Skincapedia.com – Banyak orang yang memiliki kemampuan luar biasa untuk menyembunyikan perasaan mereka, bahkan ketika mereka sedang menghadapi kesulitan. Mereka mungkin memaksakan senyum dan bertindak seolah semuanya normal, padahal kenyataannya jauh dari kata baik-baik saja.
Salah satu alasan mengapa seseorang memilih untuk berpura-pura baik-baik saja adalah karena sejak kecil kita sering diajarkan untuk menahan emosi. Padahal, berbagai penelitian telah membuktikan bahwa menekan atau memendam emosi justru dapat membuat emosi negatif tersebut bertahan dan tidak terselesaikan dengan baik.
Menurut para psikolog, ada beberapa ungkapan yang bisa menjadi petunjuk ketika seseorang sedang berusaha menyembunyikan perasaannya. Artikel ini akan mengulas tiga di antaranya, berdasarkan informasi dari Your Tango.
”Aku Baik-Baik Saja, Jangan Khawatirkan Aku”

Kalimat ini mungkin terdengar akrab di telinga Anda. Di balik upaya untuk menenangkan orang lain, sebenarnya tersimpan perasaan yang sedang tidak baik-baik saja. Salah satu penyebab utama orang menyembunyikan emosi mereka dari orang terkasih adalah rasa malu untuk mengakui perasaan yang sebenarnya.
Orang yang berpura-pura baik-baik saja seringkali mencoba menutupi kondisi mereka dengan meyakinkan orang lain bahwa semua baik-baik saja. Mereka tidak ingin dianggap cengeng atau lemah. Namun, tindakan ini justru bisa berbalik arah, karena menyembunyikan emosi dapat memperburuk keadaan.
Psikolog berlisensi, La Keita D. Carter, PsyD, LP, menjelaskan, “Masalahnya adalah menekan perasaan kita justru dapat memperparahnya. Dan jika kita melakukannya cukup lama, perasaan tersebut dapat berkembang menjadi masalah kronis.”
”Aku Sudah Terbiasa dengan Hal Itu”

Salah satu aspek yang paling menyedihkan dari orang yang berpura-pura baik-baik saja adalah mereka sudah begitu terbiasa melakukannya sehingga tidak lagi melihatnya sebagai sebuah masalah. Padahal, terbiasa bukan berarti baik-baik saja.
Kebiasaan ini bisa menjadi bumerang di kemudian hari. Mengatasi luka batin memang bukan perkara mudah, namun mengakui luka tersebut apa adanya adalah langkah yang sangat krusial. Konselor berlisensi, Diana Tutschek, M.S., menyatakan bahwa luka batin yang tidak ditangani dengan benar tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada hubungan dengan orang lain.
“Trauma masa kecil yang tidak ditangani memengaruhi keterikatan, kepercayaan, dan komunikasi orang dewasa dalam hubungan intim,” ungkapnya.
”Aku Tidak Ingin Membebani Siapa pun”

Ketika kita mencintai seseorang, naluri kita adalah melindungi mereka dari segala ancaman, baik dari luar maupun dari diri sendiri. Inilah mengapa kalimat seperti “Aku tidak ingin membebani siapa pun” sering diucapkan oleh orang yang sedang tidak baik-baik saja namun enggan membicarakannya.
Orang yang dicintai mungkin tidak keberatan untuk membantu, namun karena rasa malu atau bersalah, mereka memilih untuk menyembunyikan perasaan dan berpura-pura baik-baik saja.
Psikolog klinis dan profesor, Leon F Seltzer, PhD, mengaitkan hal ini dengan rasa takut. Ia menjelaskan, “Tetapi pada kenyataannya, motif utama menyembunyikan emosi kita (seperti yang telah saya sebutkan) didasarkan pada rasa takut. Kita hanya takut terlihat lemah atau rentan di mata orang lain.”
Inilah alasan mengapa banyak orang yang diam-diam sedang tidak baik-baik saja hampir selalu menyebutkan rasa takut mereka menjadi beban. Meskipun mungkin terdengar tidak logis bagi orang yang mereka sayangi, salah satu alasan utama mereka enggan terbuka adalah ketakutan tersebut.
