Skincapedia.com – Literasi keuangan kini telah bertransformasi menjadi salah satu keterampilan hidup paling krusial di era modern. Memahami cara mengelola pendapatan bukan sekadar soal menabung, melainkan tentang bagaimana kita menyisihkan aset untuk masa depan yang lebih sejahtera melalui investasi yang terencana.
Semangat untuk mencerdaskan masyarakat dalam hal finansial terpancar jelas dalam ajang Lampung Financial Festival 2026 yang dihelat di Novotel Bandar Lampung pada 5-6 September 2026. Acara ini menjadi wadah bagi para pakar untuk membagikan Strategi jitu dalam mengelola keuangan dan memilih instrumen investasi yang tepat bagi generasi masa kini.
Waspada Memilih Suku Bunga Bank

Salah satu langkah awal yang krusial sebelum menempatkan dana adalah mengenali kesehatan sebuah bank. Doddy Zulverdi, Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Simpanan dan Resolusi Bank LPS, menekankan pentingnya bagi nasabah untuk bersikap kritis sebelum menyimpan uang di deposito maupun tabungan.
Salah satu indikator utama bank yang sehat adalah suku bunga yang ditawarkan berada pada level wajar. Jika sebuah bank menawarkan bunga yang terlampau tinggi, hal tersebut justru menjadi sinyal risiko atau kondisi keuangan yang kurang stabil. Sebaliknya, bank yang menawarkan bunga kompetitif cenderung memiliki rasio likuiditas yang terjaga dan rasio kredit bermasalah (NPL) yang rendah.
“Kalau adek-adek masuk bank dan ditawarkan bunga tinggi banget, hati-hati. Salah satu indikatornya adalah dengan membandingkan dengan tingkat bunga penjaminan LPS yang saat ini berada di angka 3,75 persen,” ujar Doddy.
Pilihan Instrumen Investasi Aman

Bagi generasi muda atau Gen Z yang baru memulai perjalanan finansial, memilih instrumen yang aman adalah kunci utama. Herman Saheruddin, Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan, merekomendasikan tiga instrumen utama: Surat Berharga Negara (SBN), emas, dan deposito.
SBN menjadi pilihan yang sangat aman karena diterbitkan dan dijamin langsung oleh negara. Indonesia sendiri memiliki predikat investment grade, yang menunjukkan bahwa dunia internasional mengakui stabilitas dan kemampuan negara dalam memenuhi kewajiban utangnya. Selain SBN, emas tetap menjadi primadona sebagai safe haven asset atau pelindung nilai aset dari ketidakpastian ekonomi di masa depan.
Menyeimbangkan Gaya Hidup dan Investasi

Mencapai kebebasan finansial bukan berarti harus hidup menderita, melainkan tentang keseimbangan. Achmad Royadi, Direktur Finance and Strategy PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, mengingatkan pentingnya menekan sifat impulsif saat berbelanja di tengah kemudahan akses digital.
Menurutnya, kemudahan bertransaksi di era digital harus diimbangi dengan kemudahan dalam berinvestasi, menabung, bahkan berasuransi. “Bahkan kalau perlu, alokasikan dana untuk pensiun sejak dini. Prinsipnya adalah kita harus mampu mengatur alokasi pendapatan secara bijak agar masa depan tetap terjaga,” ungkapnya.
Bentengi Diri dari Modus Penipuan

Di balik kemudahan finansial, kita juga harus ekstra waspada terhadap berbagai tawaran investasi yang tidak masuk akal. Anton Sukarna, Direktur Sales and Distribution PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), menegaskan bahwa tidak ada investasi yang menjanjikan keuntungan fantastis dalam waktu singkat dengan risiko minim.
Senada dengan hal tersebut, Hari Mulyana dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memberikan panduan praktis untuk menjaga keamanan rekening dari modus penipuan yang marak di media sosial. Ia menekankan beberapa poin penting dalam menjaga keamanan data pribadi:
- Jangan pernah memberikan kode OTP (One-Time Password) kepada siapa pun, termasuk orang terdekat.
- Jaga kerahasiaan tiga digit angka di balik kartu kredit (CVV).
- Selalu selektif dalam merespons penawaran investasi yang muncul secara tiba-tiba di media sosial.
Mengelola keuangan adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap masa depan diri sendiri. Dengan berbekal pengetahuan yang tepat dan kewaspadaan yang tinggi, setiap orang dapat melangkah lebih percaya diri dalam menata kekayaan dan mencapai kemandirian finansial.
