Marah adalah emosi mendasar manusia. Emosi ini kerap kali bermanifestasi sebagai ketidakpuasan, frustrasi, bahkan perubahan fisik yang kentara.
Namun, pernahkah Anda merenungkan bagaimana jadinya sebuah negara jika mayoritas penduduknya memiliki kecenderungan mudah marah? Belum lama ini, perusahaan analisis dan konsultasi manajemen kinerja global asal Amerika Serikat, Gallup, menerbitkan sebuah laporan berjudul Global Emotion Reports. Salah satu temuan menarik dari laporan tersebut adalah identifikasi negara-negara dengan penduduk paling mudah marah di dunia.
Gallup melakukan survei melalui wawancara telepon dan tatap muka terhadap individu berusia 15 tahun ke atas di 144 negara dan wilayah. Laporan tersebut mengindikasikan bahwa secara global, sekitar satu dari lima orang melaporkan mengalami perasaan marah dalam sehari sebelumnya.
Lantas, negara mana saja yang masuk dalam daftar ini? Mengutip dari The Facts Institute, mari kita telusuri lebih lanjut.
Daftar Negara yang Warganya Paling Pemarah di Dunia

Gallup menyajikan daftar negara di dunia yang penduduknya paling mudah menunjukkan kemarahan. Urutan daftar ini didasarkan pada persentase responden dari sekitar 1.000 orang dewasa yang menjawab ‘ya’ ketika ditanya, “Apakah Anda mengalami kemarahan sepanjang hari kemarin?”.
Berikut adalah 10 negara teratas dalam daftar negara paling pemarah di dunia:
- Chad (47%)
- Yordania (46%)
- Armenia (43%)
- Irak (40%)
- Sierra Leone (40%)
- Guinea (39%)
- Republik Demokratik Kongo (38%)
- Palestina (38%)
- Iran (37%)
- Maroko (37%)
Lantas, faktor apa saja yang menyebabkan beberapa negara cenderung lebih mudah marah dibandingkan negara lain?
Negara-negara yang termasuk dalam daftar ini dilaporkan tengah menghadapi tantangan berupa ketidakstabilan politik atau ekonomi, atau tengah berjuang mengatasi dampak dari konflik dan perang.
Republik Demokratik Kongo (DRC) secara konsisten menduduki peringkat sebagai salah satu negara yang paling terdampak konflik. Konflik yang tiada henti telah berkontribusi pada salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan jutaan orang menghadapi pengungsian, kerawanan pangan, dan kesulitan ekonomi yang signifikan.
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada tahun 2025, tercatat rekor 27,7 juta orang di DRC mengalami kelaparan akut. Lebih dari 7,8 juta orang lainnya terpaksa mengungsi di berbagai wilayah di dalam negeri. Peningkatan kekerasan di beberapa area negara tersebut telah mengganggu mata pencaharian warga, memperparah tingkat inflasi, serta membatasi akses terhadap makanan dan bantuan kemanusiaan.
Masyarakat terpaksa mencari perlindungan di kamp-kamp pengungsian sementara, yang kemudian memicu timbulnya wabah penyakit seperti kolera dan campak. Pada tahun 2026, DRC juga dihadapkan pada ancaman wabah Ebola baru di provinsi Ituri dan Kivu Utara yang juga terdampak konflik.
