Peristiwa kekerasan anak di daycare Little Aresha Jogja telah meninggalkan luka mendalam bagi para korban. Kepercayaan orang tua yang telah menitipkan buah hati mereka kini berujung pada kekecewaan, kesedihan, bahkan trauma yang bercampur aduk. Mengutip laporan BBC, setidaknya 53 anak di sana diduga mengalami perlakuan tidak manusiawi, di mana mereka diikat dan dibiarkan terbaring di lantai tanpa pakaian yang memadai.
Belum lagi kesedihan itu mereda, para ibu justru harus menelan komentar-komentar pedas terkait keputusan mereka menitipkan anak di daycare. Banyak warganet yang justru menyalahkan para ibu karena lebih memilih bekerja daripada mengasuh anak mereka sendiri di rumah.
Komentar-komentar negatif tersebut pada akhirnya mengarah pada tindakan victim blaming, yaitu kecenderungan untuk menyalahkan korban atas kejahatan yang mereka alami. Padahal, di balik keputusan menitipkan anak, terdapat realitas yang jauh lebih kompleks.
Kronologi Kasus Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha Jogja
![]() Ilustrasi Anak-Anak Bermain di Daycare/Foto: Freepik.com |
Berdasarkan laporan dari DetikJogja, kekerasan di daycare Little Aresha, Yogyakarta, mulai terkuak pada April 2026. Hal ini terjadi setelah adanya aduan dari seorang mantan pengasuh kepada dinas terkait. Pelapor mengaku telah menyaksikan langsung perlakuan kasar terhadap anak-anak, kemudian ia mengundurkan diri sambil mengumpulkan bukti sebelum akhirnya melaporkan ke pihak berwenang.
Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian dan instansi terkait. Pada hari Jumat, 24 April 2026, aparat Polresta Yogyakarta melakukan penggerebekan di lokasi daycare yang berlokasi di kawasan Umbulharjo.
Saat penggerebekan, polisi menemukan kondisi yang memprihatinkan. Sejumlah anak diduga mengalami perlakuan tidak manusiawi, seperti tangan dan kaki mereka diikat serta ditelantarkan di ruangan yang tidak layak. Dari hasil investigasi awal, diketahui bahwa daycare tersebut menampung sekitar 103 anak, dengan sedikitnya 53 anak terindikasi menjadi korban kekerasan fisik maupun penelantaran.
Polisi kemudian mengamankan sekitar 30 orang dan menetapkan 13 orang sebagai tersangka, meliputi pengurus yayasan, kepala sekolah, dan para pengasuh. Lebih jauh, terungkap bahwa praktik kekerasan ini diduga telah berlangsung lama dan dilakukan secara sistematis, bahkan disebut sebagai metode yang “diturunkan” antar pengasuh.
Munculnya Fenomena Victim Blaming
Merujuk pada sebuah jurnal yang diterbitkan oleh The Canadian Resource Centre for Victims of Crime, victim blaming adalah tindakan meremehkan atau menyalahkan, di mana korban dianggap bertanggung jawab atas kejahatan atau kecelakaan yang menimpa mereka. Kejadian ini sangat lazim terjadi pada kasus yang melibatkan perempuan, seperti kejahatan seksual, atau dalam konteks ini terkait peran ibu dalam pengasuhan anak.
Komentar negatif ramai bermunculan di berbagai unggahan terkait kasus daycare Little Aresha. Di balik pembahasan fakta dan ungkapan simpati, terdapat beberapa akun yang menganggap kejadian ini disebabkan oleh kelalaian ibu dalam merawat anak.
âTren baru ‘ibu-ibu modern’ pada bangga memasukkan anaknya ke daycare sementara dia sibuk bekerja. Saking takutnya miskin, anak rela dititipkan. Ingat, setan itu menakut-nakuti dengan kemiskinan, tujuannya banyak, salah satunya agar kita tidak mengasuh dan mendidik anak,â tulis salah satu pengguna X.
âIbunya pemalas, daycare-nya pemalas, yang jadi korban anaknya,â imbuh warganet lainnya.
Ada Banyak Pertimbangan Seorang Ibu saat Menitipkan Anak di Daycare
Banyak ibu yang menggunakan daycare bukan karena itu pilihan ideal, melainkan karena kondisi yang kompleks seperti tuntutan ekonomi, keterbatasan cuti melahirkan, dan minimnya dukungan pengasuhan. Data dari OECD mengindikasikan bahwa tingginya partisipasi perempuan di dunia kerja tidak selalu diimbangi dengan sistem dukungan keluarga yang memadai, sehingga layanan penitipan anak menjadi sebuah kebutuhan.
Selain itu, laporan UNICEF menegaskan bahwa sebagian besar orang tua sebenarnya lebih memilih mengasuh anak secara langsung, namun keterbatasan waktu, pekerjaan, dan kondisi sosial menjadikan daycare sebagai solusi yang paling realistis.
Dengan kata lain, bagi banyak keluarga, daycare bukanlah wujud kemalasan, melainkan sebuah kebutuhan. Banyak ibu yang terpaksa bekerja, baik karena kebutuhan finansial, tuntutan hidup di kota besar, maupun karena tidak adanya support system seperti keluarga yang bisa membantu.
Dalam situasi seperti ini, menitipkan anak bukan berarti tidak sayang. Justru sebaliknya, ini adalah upaya agar anak tetap mendapatkan perawatan yang layak saat orang tua tidak dapat hadir. Keputusan ini sering kali diambil dengan penuh pertimbangan, bahkan rasa bersalah.
âMenitipkan anak di daycare bukan kejahatan, tentu melalui malam-malam penuh keraguan, tangisan, dan ketidakberdayaan. Jangan mudah berkata, ‘Tega sekali ibu menitipkan anak demi uang, mengejar dunia, dan lain-lain’. Setiap hari para ibu ini hidup dalam kecemasan,â ujar salah satu unggahan yang ditulis warganet di X, terkait kasus daycare Jogja.
Masalahnya Ada di Sistem yang Gagal Melindungi
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mengungkap bahwa kejadian ini merupakan fenomena “gunung es”. Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, memaparkan kepada BBC bahwa lembaganya mendata sekitar 3.000 daycare di Indonesia banyak yang tidak berizin dan tidak terawasi oleh Pemerintah Daerah. Oleh karena itu, diduga kuat kemungkinan terjadinya penganiayaan bahkan kekerasan pada anak.
Kasus dugaan kekerasan ini juga bukan pertama kali terjadi. Diyah Puspitarini mengenang kembali kasus penganiayaan anak yang terjadi di daycare Depok, Jawa Barat. Selain itu, pada tahun 2024, KPAI menemukan dari 118 daycare, hanya 19 yang mengantongi izin.
Stop Salahkan Ibu!
Kasus daycare Little Aresha Jogja seharusnya menjadi momen refleksi bersama. Bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk memahami bahwa setiap orang tua menghadapi realitas yang berbeda.
Tidak semua ibu memiliki pilihan untuk selalu berada di rumah. Tidak semua keluarga memiliki dukungan yang memadai. Tidak semua keputusan dapat dinilai dari luar tanpa memahami konteksnya. Di balik setiap keputusan menitipkan anak, terdapat cerita yang tidak selalu terlihat.
Baca juga: Orang yang Sering Mengingat Momen Memalukan Masa Lalu: Tanda Kepribadian?
Bagaimana menurutmu?

