang melakukan pembelian panik.

3. Nigeria

Nigeria

Meskipun dikenal sebagai salah satu negara penghasil minyak, Nigeria tetap merasakan dampak akibat struktur distribusi dan impor bahan bakar olahan. Harga BBM telah meningkat sebesar 39,05 persen per 20 Maret 2026.

Baca juga: Panduan Menyusun Itinerary Liburan Hemat Biaya

4. Laos

Laos

Sama seperti negara Asia Tenggara lainnya, Laos juga mengalami kenaikan harga bahan bakar sebesar 32,83 persen. Harga bensin dilaporkan naik dari Rp22.774 menjadi Rp30.252 per liter.

Ketergantungan Laos pada impor energi menjadi penyebab utama lonjakan ini, yang berujung pada peningkatan biaya hidup.

5. Kanada

Kanada

Gangguan pasokan energi global memicu kenaikan harga minyak mentah melebihi USD100 per barel di berbagai negara, termasuk Kanada. Negara ini mengalami peningkatan harga BBM sebesar 28,36%, yang berdampak pada kenaikan ongkos transportasi.

6. Pakistan

Pakistan

Pemerintah Pakistan juga menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan sebagai imbas dari lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.

Dikutip dari laman Reuters, harga solar di Pakistan melonjak hampir 55 persen menjadi 520,35 rupee per liter, sementara harga bensin meningkat 42,7 persen menjadi 458,40 rupee per liter. Kenaikan yang cukup drastis ini merupakan yang kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari satu bulan terakhir.

7. Maladewa

Maladewa

Maladewa termasuk dalam daftar negara dengan kenaikan harga BBM tertinggi akibat konflik di Timur Tengah, dengan peningkatan mencapai 18,54 persen.

Kenaikan harga ini memengaruhi biaya operasional dan konsumsi, sehingga menambah tekanan ekonomi bagi negara tersebut.

8. Australia

Australia

Harga BBM di Australia juga melonjak ke rekor tertinggi dalam 20 tahun terakhir akibat konflik Israel – Amerika Serikat dengan Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Berdasarkan laporan data, harga solar melebihi USD2,82 dan bensin mencapai USD2,40 per liter.

Untuk mengatasi situasi ini, pemerintah Australia memangkas pajak BBM sebesar 50% atau sekitar 26,3 sen per liter. Selain itu, transportasi umum digratiskan di beberapa wilayah, seperti Victoria dan Tasmania.

9. Amerika Serikat

Amerika Serikat

Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, harga bensin di Amerika Serikat telah meningkat sekitar USD1,06 (setara Rp19 ribu) per galon atau sekitar 36 persen. Sementara itu, harga solar melonjak ke USD4,00 (setara Rp68 ribu) per galon, angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Selain meningkatkan kekhawatiran pasokan, konflik ini mendorong harga minyak mentah mendekati level tertinggi. Warga AS banyak yang merasa terbebani akibat kenaikan harga bahan bakar yang meroket, yang secara tidak langsung mengancam daya beli.

10. Filipina

Filipina

Filipina masuk dalam jajaran negara di kawasan Asia Tenggara yang terdampak krisis energi. Pemerintah Filipina menetapkan status darurat energi sebagai imbas dari perang Israel – Amerika Serikat dengan Iran, yang memicu lonjakan harga BBM lebih dari dua kali lipat.

Harga bensin diperkirakan menembus 82 peso (setara Rp23.000) per liter, sedangkan diesel/solar mencapai 110 peso (setara Rp31.000) per liter pada akhir Maret 2026.

Kenaikan harga bahan bakar yang cukup drastis ini memicu penurunan daya beli masyarakat dan aksi mogok kerja para sopir jeepney. Pemerintah Filipina pun merespons dengan rencana pemberian subsidi dan penyesuaian pajak untuk meredam inflasi.

11. Singapura

Singapura

Singapura menjadi negara dengan kenaikan harga BBM tertinggi di ASEAN. Harga bensin di negara ini dilaporkan mencapai Rp58.000 per liter pada Maret 2026, dengan total kenaikan energi melebihi 60 persen.

Kenaikan ini dipicu oleh gangguan pasokan minyak mentah di Timur Tengah, yang menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam. Akibat lonjakan ini, Singapura terpaksa mengaktifkan mode krisis nasional.

Bagaimana dengan Indonesia?

Dikutip dari detikEdu, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa tidak ada kenaikan harga BBM di Indonesia. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu melakukan pembelian panik terkait kabar kenaikan harga BBM.

Meskipun masih terbilang aman untuk saat ini, ketergantungan pada impor minyak mentah membuat negara-negara di kawasan Asia Tenggara sangat rentan terhadap gejolak global. Ketika harga minyak dunia naik, dampaknya akan langsung terasa pada biaya transportasi, logistik, hingga kebutuhan pokok.

Oleh karena itu, konflik ini juga menjadi pengingat bagi Indonesia, di mana meskipun memiliki sumber daya energi yang melimpah namun masih sangat bergantung pada impor bahan bakar.

Artikel menarik Lainnya